Review Film Dracula: A Love Tale, Obsesi Cinta 400 Tahun Sang Pangeran Vampir

Diadaptasi dari novel klasik milik Bram Stoker, Dracula: A Love Tale dengan sutradara asal Prancis Luc Besson akan menyajikan penceritaan yang lebih melankolis dan tragis.

Diterbitkan 26 Agustus 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Caleb Landry Jones sukses memenuhi visi sang sutradara. Ia menampilkan citra Dracula yang mengekspresikan rasa sedih, patah hati, amarah, juga dendam. Semua emosi menjadi satu.

Teknis Film yang Terasa Nanggung

Bicara soal teknis, Dracula: A Love Tale layaknya film-film lain yang memang berkewajiban menyajikan scene-scene yang nyaman ditonton, baik dari angle hingga color grading untuk setting filmnya cukup rapi.

Alur memang baik dan rapi. Namun, bagi mereka yang datang ke bioskop karena ingin ditakut-takuti, mood dan pembabakan dalam Dracula: A Love Tale tampaknya bakal kurang sesuai ekspektasi.

Terasa Sangat Datar

Tercantum genrenya horor fantasi plus romansa, tapi eksplorasi mendalamnya hanya terasa untuk satu tema: cinta. Kurang adanya rasa tegang dan geregetan dalam perjalanan Dracula mendapatkan Elisabeta di abad ke-19 turut serta membuat cerita ini kurang bergejolak.

Bisa jadi, faktor ini yang membuat Dracula: A Love Tale ditanggapi beragam oleh kritikus. Calon penonton tampaknya perlu mengubah sudut pandang dan ekspektasi terhadap Dracula: A Love Tale. Tidak buruk. Masih asyik dinikmati. Akting pemainnya pun nendang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Vindy Therecia, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan