Sukses

10 Hoaks Terkait Pemilu 2019

Liputan6.com, Jakarta - Berita bohong atau hoaks kian merajalela sepanjang Pemilu 2019, baik semasa kampanye, saat pencoblosan, hasil hitung cepat hingga usai pencoblosan. 

Berita bohong itu pun membuat resah masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengumpulkan sejumlah hoaks yang berkaitan dengan Pemilu 2019

Apa saja daftar hoaks tersebut? Berikut daftar 10 hoaks yang berkaitan dengan Pemilu 2019, sebagaimana dikutip dari siaran pers yang Tekno Liputan6.com terima, Sabtu (20/4/2019). 

1. Foto Kompak Penonton yang Acungkan Salam Dua Jari di Millenial Road Safety Festival

Beredar postingan di media sosial Facebook foto acara Millennial Road Safety Festival yang diadakan oleh Polresta Serang di alun-alun Barat Kota Serang, dalam foto tersebut para penonton mengangkat tangan dan berpose dua jari. Faktanya Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Kombes.

Hoaks Foto Kompak Penonton yang Acungkan Salam Dua Jari di Millenial Road Safety Festival. Dok: Kemkominfo

Pol Wibowo menegaskan kegiatan Millennial Road Safety Festival tidak ada kaitannya dengan politik, baik pileg maupun pilpres. Program tersebut dilaksanakan dalam rangka mengkampanyekan dan mensosialisasikan keselamatan berlalu lintas khususnya kepada generasi millenial dan masyarakat pada umumnya. Kombes.

Pol Wibowo mengatakan "Saya sudah sudah lihat foto yang tersebar di medsos itu dan saya menduga itu foto hasil rekayasa. Apalagi panggung kegiatan yang digelar Polres Serang Kota pada acara MRSF tidak sama dengan foto tersebut.

2. Perhitungan hasil Quick Count di Metro TV Prabowo menang

Telah beredar postingan di media sosial dan pesan berantai yang menampilkan tayangan hasil Quick Count hasil Pemilihan Umum 17 April 2019 pada laman berita Metro TV. Disebutkan bahwa data yang ditampilkan pada tayangan Metro TV hasilnya memperlihatkan bahwa suara terbanyak ada pada Pasangan Calon nomor urut 02, yaitu Pasangan Prabowo-Sandi.

Hoaks Perhitungan Hasil Quick Count di Metro TV Prabowo Menang. Dok: Kemkominfo

Terkait hal tersebut, pihak Metro TV sudah memberikan klarifikasinya melalui web dan akun Instagram resminya. Pihak Metro TV menyatakan bahwa terjadi kesalahan teknis dalam penayangan grafis data hasil sementara penghitungan cepat Pilpres 2019 pada pukul 15.12 WIB.

Dalam tayangan tersebut terdapat perbedaan data grafis dengan election ticker yang muncul di layar.

 

2 dari 5 halaman

3. Mereka Bukan Lembaga Survei Tapi Timses Jokowi

Telah Beredar sebuah postingan Photo di media sosial tentang beberapa lembaga survei setelah PEMILU 2019 kemarin, karena dianggap berpihak kepada salah satu Capres dalam narasinya mengatakan "Mereka bukan lembaga survei tapi timses Jokowi, Pendukung Prabowo di harap tenang".

Faktanya, Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU sudah mengumumkan bahwa pada pemilu 2019 ini sudah ada 40 lembaga survey yang terverifikasi, yang bisa dijadikan acuan masyarakat melihat hasil quick count, karena lembaga survei tersebut tidak berpihak kepada Capres manapun.

40 lembaga survey yang terverifikasi tersebut salah satunya adalah Penelitian dan Pengembangan Kompas, Indo Barometer, Charta Politika Indonesia, Poltracking Indonesia.jadi 4 lembaga survei yang ada dalam postingan tersebut adalah termasuk lembaga survei yang terverifikasi dan bukan Timses Jokowi.

