Sukses

Sidang Perdana, Putri Pendiri Huawei Dituduh Lakukan Penipuan

Liputan6.com, Jakarta - Putri pendiri Huawei, Meng Wanzhou, menghadiri sidang pada Jumat (7/12/2018), usai ditangkap di Vancouver, Kanada, pada Sabtu (1/12/2018).

Berdasarkan perdebatan di persidangan, Wanzhou disebut telah melakukan penipuan, tapi belum ada keputusan soal ekstradisi ke Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari The Guardian, Sabtu (8/12/2018), jaksa penuntut, John Gibb-Carsley, menyebutkan Wanzhou terlibat dalam konspirasi untuk menipu beberapa lembaga keuangan pada 2013.

Ketika itu, ia disebut berusaha meyakinkan sejumlah bankir bahwa Huawei dan mantan anak perusahannya di Hong Kong, Skycom, adalah entitas yang sepenuhnya terpisah.

"Meng secara pribadi mengatakan kepada bank-bank itu, Skycom dan Huawei terpisah. Padahal faktanya mereka tidak terpisah. Skycom saat itu adalah Huawei," ungkap Gibb-Carsley.

2 dari 4 halaman

Hindari Bepergian ke AS Saat Huawei Diperiksa

Salah satu toko resmi Huawei di Beijing, China (AP/Mark Schiefelbein)

Para karyawan Skycom menggunakan alamat email Huawei, dan catatan bank menghubungkan kedua perusahaan.

Skycom dahulu terlibat dalam kesepakatan bisnis dengan negara-negara yang terkena sanksi AS, termasuk dengan perusahaan telekomunikasi Iran. Pelanggaran sanksi ini diduga terjadi antara 2009 dan 2014.

Selain itu, jaksa juga menyinggung soal absennya Wanzhou bertandang ke AS, yang sekaligus merupakan tempat putranya bersekolah. Hal ini pun disebut sebagai bukti ia menghindari proses penyelidikan.

Menurut laporan The Verge, Gibb-Carsley mengatakan, Wanzhou kerap terbang ke AS karena putranya bersekolah di Boston. Namun, ia tidak lagi pernah ke AS sejak Maret 2017, menyiratkan Wanzhou mulai menghindari bepergian ke AS setelah Huawei diperiksa oleh Departemen Kehakiman setempat.

Sejumlah eksekutif Huawei masih terus mengunjungi AS setelah proses penyelidikan dimulai, dan hal ini kian mengindikasikan bahwa posisi Meng berbeda dengan mereka.

3 dari 4 halaman

Uang Jaminan

Di ruang sidang yang disebut penuh sesak, Gibb-Carsley berpendapat sumber daya keuangan keluarga Meng yang besar memberinya cukup insentif untuk melarikan diri jika diberikan jaminan.

Pengacara Meng, David Martin, mengatakan kekayaan tidak bisa menjadi larangan untuk jaminan. "Seseorang dengan kekayaan luar biasa dapat dibebaskan dari tahanan di negara besar kami," tuturnya.

Martin juga menyebutkan masalah kesehatan Wanzhou, tekanan darah tinggi dan gangguan sleep apnea, sebagai alasan membebaskannya dengan uang jaminan.

Martin pun berusaha memggambarkan Wanzhou sebagai seorang pengusaha wanita sukses dan punya komitmen. Ia pun dinilai berusaha menjaga cita perusahaan yang didirikan ayahnya, Ren Zhengfei.

Ia pun menjamin kliennya tidak akan melanggar perintah pengadilan. "Dia tidak akan mempermalukan Tiongkok," ujar Martin. Saat ini, suami dan putri Wanzhou sedang berada di Vancouver.

Tim kuasa hukum Wanzhou juga menjelaskan Skycom memang dahulu adalan anak perusahaan Huawei, tapi kemudian divestasi.

Setelahnya, Wanzhou melepas kursi dewan direksi di Skycom. Mereka juga berpendapat sanksi Iran sangat kompleks dan penjualan peralatan telekomunikasi sipil milik SKycom kemungkinan tidak melanggar aturan apa pun.

Belum ada keputusan dari sidang ini. Sidang lanjutan akan digelar pada Senin (10/12/2018).

Wanzhou ditangkap di Kanada saat tengah melakukan perjalanan ke Meksiko. Insiden ini kian menambah permasalahan dalam perang dagang antara AS dan Tiongkok. Di sisi lain, Kanada kini berada di tengah masalah tersebut.

4 dari 4 halaman

Posisi Kanada

Kasus ini dinilai membuat Kanada berada di posisi sulit. Kanada merupakan tetangga sekaligus mitra dagang terbesar AS, tapi di sisi lain hubungannya dengan Tiongkok akan ikut terancam.

Kecemasan Kanada terkait masalah ini pun bukan tanpa alasan. Permintaan ekstradisi tokoh penting yang dilakukan Kanada pernah membuat hubungannya memburuk dengan Tiongkok.

Penduduk Bristih Columbia sekaligus warganegara Tiongkok, Su Bin, ditangkap oleh otoritas Kanada pada 2014, dengan tuduuhan telah mencuri rencana jet tempur Amerika Serikat (AS). Ia pun mengaku bersalah.

Tak lama setelah penangkapan Bin, dua orang Kanada, Kevin dan Julian Garret, yang mengelola kedai kopi di Dandong, Tiongkok, ditangkap oleh oleh otoritas setempat. Kevin Garrett dituduh melakukan spionase dan mendekam selama dua tahun di penjara.

"Tiongkok bermain kasar. Kita harus waspada dan perlu menyadari bahwa kita memasuki periode yang sangat sulit dengan Tiongkok," kata mantan duta besar Kanada untuk Tiongkok, David Mulroney.

(Din/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Presiden Turki Erdogan Buang Surat Peringatan dari Donald Trump
Artikel Selanjutnya
Di Tengah Ketegangan Negara, 2 WN Amerika Ditahan di China