Sukses

4,5 Miliar Data Dicuri Selama 6 Bulan Pertama 2018

Liputan6.com, Jakarta - Ada angka mencengangkan terkait dengan jumlah data yang diretas selama enam bulan pertama 2018. Berdasarkan laporan dari perusahaan keamananGemalto, ada 4,5 miliar data telah dicuri selama paruh pertama 2018.

Jumlah data yang dicuri meningkat 113 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Sebagaimana dikutip Tekno Liputan6.com dari Softpedia, Jumat (12/10/2018), meskipun ada peningkatan dalam jumlah besar terkait dengan jumlah data yang diretas, sebenarnya jumlah kasusnya mengalami penurunan.

Pada 2018, jumlah kasus pencurian data sebanyak 945 kasus. Sementara, pada 2017 kasus pencurian data mencapai 1.162 kasus.

Gemalto melaporkan, jumlah data yang dibobol per harinya mencapai 6,9 juta data. Hal ini berdasarkan laporan pencurian data sejak 2013 hingga 2018 yang jumlahnya sebanyak 14,6 miliar.

Hal yang menyedihkan, hanya 4 persen dari jumlah tersebut yang dilindungi enkripsi oleh pemiliknya.

Jika dihitung secara statistik, jumlah data yang hilang paling banyak berasal dari perusahaan media sosial sebanyak 56,11 persen diikuti dengan data milik instansi pemerintah dengan persentasi 26,62 persen dari keseluruhan data yang dibobol.

2 dari 3 halaman

Penyebab Kebocoran Data

Terkait penyebab bocornya data, 56,08 persen dari data yang dibobol ditengarai gara-gara malware dari pihak luar. Kasus serangan malware dari pihak luar pun meningkat hingga 1.000 persen dengan angka 3,6 miliar data dicuri.

Sementara, data yang bocor gara-gara insiden tak disengaja oleh orang dalam perusahaan mencapai 33,6 persen. Dari persentase ini, jumlah data yang hilang mencapai 900 juta data.

Gemalto mengklasifikasi, tipe pelanggaran data yang ada, antara lain adalah pencurian data (64,55 persen), akses akun (17,47 persen), akses finansial (13,02 persen), berbagai gangguan, hingga data eksistensial.

3 dari 3 halaman

Kasus Kebocoran Data Pengguna Google Plus

Bicara kebocoran data, baru-baru ini Google mengumumkan hal mengejutkan, yakni menutup Google Plus. 

Alasannya tak lain karena perusahaan baru saja mengungkap kalau Google+ kebocoran ratusan ribu data pribadi penggunanya.

Dilansir Reuters, penyebab kebocoran data pengguna ditengarai berasal dari sebuah bug API di dalam platform, yang bisa memberikan akses kepada pengembang aplikasi pihak ketiga untuk mengakses profil dan data pribadi pengguna Google+.

Google sendiri mengklaim kalau sampai detik ini belum ada pengembang yang berani mengakses data pengguna dari bug tersebut.

Dalam blog resmi terbaru Google, perusahaan mengungkap berapa banyak data pengguna yang bocor.

Ada sekitar 500.000 akun pengguna yang datanya bocor, sedangkan ada 438 aplikasi pihak ketiga yang kemungkinan bisa saja mengakses data pribadi pengguna dari bug tersebut.

Adapun data yang bocor meliputi nama pengguna, alamat email, pekerjaan, jenis kelamin, dan usia.

"Kami belum menemukan bukti kalau ada pengembang yang sudah sadar akan bug ini, atau menyalahgunakan API. Kami juga belum menemukan ada satu data pun yang disalahgunakan,"ujar VP Engineering Google Ben Smith.

Google sendiri mengakui kalau bug tersebut sebetulnya sudah ditambal sejak Maret 2018.

Tidak dapat dipastikan apakah Google+ bakal 'hidup' kembali atau benar-benar dimatikan secara permanen.

Alih-alih demikian, Google nantinya dikabarkan bakal merombak izin akun untuk memungkinkan pengguna memilih data yang ingin dibagikan kepada aplikasi pihak ketiga.

Tak cuma itu, Google juga akan membatasi kemampuan aplikasi pihak ketiga untuk bisa mengakses data penggunanya.

(Tin/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
FBI Tutup Situs Web Penjual Miliaran Data Pribadi Pengguna
Artikel Selanjutnya
Google Hapus Avast dan AVG dari Chrome Web Store, Kenapa?