4. Di Bekasi Ada 6.000 TPS dan Prabowo Menang

Sebuah akun Twitter @m_mirah, atas nama Mirah Sumirat menulis bahwa Prabowo-Sandi menang telak di Bekasi. Melalui cuitan yang diunggah pada 17 April 2019, ia menyampaikan kemenangan telak Prabowo-Sandi di Bekasi. “Hasil laporan anggota di berbagai wilayah Kota Bekasi jumlah TPS ada lebih dari 6000 an dan hampir lebih dari 70% pasangan 02 menang per tanggal 17 april 2019 pukul. 15.00wib,” begitu ia tulis di akun Twitternya.

Hoaks di Bekasi Ada 6.000 TPS dan Prabowo Menang. Dok: Kemkominfo

Menurut penelusuran, yang disampaikan oleh akun @m_mirah itu mengandung informasi yang keliru. Ia mengatakan, jumlah TPS di Bekasi ada lebih dari 6.000-an, tapi faktanya, dilansir dari akun resmi KPUD Kota Bekasi, total jumlah TPS di Bekasi hanya 3.030 TPS bukan 6.000 TPS.

 

 

3 dari 5 halaman

5. Surat Suara di Surabaya Sudah Tercoblos untuk Paslon 01

Beredar video mengenai surat suara untuk 01 sudah tercoblos di Kalimas 1 Madya Pabean Cantian Surabaya. Video berdurasi hampir satu menit itu menampilkan petugas KPPS yang mengatakan bahwa sejumlah surat suara telah tercoblos untuk pasangan nomor urut 1, Jokowi-Ma’ruf Amin.

Adapun faktanya, dilansir dari detiknews.com surat suara yang disebut bukan tercoblos melainkan rusak. Hasanudin sebagai Panwas Kelurahan Nyamplungan menjelaskan, "Ada lima lembar surat suara untuk pilpres yang rusak tapi ini sudah clear oleh saya sebagai panwas dan dibantu oleh pengawas TPS. Saksi yang hadir anggota KPPS dan PPK mengklarifikasi membuktikan bahwa surat suara tersebut memang rusak".

6. Sandiaga Uno diusir Prabowo karena tak setuju deklarasi

Ketidakhadiran Sandiaga Uno pada konferensi pers kedua dan deklarasi kemenangan yang digelar Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 17 April 2019 rupanya menyisakan banyak pertanyaan. Beberapa isu dihembuskan bahwa Sandiaga Uno diusir oleh Prabowo lantaran tidak setuju dengan adanya deklarasi kemenangan. Tim Sandiaga, Yuga Aden Penuturan menuturkan bahwa ketidakhadiran Sandiaga Uno adalah lantaran Sandi dalam keadaan sakit.

Hoaks Sandiaga Uno diusir Prabowo karena tak setuju deklarasi. Dok: Kemkominfo

Yuga menuturkan, Sandiaga sudah mengalami penurunan kondisi kesehatan ketika mengisi kegiatan di Media Center Jl Sriwijaya, Jaksel. Hingga kini, tubuh Sandiaga disebutkan masih sakit.

7. "Quick Count" Disebut Bentuk Kecurangan Hasil Pemilu

Beredar postingan di twitter dengan akun @greenblackcyber membuat kicauan yang menginformasikan cara kerja hasil hitung cepat. Dalam twitnya, pemilik akun mengungkapkan bahwa lembaga survei sengaja memenangkan salah satu pasang calon presiden dan calon wakil presiden untuk mengalihkan perhatian publik dan memancing emosi paslon lainnya.

Hoaks Quick Count Disebut Bentuk Kecurangan Hasil Pemilu. Dok: Kemkominfo

Hal itu bertujuan untuk membuat kecurangan pada hasil Pemilu. Berdasarkan penelusuran, hasil quick count yang dilakukan oleh lembaga survei hanya menggunakan sejumlah suara dari beberapa tempat pemungutan suara (TPS) sebagai sampel.

