3 Pesan Moral yang Tersirat dalam Serial Jingga dan Senja

Bukan sekedar cerita romantis, namun ada pesan yang bisa dipetik dalam serial Jingga dan Senja. Berikut ini 3 pesan moral yang tersirat dalam serial Jingga dan Senja.

Diterbitkan 06 Desember 2021, 19:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Penonton setia original series Jingga dan Senja pasti masih tidak percaya kalau serial ini sudah tamat. Ya, kehadiran web series yang diadaptasi dari novel yang rilis pada 2010 karya penulis Esti Kinasih memang menjadi favorit banyak orang.

Menonton cerita tentang kisah pemuda-pemudi sekolah menengah atas secara tidak langsung membawa Anda bernostalgia kembali ke masa yang digadang-gadang menjadi paling indah yang pernah terjadi dalam hidup.

Dibintangi oleh aktor berbakat seperti Abidzar Al Ghifari, Yoriko Angeline, Giulio Parengkuan, Kesya Levronka, dan Amel Carla, serial Jingga dan Senja diproduksi oleh Rapi Films dengan asosiasi bersama Screenplay Films.

Setelah khatam menonton Vidio Original Series ini, apakah Anda sudah mendapatkan pesan moral yang tersirat dalam serial Jingga dan Senja? Jika belum menemukannya, berikut ini sedikit rangkumannya.

1. Jangan Mudah Percaya

Pesan moral yang tersirat dalam serial Jingga dan Senja yang pertama adalah jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal. Dalam hal ini, pesan ini dapat dilihat dalam karakter Tari. 

Pertemuan Tari yang pertama kalinya dengan Angga membuat Tari luluh begitu saja. Terlebih lagi karena Angga memiliki sifat yang sedikit lebih tenang, sedikit humoris, dan tidak suka mengatur, membuat Tari beralasan bahwa Angga jauh lebih baik daripada Ari.

Ari jelas sudah memperingatkan Tari untuk tidak mendekati Angga. Perintah ini berani Ari lontarkan lantaran Ari mengenal watak Angga sejak dulu. Sayangnya, Tari mengabaikan permintaan Ari. Alhasil, Tari terjebak dalam permainan Angga yang menjadikannya sebagai korban sanderaan.

2. Jangan Terlalu Cepat Menghakimi

Lagi-lagi, pesan mendalam dapat dipetik dari serial Jingga dan Senja melalui karakter Tari. Pesan untuk tidak cepat menghakimi tergambar jelas dalam sifat Tari yang terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa Ari adalah orang yang menyebalkan.

Perilaku Ari terhadap Tari yang senang memerintah dan mengatur memang membuat perempuan pemilik nama Jingga Matahari ini tidak nyaman. Namun seharusnya, Tari bisa meminta penjelasan kepada Ari mengapa dirinya bersikap demikian.

Jika pada akhirnya Ari tidak memberikan penjelasan, mungkin Tari bisa mengikuti jejak Nyoman yang senang mencari tahu secara diam-diam.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Ketika konflik semakin runyam, Ari akhirnya pergi menghilang untuk beberapa saat. Tari yang tadinya tidak ingin mendengarkan penjelasan Ari, akhirnya penasaran dan luluh ketika semua petunjuk dan cerita dari masa lalu mengungkap siapa Ari sebenarnya dan alasann mengapa dirinya menjadi seperti pribadi yang seperti sekarang. Dari karakter Tari yang menyimpulkan sebuah kesimpulan hanya berdasarkan apa yang terlihat, dapat dipetik pelajaran bahwa sebaiknya tidak langsung menghakimi atau berburuk sangka terhadap seseorang tanpa tahu yang sesungguhnya.

Halaman
Show All
Isyhari Maheswar, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan