Sukses

Kecanduan Gim Masuk dalam Masalah Kesehatan Mental

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi kesehatan dunia (WHO) kini menggolongkan kecanduan gim sebagai masalah mental. Hal ini diumumkan Senin 18 Juni 2018, bersamaan dengan pengumuman edisi terbaru panduan klasifikasi masalah mental menurut WHO.

Sebagaimana dikutip Tekno Liputan6.com dari The New York Post, Rabu (20/6/2018), WHO mengklasifikasikan, gaming disorder (kecanduan gim) memiliki tiga karakteristik utama.

Menurut para ahli, kecanduan gim serupa dengan gangguan penggunaan zat terlarang dan perjudian.

"Salah satunya, perilaku penderita yang lebih mengutamakan gim dibandingkan kegiatan lainnya," ujar Dr Vladimir Poznyak dari Departemen Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Zat WHO.

Sementara, dua karakteristik lainnya adalah ketidakmampuan mengontrol diri atas gim serta tetap main gim meskipun tahu ada konsekuensi negatif yang disebabkan karena kebanyakan main gim. Misalnya saja pola tidur yang terganggu, masalah pencernaan, dan kekurangan aktivitas fisik.

WHO pun tidak serta merta menggolongkan kecanduan gim sebagai masalah mental. Lembaga kesehatan dunia di bawah naungan PBB ini telah meneliti perilaku pecandu gim setidaknya 12 bulan sebelum menentukannya sebagai masalah kesehatan mental.

"Keputusan ini tidak diambil dalam beberapa jam atau beberapa hari," kata Poznyak menegaskan.

Kendati demikian, Poznyak menyebut kecanduan gim hanya terjadi pada segelintir orang.

2 dari 3 halaman

Pro Kontra Keputusan WHO

Keputusan WHO menggolongkan kecanduan gim ke dalam masalah mental pun mendapat sambutan dari Hilarie Cash, Pendiri reSTART. reSTART merupakan program rawat inap pertama di AS yang menangani pecandu video gim.

"Saya terkejut karena perlu lama bagi banyak orang mengetahui fakta ini. Saya juga mengerti, mereka (WHO) harus memiliki bukti kuat yang didasari penelitian sebelum menentukan jenis gangguan mental baru," kata Cash.

Kendati begitu, tidak semua pakar kesehatan yakin, mengkarakterisasi waktu bermain di depan layar merupakan sebuah gangguan. Beberapa di antaranya mengingatkan, hal ini bisa menyebabkan kekhawatiran yang tidak perlu bagi orangtua.

"Orang harus memahami, tidak semua anak yang menghabiskan berjam-jam di depan layar merupakan seorang pecandu. Kalau tidak, ruang medis bakal dipenuhi banyak orangtua yang meminta bantuan," ujar juru bicara British Psychological Society Joan Harvey.

Sekadar diketahui, kecanduan gim belum diakui sebagai masalah kesehatan mental oleh American Psychiatric Association (APA). Sebelumnya, APA menyebut diperlukan banyak penelitian dan uji klinis sebelum mempertimbangkan kecanduan gim sebagai masalah kesehatan mental.

3 dari 3 halaman

Berdasarkan Dokter dan Ahli Kesehatan Dunia

Kecanduan gim masuk dalam revisi terbaru panduan klasifikasi masalah mental menurut WHO (International Classification of Diseases).

IDC dikeluarkan oleh para dokter dan profesional di bidang kesehatan sebagai standar diagnostik sekaligus untuk menjamin asuransi mau mengkovernya.

Kecanduan gim dianggap sebagai masalah mental tepat setelah seorang gadis berusia 9 tahun di Inggris dikirim ke pusat rehabilitasi lantaran kecanduan gim Fortnite.

"Dia dalam terapi karena kecanduan gim, menarik diri dari pergaulan, gelisah, dan bermain hingga 10 jam sehari, kadang tidak tidur dan tidak meninggalkan layar," tutur sang ibu.

(Tin/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
FIFA 19 Rilis 28 September, Siap Berlaga di PS4 dan Xbox One
Artikel Selanjutnya
WHO Nyatakan Kecanduan Game sebagai Penyakit