Resensi Film Persahabatan Bagai Kepompong: Perlawanan Terhadap Perundungan, Simpel Tapi Mengena

Persahabatan Bagai Kepompong semacam tribute bagi sinetron Kepompong buatan Frame Ritz, yang mengudara di SCTV sekitar pada 2009.

Diterbitkan 28 Februari 2021, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Persahabatan Bagai Kepompong semacam tribute bagi sinetron Kepompong buatan rumah produksi Frame Ritz, yang mengudara di SCTV sekitar tahun 2009 dan menghasilkan lebih dari 300 episode.

Sinetron ini memopulerkan geng Kepompong dan mengukuhkan posisi Derby Romero, Mikha Tambayong, Dinda Kirana dan kawan-kawan di layar kaca Tanah Air. Lebih dari satu dekade berlalu, versi layar lebarnya dibuat.

Di depan layar diisi wajah-wajah baru. Di belakang layar ada sineas Sentot Sahid dan Alim Sudio yang dulu membidani sinetronnya. Berikut resensi film Persahabatan bagai Kepompong.

Berawal dari Sarjono

Kisahnya dimulai ketika Sarjono (Gunawan) mesti terbang ke Papua untuk urusan kerja. Ia menitipkan putranya, Ben (Bio One) kepada pasutri Bimo (Pascal Azhar) dan Indah (Lulu Tobing) yang memiliki dua anak. Salah satunya, Isabel (Yasmin Napper).

Di sekolah, Isabel membentuk geng Kepompong bersama sejumlah temannya. Sebagai anak baru, Ben yang dikenal anak mama tak mudah bergaul. Ia menjadi kaum jelata. Berkawan dengan Bimo (Fatih Unru), Ben jadi korban perundungan Bobby (Joshua Rundengan) dan gengnya.

Ben yang menutup diri mulai membuka hati kala didekati Paula (Beby Tsabina). Paula dan Isabel bersaing dalam kompetisi proposal perayaan kelulusan sekolah. Isabel meminta Ben mengintip ide Paula. Paula sendiri punya misi khusus mendekati Ben.

Lagu Tema Tajamkan Suasana

Usut punya usut, persaingan Paula-Isabel bukan tanpa alasan. Indah dan ibu Paula (Donna Agnesia) dulu bersahabat lalu terlibat cekcok. Kini api permusuhan menjalar ke kedua putrinya. Puncaknya saat pihak sekolah mengumumkan pemenang proposal. Hasilnya, bikin syok berat.

Kesan pertama usai menonton, film ini punya sejumlah kelebihan yang layak diapresiasi. Pertama, ketepatan memilih lagu tema. Ini terasa sejak sesi awal, saat Ben di kamar kesepian merindu ibunya.

Lagu “Ibu” karya Ari Goliath yang mengawani Ben menajamkan suasana. Berikutnya, “Kepompong” versi syahdu yang dilantun Alena Wu melatari patah hatinya Ben di taman. Tak banyak lagu di film ini, namun mereka hadir di waktu yang tepat. Sopan menyapa, santun saat undur.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Kedua, tak disangka akting para pemain utama terasa tanpa beban. Mereka tampak menikmati peran sehingga chemistry terbangun alami antara Ben dan Isabel, Ben bareng geng Kepompong, apalagi Ben dengan Bimo. Paula dan Ben di awal tampak canggung, setelahnya jadi malu-malu menggemaskan. Untuk drama semacam ini, sebenarnya tak butuh sinematografi penuh gaya. Yudi Datau mengendalikan ego, sambil sesekali pamer unsur stylish dengan membingkai adegan dari jendela kelas atau angle langit taman temaram yang “mengecilkan” sosok Ben, pertanda nyalinya tengah menciut.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan