Film The Hostage's Hero, Kisah TNI AL Bebaskan Sandera di Selat Malaka Dibintangi Donny Alamsyah

Peristiwa heroik TNI Angkatan Laut bebaskan puluhan sandera di Selat Malaka dua dekade silam akan menghiasi layar lebar lewat film The Hostage's Hero.

Diterbitkan 31 Maret 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peristiwa heroik TNI Angkatan Laut membebaskan puluhan sandera di Selat Malaka dua dekade silam akan menghiasi layar lebar dengan bintang antara lain Donny Alamsyah. Aksi nyata yang dipimpin awak KRI Karel Satsuitubun-356 ini menjadi inspirasi film The Hostage's Hero. Sosok di balik keberhasilan operasi itu yakni Laksamana Madya TNI (Purn.) Achmad Taufiqoerrochman. Ia menceritakan awal mula dilirik industri film Tanah Air. Pria yang pernah menjabat Wakil Kepala Staf TNI AL ini menyebutkan, ide pembuatan film datang langsung dari pimpinan tertinggi matra laut.

"Jadi mungkin ini diawali inisiatif Kasal untuk mengangkat kisah ini menjadi film. Ditugaskanlah produser dan sutradara ke tempat saya, ke Sukabumi itu," ungkap Achmad Taufiqoerrochman di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Senin (30/3/2026). 

Ia secara terbuka berbagi cerita bagaimana skenario disusun berdasarkan data-data yang ada. Dalam menyusun alur cerita, pihak militer bekerja sama dengan Dinas Sejarah Angkatan Laut (Kadisjarahal) untuk menjaga keaslian setiap peristiwa yang terjadi.

"Kemudian saya cerita, dari cerita melengkapi dari buku, dibuatlah skrip. Kami padukan ini kata-katanya, padukan bahasa operasi dengan bahasa sineas. Maka ketemulah itu," jelas Achmad Taufiqoerrochman.

Tantangan terbesar dalam produksi film bertema militer adalah menyelaraskan istilah teknis pertempuran dengan bahasa yang mudah dipahami penonton. Ia mengungkap, sinergi antara instruksi operasi militer dan sentuhan seni peran akan melahirkan karya yang terasa nyata dan mengalir.

"Makanya saya tahu persis yang dilaksanakan. Kemudian kami tulis, saya sendiri yang menulis, kemudian diolah oleh sutradara," beri tahu Achmad Taufiqoerrochman.

 

Saya Serahkan ke Insan Film

Meski berpijak pada fakta sejarah, unsur dramatisasi tetap diperlukan agar film ini menarik untuk ditonton. Achmad Taufiqoerrochman menyadari penyajian cerita harus dibuat dinamis dan tidak terasa kaku seperti materi sejarah konvensional yang ada di perpustakaan.

"Kalau murni cerita saya kan dokumenter gitu, bukan lagi tontonan, nanti di museum saja. Tapi karena untuk di bioskop, maka saya serahkan ke insan perfilman," tuturnya.

Laut Itu Unik

Selain membahas produksi film, Achmad Taufiqoerrochman juga memberi edukasi mengenai kompleksitas tugas yang dihadapi para prajurit saat menjaga kedaulatan di perairan. Ia memaparkan perbedaan mendasar istilah pembatasan wilayah yang digunakan pelaut profesional dalam menjalani tugas negara.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

"Laut itu agak unik. Kalau di darat ada batas wilayah, makanya demarkasi, ada mark, ada tugu, dan sebagainya. Kalau di laut ada tidak itu? Maka adalah delimitasi. Jadi pembatasan di sini, koordinat sekian gitu kan. Karakter operasinya itu, laut itu tidak bisa dipagari, tidak bisa diduduki. Laut hanya bisa dikendalikan," urainya.

Halaman
Show All
M Altaf Jauhar, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan