Aktor Black Manta Sebut Bekerja di Aquaman Mirip Profesi Badut

Setelah hampir empat tahun, pemeran Black Manta, Yahya Abdul-Mateen II, memberikan opini jujurnya mengenai proses bekerja di film Aquaman.

Diterbitkan 04 September 2022, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Setelah hampir 4 tahun, pemeran Black Manta Yahya Abdul-Mateen II memberikan opini jujurnya mengenai proses bekerja di Aquaman (2018). Dia menyebut berakting di film Aquaman seperti “pekerjaan badut."

Dalam wawancaranya dengan Vulture, ia diminta membandingkan proses pekerjaannya di film superhero Aquaman dengan proses pekerjaannya di Topdog/Underdog, drama karya Susan-Lori Paris pemenang Pulitzer.

“Kadang kau harus tau terlibat dengan jenis film dan genre apa. Film seperti Aquaman, itu pekerjaan badut (ringan). Aquaman bukanlah The Trial of the Chicago 7,” jawabnya. Perlu diketahui bahwa Yahya berperan sebagai Boong Seale dalam The Trial of the Chicago 7 (2020). Bersama pemeran lainnya, dia mendapatkan penghargaan Outstanding Performance by a Cast in a Motion Picture dalam Screen Actors Guild Awards.

“Agar dapat bertahan dan sukses (di dunia akting), kau harus memainkan permainan seperti itu (berperan di berbagai jenis film) dan menjadi licik ketika ingin mengejutkan para penonton, sutradara, atau bahkan dirimu sendiri dengan sesuatu seperti “Wow, aku tidak berpikir akan melihat hal benuansa Chekhovian (sesuatu yang membangkitkan rasa introspeksi dan frustasi), August Wilson (penyair teater kulit hitam Amerika) dan Aquaman, tapi aku melihatnya” jelasnya.

Yahya ingin menyampaikan bahwa menurutnya untuk dapat bekerja di berbagai jenis film dan genre itu penting dan memiliki manfaatnya.

Meredakan Suasana

Saat komentarnya diterima dengan buruk oleh para penggemar Aquaman dan penggemar umum comic book movie, Yahya pun mengunggah foto di twitter untuk meredakan suasana.

Foto itu menampilkan dirinya yang memakai bola merah di hidungnya agar terlihat seperti badut, merujuk pada komentarnya tentang "pekerjaan badut" di Aquaman sebelumnya.

Tergiur untuk memberikan klarifikasi, tapi tidak ada kesenangan di situ. Alih-alih, ini foto saya dalam perjalanan untuk bekerja (syuting) di (film) Trial of (the) Chicago 7. Melihat sesuatu? (emot lingkaran merah, merujuk pada bola merah di hidungnya) Aquaman di bioskop Desember 2023! #justiceforclowns (keadilan untuk badut),” tulisnya di caption foto tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Terlepas dari maksudnya, komentar Yahya mengenai “pekerjaan badut” ini mengingatkan kembali tanggapan para sutradara besar dunia terhadap film-film superhero. Martin Scorsese dalam wawancaranya dengan Empire Magazine menyebut film MCU seperti taman bermain. “Sejujurnya, hal terdekat yang bisa aku pikirkan tentang mereka (film MCU), yang dibuat apa adanya, dengan para aktor melakukan usaha terbaik mereka di situasi itu, adalah taman bermain,” ungkap Martin. Lalu kepada France 24, Francis Ford Coppola, sutradara trilogi The Godfather, mendukung pernyataan teman lamanya itu. “Saat Martin Scorsese menyebut (film) Marvel Pictures bukanlah cinema (film berbobot), dia benar. Karena kita berharap mendapatkan suatu pelajaran saat menonton cinema, kita berharap mendapatkan sesuatu, seperti pencerahan, pengetahuan, (atau) inspirasi,” ujar Francis.

Halaman
Show All
Dito Pramudyaseta, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan