Sukses

Dandan Menor, Wanita Ini Gagal Kerja di Perusahaan Teknologi

Liputan6.com, Jakarta - Seorang wanita melalui laman Facebook pribadinya bercerita bahwa ia baru saja gagal mendapatkan pekerjaan sebagai insinyur teknis di perusahaan startup teknologi berbasis di Clevland karena permasalahan sepele.

Ya, Elizabeth Bentivegna mengatakan bahwa dirinya ditolak bekerja di perusaan bernama OnShift karena berdandan terlalu berlebihan saat interview. Pihak perusahaan yang melakukan interview pun mengatakan bahwa dirinya mengenakan makeup terlalu tebal.

"Saya begitu marah sampai-sampai tak bisa berbicara. Saya ditolak bekerja dengan alasan, saat interview saya disebutkan 'berdandan seperti hendak clubbing'," tulis Elizabeth dalam posting-nya seperti yang dikutip dari laman Business Insider, Jumat (17/4/2015).

"Saya sudah mengatakan kepada orang yang meng-interview, bahwa lebih baik menilai saya dari keahlian teknis yang saya miliki. Namun justru ia malah mengatakan bahwa saya 'tidak terlihat cukup profesional'," lanjutnya lagi.

Kabar ini tersebar luas setelah seorang pengguna Twitter dengan akun @AlannaBennet menyebarluaskan posting-an Elizabeth itu.

Hal ini menyulut berbagai reaksi negatif dari netizen. Selama ini perusahaan teknologi memang dinilai melakukan diskriminasi terhadap pekerja wanita.

Sebuah data terbaru yang dirilis firma hukum Fenwick & West LLP, memperlihatkan bagaimana pekerja wanita hanya mengisi 11% posisi eksekutif di perusahaan-perusahaan teknologi yang ada di Silicon Valley.

Sejumlah perusahaan raksasa teknologi sendiri perlahan memang kian mempercayai sosok wanita sebagai pekerja atau bahkan mengisi posisi petinggi perusahaannya. Namun sayang jumlahnya belum banyak.

Apple dilaporkan laman Re/code menjelang akhir tahun 2014 kemarin merilis data keragaman pekerja di perusahaan. Di dalam data tersebut tercatat bahwa komposisi gender pekerja di Apple terdiri dari 70% pria dan 30% wanita.

Selain Apple, sebelumnya Yahoo, Google dan Facebook pun mengungkapkan data keragaman pekerja, dan hasilnya masih sama-sama masih mengecewakan. Di Facebook contohnya, 69% pekerja di media sosial milik Mark Zuckerberg itu adalah pria, sementara wanita hanya 31%.

Chieft Operating Officer (COO) Facebook, Sherryl Sandberg, pernah berkomentar kepada USA Today bahwa kurangnya keragaman dalam perusahaan teknologi yang selama ini didominasi laki-laki cukup menyedihkan.

(dhi/dew)