Liputan6.com, Jakarta - Alunan gamelan, keroncong, dan campursari pernah dianggap musik kampung yang hanya hidup di pinggir desa. Namun suara itu kini menggema di konser besar, platform streaming, bahkan panggung internasional. Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Di baliknya ada sosok-sosok yang berani membawa warna daerah masuk ke ruang yang lebih luas.
Sebagian dari mereka memulai karier sebagai pengamen jalanan. Sebagian lain lahir dari keluarga seniman dan tumbuh di tengah tarian serta tembang Jawa. Ada pula yang memadukan gamelan dengan musik elektronik lewat kanal YouTube. Jalan mereka berbeda-beda, tetapi tujuannya sama: membuat musik daerah didengar oleh generasi yang lebih muda dan lebih luas.
Artikel ini akan membahas sebelas musisi yang berperan penting dalam mengangkat musik daerah ke panggung nasional, dari generasi maestro keroncong hingga kreator musik digital masa kini yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (16/10/2026). Berikut profil singkat mereka beserta jejak karya yang membuat musik daerah tetap hidup hingga sekarang.
Advertisement
Didi Kempot
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2917177/original/033475700_1568969131-ibunda_presiden_jokowi_didi_kempot-4.jpg)
Julukan "The Godfather of Broken Heart" melekat pada Didi Kempot berkat lagu-lagu patah hati berbahasa Jawa yang ia nyanyikan sejak memulai karier sebagai musisi jalanan di Surakarta pada 1984. Ia memadukan keroncong, dangdut, dan pop menjadi warna campursari yang khas. Lewat lagu "Stasiun Balapan" dan "Sewu Kutho", campursari menembus panggung nasional hingga konser di Belanda dan Suriname, dan makin dikenang oleh generasi muda setelah ia wafat pada 2020.
Advertisement
Vicky Sianipar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375215/original/076899400_1792135198-SnapInsta.to_706890798_18598071094056414_1079294339976245502_n.jpg)
Lahir dan besar di Jakarta, Vicky Sianipar justru sempat jauh dari identitas Batak sebelum akhirnya mendalami musik leluhurnya sendiri. Setelah menempuh pendidikan piano klasik dan jazz, ia mulai memadukan instrumen Batak Toba dengan keyboard dan gitar modern. Album "Toba Dream" pada 2002 menjadi titik awal yang membawanya tampil di berbagai festival Eropa, sekaligus memperkenalkan musik Batak ke telinga pendengar nasional.
Guruh Soekarnoputra
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/690981/original/Guruh%20Soekarnoputra.jpg)
Putra bungsu Presiden Soekarno ini memang terkenal akan bakat seni dan musiknya. Guruh sudah mendalami dunia tari dan musik sejak kecil, lalu mendirikan kelompok seni Swara Mahardhika pada 1977 yang menggabungkan musik, tari, dan pertunjukan berskala besar. Albumnya, Guruh Gipsy, memadukan musik modern dengan gamelan Bali. Lagu ciptaannya seperti "Kala Sang Surya Tenggelam" tetap dikenang hingga ia wafat pada September 2026.
Advertisement
Waldjinah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1004536/original/034838400_1443542613-waldjinah-3.jpg)
Dijuluki "Ratu Keroncong", Waldjinah sudah menunjukkan bakat vokalnya sejak usia 12 tahun ketika memenangkan Ratu Kembang Katjang, sebuah kompetisi keroncong bergengsi di Solo. Lahir pada 1945, ia kemudian dikenal luas lewat lagu "Walang Kekek" yang dirilis pada 1969 dan membawanya tampil hingga ke Suriname. Selain bernyanyi, ia kerap tampil sebagai sinden pengiring wayang dan hingga kini masih memberi kursus keroncong gratis bagi generasi muda.
Gesang Martohartono
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369901/original/011657400_1791539393-ges.jpg)
"Bengawan Solo" adalah lagu yang mengubah hidup Gesang Martohartono. Diciptakan pada 1940 ketika ia baru berusia 23 tahun dan tanpa bisa membaca notasi musik, lagu keroncong ini kemudian diterjemahkan ke dalam 13 bahasa dan begitu populer di Jepang hingga sebuah taman didirikan untuk mengenangnya. Karya lain seperti "Sapu Tangan" dan "Jembatan Merah" makin meneguhkan posisinya sebagai maestro keroncong yang mendunia.
Advertisement
Djaduk Ferianto
Tumbuh sebagai putra bungsu koreografer dan pelukis Bagong Kussudiardja, Djaduk Ferianto praktis besar di tengah atmosfer kesenian sejak kecil. Dari lingkungan itu lahir Kua Etnika dan Sinten Remen, dua kelompok musik yang dipimpinnya dan dikenal berani keluar dari pakem musik tradisi. Djaduk juga menata musik untuk sejumlah film dan pertunjukan teater sebelum wafat pada 2019, meninggalkan jejak yang masih menjadi acuan musik etnik Indonesia.