Sementara, hasil real count yang dilakukan oleh KPU menggunakan seluruh suara yang terkumpul dari semua TPS se-Indonesia. Ketua KPU RI Arief Budiman mengatakan, hasil quick count bukan hasil resmi pemilu. Oleh karena itu, lembaga survei harus mengumumkan dengan jelas persentase sampel yang sudah diambil dari angka yang dimunculkan tersebut.

 

4 dari 5 halaman

8. Hasil Exit Poll TPS2 Di Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand Menang Mutlak Prabowo-Sandi

Hasil Exit Poll TPS2 di Luar Negeri menunjukan kemenangan mutlak 02 Di Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand.Buat grup WA di setiap jenjang penjumlahan C1 dari kecamatan sampai KPU Daerah, merekap bersama hingga hasil penjumlahan dapat diketahui hari itu juga, untuk menjaga kesesuaian hasil di TPS dengan rekapitulasi akhir oleh KPU.

Adapun hasil exit poll itu disebut berasal dari hasil pemilu di Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Jerman, Amerika Serikat, dan Iran.Dilansir dari Tribunnews.com, Komisi Pemilihan Umum ( KPU) menjelaskan bahwa pihaknya tidak mengatur regulasi mengenai exit poll hasil pemilu luar negeri.

Dengan demikian, hasil exit poll yang dicantumkan dalam akun Twitter itu tidak memiliki dasar, baik secara regulasi maupun kelembagaan yang melakukannya.hasil exit poll tersebut, baik secara positif maupun negatif. Hasil exit poll tersebut belum dipastikan kebenarannya, sebab exit poll menunjukkan hasil berbeda.

Satu hasil exit poll memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf, lainnya memenangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

9. Amien Rais Tak Percaya Konstitusi, Provokasi Upaya Mendelegitimasi KPU

Telah beredar postingan di media sosial facebook tentang Amien tak percaya Mahkamah Konstitusi. Ali menyatakan “ini bentuk provokasi yang nyata dan upaya mendelegitimasi KPU secara sistematis. Sangat disayangkan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh seorang tokoh reformasi bangsa. Pernyataan itu seakan menarik mundur kembali bangunan demokrasi.

Hoaks Amien Rais Tak Percaya Konstitusi, Provokasi Upaya Mendelegitimasi KPU. Dok: Kemkominfo

Faktanya berita itu salah. Amien Rais membantah tuduhan kepada kubunya terkait adanya upaya mendelegitimasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penanggung jawab pemilu."Kami seringkali dituduh melakukan upaya mendelegitimasi KPU.

Sesungguhnya kita justru mengupayakan agar pemilunya legitimate," kata Amien dalam diskusi soal daftar pemilih tetap (DPT) di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (9/4/2019).

 

5 dari 5 halaman

10. Syekh Ali Jaber Dukung Jokowi

Beredar sebuah postingan di media sosial facebook sebuah foto Syekh Ali Jaber bersama Joko Widodo. Dalam postingan foto tersebut dengan narasi setelah Abdul Somad, Syekh Ali Jaber dukung Jokowi. Faktanya Syekh Ali jaber menyesalkan fotonya bersama Presiden Joko Widodo dijadikan bahan hoax.

Syekh Ali jaber membenarkan sempat berfoto bersama dengan jokowi pada acara maulid di Palembang pada 24 November 2018.Syekh Ali Jaber memberikan klarifikasi lewat akun instagramnya yang sudah terverifikasi, beliau mengunggah tangkapan layar suatu situs yang menampilkan fotonya bersama Jokowi.

Syekh Ali Jaber mengatakan bahwa beliau berfoto dengan Jokowi tidak sendirian, melainkan bersama orang tua angkatnya, KMS H Abdul Halim Ali.Syekh Ali Jaber juga menjelaskan bahwa dirinya berfoto bersama Presiden RI, bukan foto bersama capres 2019, untuk Pilpres 2019.

(Isk/Jek)

Loading
Artikel Selanjutnya
Karangan Bunga Berdatangan ke Kantor KPU
Artikel Selanjutnya
Potensi Pencoblosan Suara Ulang 12 TPS di Manado