Liputan6.com, Jakarta - Peluncuran buku 'TATAH: Suluk, Sulur, dan Jepara – Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir' menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Jepara tidak hanya sebagai sentra industri mebel, tetapi juga sebagai pusat peradaban seni ukir yang memiliki sejarah panjang, nilai budaya tinggi, dan potensi mendunia.
Buku tersebut diharapkan dapat memperkaya literasi sekaligus membuka ruang diskusi baru mengenai pelestarian dan pengembangan seni ukir sebagai identitas budaya bangsa.
Peluncuran sekaligus bedah buku berlangsung di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (10/7), sebagai bagian dari rangkaian pameran TATAH yang digelar hingga 2 Agustus.
Advertisement
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan seni ukir Jepara merupakan warisan budaya yang memiliki nilai artistik sekaligus potensi ekonomi kreatif yang besar. Menurutnya, karya para pengukir Jepara telah dikenal luas hingga mancanegara dan menjadi bagian dari industri kreatif global.
"Seni ukir Jepara tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merupakan pencapaian artistik yang tinggi sebagai ekspresi budaya Indonesia," ujarnya.
Fadli menilai kehadiran buku Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir menjadi langkah strategis untuk memperkuat literasi mengenai sejarah dan perkembangan seni ukir Jepara. Menurutnya, buku tersebut tidak sekadar mendokumentasikan perjalanan seni ukir, tetapi juga menawarkan perspektif baru mengenai masa depan Jepara sebagai pusat seni ukir dunia.
Ia mengingatkan jumlah generasi muda yang menekuni seni ukir terus menurun sehingga diperlukan langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut. Karena itu, Kementerian Kebudayaan mendorong berbagai program pelestarian, seperti pelatihan bersama maestro, pengembangan sekolah dan lokakarya ukir, serta peningkatan kapasitas generasi muda agar keterampilan tersebut tetap diwariskan.
"Buku ini menjadi ikhtiar intelektual untuk merekam perjalanan sejarah seni ukir Jepara sekaligus memperkuat upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatannya," kata Fadli.
Ia juga menegaskan pemerintah akan terus mengupayakan pengakuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, sekaligus memperkuat mekanisme perlindungan (safeguarding) agar tradisi tersebut tetap lestari.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyebut peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah seni ukir kepada generasi muda agar tidak kehilangan identitas budaya daerah.
Ia mengungkapkan antusiasme masyarakat terhadap pameran TATAH cukup tinggi. Hingga awal Juli 2026, pameran tersebut telah dikunjungi lebih dari 53 ribu orang, menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap seni ukir Jepara.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengemas seni ukir agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan menarik bagi generasi muda.
"Kami berharap melalui buku ini anak-anak muda semakin memahami sejarah seni ukir Jepara sehingga tradisi ini terus hidup dan berkembang," ujarnya.
Salah satu penulis buku, Arif Akhyat, menjelaskan buku tersebut menawarkan pendekatan baru dalam membaca sejarah Jepara. Menurutnya, seni ukir tidak hanya dipahami sebagai karya estetika, tetapi juga sebagai hasil perjalanan sejarah, dinamika sosial, hubungan perdagangan, serta strategi budaya yang membentuk identitas Jepara selama berabad-abad.
Ia mengatakan rekonstruksi sejarah dilakukan melalui kajian artefak, arsip, serta berbagai peninggalan budaya yang selama ini belum banyak dikaji dalam historiografi nasional.
"Buku ini mengajak masyarakat melihat seni ukir sebagai bagian dari sejarah, budaya, dan identitas Jepara yang terus berkembang," ujarnya.
Direktur TATAH Veronica Rompies mengatakan buku tersebut bukan akhir dari upaya memahami Jepara, melainkan titik awal lahirnya diskusi yang lebih luas mengenai seni ukir, sejarah, dan kehidupan para pengukir.
Ia berharap berbagai gagasan yang lahir dari buku tersebut dan forum diskusi dapat berkembang menjadi riset, kebijakan, maupun langkah konkret untuk memperkuat ekosistem seni ukir Jepara.
Menurut Veronica, perhatian tidak hanya perlu diberikan pada karya ukirnya, tetapi juga kepada para pengukir sebagai penjaga pengetahuan dan tradisi yang telah menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.
Melalui peluncuran buku, diskusi ilmiah, dan penyelenggaraan pameran TATAH, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa seni ukir Jepara bukan sekadar produk budaya atau komoditas ekonomi kreatif, melainkan identitas bangsa yang harus terus dilestarikan, dikembangkan, dan dipromosikan di tingkat internasional sebagai salah satu kekuatan budaya Indonesia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4866719/original/017032400_1718697583-Pajak1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497481/original/095565600_1770631238-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T163415.626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292724/original/032902100_1783654519-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T102917.054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293473/original/005521500_1783722317-WhatsApp_Image_2026-07-10_at_19.37.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293456/original/054507100_1783717417-000_B9W36UY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293465/original/017817900_1783718956-063_2285562554.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293455/original/048931800_1783717383-000_B9W36VN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110960/original/024723100_1783047145-sp7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289078/original/032461700_1783391107-bel11.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291435/original/001786200_1783562166-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292618/original/088093700_1783634462-000_B9T74UT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264044/original/048184800_1782061399-063_2282635876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261560/original/020942400_1781744954-AP26168812020257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289370/original/055592900_1783402351-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288023/original/079773500_1783266166-IMG_20260705_212458.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8320049/original/050227700_1782188445-IMG-20260622-WA0265.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256695/original/031268600_1781164487-karnaval_sctv.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8255928/original/081352700_1781130147-IMG_20260610_103537.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5189923/original/005208500_1744810715-673_x_373_rev__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7921972/original/008525400_1780754421-IMG_20260605_195921.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7824304/original/068308300_1780643519-IMG-20260512-WA0018_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7475489/original/024956500_1780248325-IMG-20260531-WA0135.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7095499/original/094740000_1779877219-IMG-20260527-WA0108.jpg)