Doel Sumbang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375216/original/090701800_1792135198-SnapInsta.to_558986747_18421071160107538_1216990215412441914_n.jpg)
Nama "Sumbang" pada dirinya bukan karena suara yang fals, melainkan lirik-liriknya yang nyeleneh dan apa adanya. Doel Sumbang, bernama asli Abdoel Wachyoe Affandi, mulai berkarya sejak era 1980-an dengan memadukan musik tradisional Sunda dan kritik sosial yang dikemas secara jenaka. Lagu seperti "Somse", "Runtah", dan "Ai" tetap populer lintas generasi, bahkan "Runtah" kembali viral lewat cover musisi muda di media sosial.
Advertisement
Mus Mulyadi
Dari panggung band Favourite's Group di Surabaya, nama Mus Mulyadi kemudian melekat dengan julukan "Buaya Keroncong". Lahir pada 1945, ia memilih fokus bersolo karier dan melahirkan lagu "Rek Ayo Rek" serta "Jembatan Merah" yang membawa warna keroncong Jawa Timur ke panggung nasional. Dedikasinya selama puluhan tahun membuatnya dikenal sebagai "Raja Musik Keroncong" hingga ia wafat pada 2019.
Benyamin Sueb
![[Bintang] Benyamin Sueb](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/Qbs9wqCwc_I8H73rOtjAwrxM0sQ=/640x853/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/907195/original/099360600_1434962262-ben.jpg)
Selain dikenal sebagai komedian dan aktor, Benyamin Sueb juga adalah seorang musisi yang berbakat. Seniman Betawi ini bergabung dengan grup gambang kromong Naga Mustika dan memadukannya dengan unsur rock, jazz, dan dangdut. Lahir di Kemayoran pada 1939, lewat lagu seperti "Ondel-Ondel" dan "Kompor Mleduk" ia membawa musik Betawi ke publik nasional dengan lirik berbahasa sehari-hari yang mudah diingat, sebelum wafat pada 1995.
Advertisement
Manthous
Memasukkan keyboard ke dalam orkestrasi gamelan adalah langkah yang membuat nama Manthous dikenang sebagai penggagas campursari modern. Lahir di Playen, Gunung Kidul, pada 1950, ia mendirikan grup Campursari Gunung Kidul pada 1993 dan melahirkan lagu "Getuk" yang dipopulerkan Nurafni Octavia. Jalan yang dirintisnya membuka ruang bagi musisi campursari generasi berikutnya, termasuk Didi Kempot, sebelum ia wafat pada 2012.
Alffy Rev & Weird Genius
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3598536/original/008577800_1633931196-243124132_831176277570156_7259400599216761823_n.jpg)
Bagaimana musik daerah bisa akrab dengan telinga generasi digital? Alffy Rev dan Weird Genius menjawabnya lewat perpaduan musik elektronik dan unsur etnik Nusantara. Alffy Rev dikenal lewat video musik "Wonderland Indonesia" yang memadukan lagu daerah dengan gamelan dan visual budaya, ditonton jutaan kali di YouTube. Weird Genius membawa gamelan dan tembang Jawa ke ranah EDM lewat lagu "Lathi" bersama Sara Fajira, yang juga mendunia lewat platform streaming.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Musisi Pengangkat Musik Daerah ke Panggung Nasional
Siapa saja musisi yang berperan penting dalam mengangkat musik daerah ke panggung nasional? Beberapa di antaranya adalah Didi Kempot, Vicky Sianipar, Guruh Soekarnoputra, Waldjinah, Gesang Martohartono, Djaduk Ferianto, Doel Sumbang, Mus Mulyadi, Benyamin Sueb, Manthous, serta Alffy Rev dan Weird Genius.
Siapa pencipta lagu Bengawan Solo? Lagu Bengawan Solo diciptakan oleh Gesang Martohartono pada 1940 dan kemudian diterjemahkan ke dalam 13 bahasa.
Siapa musisi yang dijuluki Godfather of Broken Heart? Julukan itu melekat pada Didi Kempot, musisi campursari yang dikenal lewat lagu-lagu bertema patah hati.
Siapa pelopor musik campursari di Indonesia? Manthous dikenal sebagai penggagas campursari modern lewat grup Campursari Gunung Kidul pada 1993, meski siaran campursari di RRI Semarang sudah ada sejak era 1960-an.
Bagaimana musisi digital seperti Alffy Rev dan Weird Genius mengangkat musik daerah? Mereka memadukan unsur musik elektronik dengan gamelan dan tembang daerah, lalu menyebarkannya lewat video musik di YouTube dan platform streaming.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375276/original/040735700_1792137600-cek_fakta_-_ustaz_wijayanto_-bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374518/original/013435400_1792054116-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-15T154739.817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495483/original/029586100_1770372285-sherly_tjoanda_klaim_giveaway.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374732/original/043919300_1792061733-Screenshot_2026-10-15_173215.jpg)
![[Fimela] Didi Kempot](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/KH-hXcrYoHUW7_N9nS9EMWxteJI=/1x79:1080x687/1280x720/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3120384/original/062399900_1588695339-65671694_486119395526908_2541016051659999173_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355573/original/061921000_1790136679-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_11.08.25.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355184/original/095939500_1790079577-caesarmario_1790041750_3991480655220265405_204844846.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352366/original/022224000_1789791208-1000640839.jpg)