Berkaca dari Geger Abidzar Al-Ghifari dan A Business Proposal, Wajibkah Aktor Film Adaptasi Dalami Sumber Aslinya?

Sejumlah aktor besar Hollywood juga memilih jalan serupa Abidzar Al-Ghifari di A Business Proposal, yakni tak membaca sumber asli film adaptasi. Apa alasannya?

Diterbitkan 05 Februari 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
"Gua sempet nonton episode satu dan memutuskan untuk berhenti karena pada akhirnya ini adalah karakter yang gue buat sendiri bersama sutradara dan gua enggak ingin ini nanti plek ketiplek."

Liputan6.com, Jakarta Barisan kalimat yang meluncur dari mulut Abidzar Al-Ghifari mengenai karakter Utama yang ia perankan di film A Business Proposal ini viral, lalu menggelinding bak bola salju. Puncaknya, Falcon Pictures dan Abidzar mengucap permintaan maaf jelang penayangan film tersebut pada 6 Februari 2025 besok.

Pernyataan Abidzar ini awalnya menimbulkan tanda tanya di benak warganet. Mulai dari kata-kata "karakter yang dibuat sendiri", juga mengapa sang aktor tak mendalami sumber asli A Business Proposal yang merupakan webtoon Korea dan telah diangkat dalam bentuk drakor. Alih-alih memandamkan percikan-percikan yang terpantik lewat ucapan Abidzar, topik jadi meluas dengan kemunculan sejumlah "keyword" baru. Mulai dari "fans fanatik" hingga "tak diundang ke premiere," bahkan media massa dan sosial mengabarkan bahwa ada penyebutan soal rasisme.

Masing-masing isu ini bak bensin yang disiram sedikit demi sedikit, dan akhirnya meledak menjadi permintaan maaf resmi yang dirilis Falcon--sebuah langkah yang sangat jarang terjadi dalam dunia sinema Indonesia.

Bila segala huru-hara yang timbul belakangan disingkirkan barang sejenak dan kembali pada pernyataan awal, timbul sebuah tanya. Apa benar seorang aktor film adaptasi tak perlu mendalami sumber aslinya?

Beda Proyek, Beda Pula Ketentuan dari Pemilik Kisah Asli

Pertama, perlu dipahami bahwa masing-masing proyek memiliki kecenderungan berbeda mengenai seberapa ketat film tersebut sejalan dengan versi aslinya.

Contohnya, versi live action dari One Piece yang ditayangkan Netflix. Sang mangaka, Eiichiro Oda, sangat terlibat dalam proses pembuatan serial ini. Sebelum mendapat lampu hijau dari sang Sensei, proyek ini belum bisa jalan.

"Baik dari naskah ataupun pemerannya, saya tetap bersikeras dalam banyak hal, yang membuat Matt sang produser berkata, 'Aarrghh!' dan Netflix berkata, 'Tidaaak!' dan membuat Tomorrow Studio berkata, 'Apaaaa!' sekaligus membuat mereka semua frustasi," kata Eiichiro Oda dalam keterangan tertulis yang dirilis Netflix pada Agustus 2024 lalu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Namun tak sedikit pula proyek lain, di mana sang pemilik IP memberi ruang kebebasan bagi sang sineas untuk menginterpretasikan karya-karyanya. Seperti Howl's Moving Castle dari Studio Ghibli yang merupakan adaptasi novel Diana Wynne Jone, Fight Club karya penulis Chuck Palahniuk yang kemudian menjadi salah satu karya ikonis sutradara David Fincher, atau Forrest Gump yang karakter utamanya cukup beda dari yang dimuat di buku Winston Groom. Ada yang menuai pujian dari sang penulis asli. Tapi ada pula yang secara terbuka tak disukai kreatornya, salah satunya film The Shining dari sutradara Stanley Kubrick yang dibenci oleh Stephen King.

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan