Sukses

Profil Benni Setiawan Sutradara Layangan Putus Yang Viral, Pernah Antar Reza Rahadian Raih Piala Citra

Liputan6.com, Jakarta Layangan Putus viral di medsos dalam beberapa pekan terakhir. Serial yang diadaptasi dari tulisan Mommy ASF ini menempatkan Reza Rahadian sebagai Aris, suami yang selingkuh dan bersikap manipulatif.

Serial ini viral tak luput dari tangan dingin sang sutradara, Benni Setiawan. Dalam sesi interviu eksklusif dengan Showbiz Liputan6.com via telepon, Jumat (14/1/2022), Benni Setiawan berbagi cerita soal perjalanan kariernya.

Sineas kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 September 1964, ini lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia sempat mengenyam kursus singkat seputar film di California, AS, pada 2004.

 

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

2 dari 5 halaman

Bukan Cinta Biasa

Debutnya di layar lebar dimulai pada 2009 saat menyutradarai film Bukan Cinta Biasa yang dibintangi Afgan, Ferdy “Element,” Wulan Guritno, dan pendatang baru Olivia Jensen.

“Saat itu ditonton setengah juta orang lebih. Untuk genre drama romantis buatan rumah produksi baru, terbilang sukses. Makanya dibuatkan sekuel Masih Bukan Cinta Biasa dua tahun kemudian,” katanya.

3 dari 5 halaman

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

Film kedua, Benni Setiawan dirilis pada 2010 yakni 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Tidak sukses secara komersial namun memborong setengah lusin Piala Citra termasuk Film dan Sutradara Terbaik.

“Reza Rahadian kala itu meraih Piala Citra Pemeran Utama Pria Terbaik. Laura Basuki dan Rasyid Karim juga menang. Itu sebuah pencapaian besar dalam karier saya,” Benni Setiawan menambahkan.

 

4 dari 5 halaman

Layangan Putus

Setelahnya ia menggarap sejumlah proyek besar seperti Laskar Pelangi 2: Edensor, Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon, hingga Hanum & Rangga: Faith and The City. Layangan Putus adalah web series pertama Benni Setiawan setelah belasan tahun berkarier.

“Temanya sudah sering diangkat di medium lain namun yang beda dari Layangan Putus adalah penokohan yang tak terjebak pada klise. Misalnya, suami yang selingkuh biasanya temperamental, kasar sama istri dan anak, marah teriak-teriak. Enggak begitu,” urainya. 

5 dari 5 halaman

Lydia dan Anya

Sementara Kinan (Putri Marino) juga tak digambarkan seperti perempuan lemah yang terima saja diperlakukan seenaknya. Ada fase titik balik yang membuat penonton tambah gemas.

“Lydia di tangan Anya Geraldine tak serta merta tampil agresif menggaet suami orang dengan riasan menor. Semua terlihat riil hingga terkoneksi dengan banyak penonton,” Benni Setiawan mengakhiri.