Be with You: Almarhum Ibu Mendatangiku Saat Hujan Deras Turun

Yang sedang tren, menyaksikan kembali koleksi film lawas lewat platform digital. Be With You salah satu yang layak disimak lagi.

Diterbitkan 24 September 2020, 15:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Be with You atau Jigeum Mannareo Gamnida merupakan film Korea Selatan karya sineas Lee Jang Hoon yang dirilis dua tahun silam. Genre film ini drama romantis dengan semburat fantasi.

Cerita Be with You bersumber dari novel berjudul buatan Takuji Ichikawa dari Jepang. Novel ini telah diangkat ke layar lebar versi Jepang oleh Nobuhiro Doi. Dirilis pada 2004, film ini meraup laba kotor 46,6 juta dolar AS.

Be with You karya Nobuhiro Doi dianggap sukses menyetuh sanubari penonton. Penuturannya rapi, ilustrasi musiknya membangun suasana. Lalu bagaimana dengan Be with You versi Korea Selatan?

Negeri Awan

Be with You dimulai dengan dongeng Negeri Awan. Di sana ada penguin betina mengawasi anaknya yang bertumbuh di dunia. Air mata rindu yang menetes dari balik awan menjelma rintik hujan, jatuh ke bumi.

Kala musim hujan tiba dan kereta awan melawat bumi, penguin menumpang untuk menyambangi anaknya. Pertemuan penguin dan buah hati berlangsung haru. Dongeng ini ada dalam buku pemberian Soo A (Son Ye Jin) untuk putranya Ji Ho (Kim Ji Hwan). Soo A meninggal dunia dan dikubur.

Kepergiannya mendukakan suami, Woo Jin (So Ji Sub) dan Ji Ho. Beberapa hari setelah kepergian Soo A, Ji Ho meyakini ibunya akan pulang ke rumah bersama datangnya musim hujan. Kala musim hujan tiba, Ji Ho dan Woo Jin menyusuri terowongan kereta api.

Perempuan Meringkuk di Tepi Rel

Keduanya melihat perempuan meringkuk di tepi rel. Woo Jin syok mendapati perempuan itu adalah Soo A. Ji Ho girang bukan kepalang. Sahabat Woo Jin, Hong Goo (Ko Chang Seok) mulanya tak percaya. Ia menganggap Woo Jing gagal move on.

Drama cinta berlatar keluarga ini tak lantas terasa instan. Di awal, Be with You menyerang benteng pertahanan penonton dengan adegan perkabungan. Menyentak di menit awal dan terkesan tiba-tiba, Lee Jang Hoon lalu mengajak penonton berkelana dengan mesin waktu.

Semua terjelaskan dari mengapa tokoh utama sangat terpukul, bagaimana ia kenal dengan almarhum istri, dan mengapa cinta keduanya begitu kuat. Jatuh hati di tangan novelis Jepang tak semudah mengucap, “Aku cinta kamu. Titik.”

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Memanfaatkan sejumlah ornamen dan momen yang dekat dengan hidup penonton, drama ini terasa dekat. Dari pulpen, buku tahunan perpisahan sekolah, momen dansa, hingga berenang. Cinta juga dibangun dari ritual sederhana seperti mencium foto istri tiap hendak keluar rumah, masak telur ceplok, dan main kartu. Hal sepele, sederhana, namun mengena. Apalagi, sinematografer Cho Sang Yun juga tak pamer keahlian. Mata kamera berfokus pada ekspresi dan interaksi antartokoh.  

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan