Sukses

Alive: Ada yang Manis di Tengah Wabah Zombi

Liputan6.com, Jakarta Daftar sinema Korea Selatan yang mengangkat topik zombie kini bertambah satu dengan kehadiran Alive— yang punya penulisan resmi #Alive

Dibintangi dua artis papan atas Negeri Ginseng, Yoo Ah In dan Park Shin Hye, Alive menjadi pemuas dahaga penikmat film yang sempat puasa nonton karena pandemi Corona. Buktinya baru lima hari tayang, film ini sudah menarik sejuta penonton.

Seseru itukah filmnya?

Alive dibuka tanpa banyak basa-basi atau teori yang bertele-tele. Penonton didudukkan di depan layar bersama Joon Woo (Yoo Ah In) yang begitu bangun dari tempat tidur langsung mendapati bahwa kotanya dalam keadaan chaos.

Orang-orang di jalanan yang berlari kalang kabut, anak yang menggerogoti ibunya, sampai tetangga apartemen yang berubah jadi zombi, semua disaksikan dengan mata kepala Joon Woo sendiri.

2 dari 6 halaman

Cerita Joon Woo dan Yoo Bin

Terpisah dari keluarga, Joon Woo harus bertahan di apartemennya sendirian. Sialnya, ia belum sempat belanja bahan makanan. Alhasil, ia harus bertahan hidup dengan persediaan makanan apa adanya.

Hari demi hari, semangat hidup Joon Woo kian menipis. Sampai akhirnya saat berada di titik nadir, ia baru mengetahui bahwa tetangga seberang apartemennya masih hidup: seorang gadis muda bernama Yoo Bin (Park Shin Hye).

Semangat yang sempat padam itu kembali tumbuh.  Keduanya bertekad untuk melawan dan keluar dari apartemen mereka hidup-hidup.

3 dari 6 halaman

Performa Yoo Ah In

Rasanya mudah sekali menarik satu kesimpulan soal film yang kini telah ditayangkan di platform Netflix. Yakni bahwa salah satu kekuatan utama film ini, justru adalah kondisi dunia sepanjang 2020 yang dilanda pandemi. Imbauan dari televisi Joon Woo agar warga tidak keluar rumah, terasa seperti deja vu yang datang dari TV milik sendiri.

Apalagi Joon Woo juga digambarkan sebagai sosok milenial yang tak terlalu mengawang-ngawang. Karakternya membumi, terasa masuk ke kehidupan sehari-hari. Doyan gaming dan nge-vlog—termasuk kala karantina—lumayan melek teknologi, dan disayang orangtua.

Yoo Ah In menghidupkan karakter ini dengan sangat baik. Ekspresi mikronya saat menyadari bahwa vlognya terasa sia-sia atau adegan emosional mengenai keluarga, disampaikan sama apiknya.

4 dari 6 halaman

Aspek Survival

Setelah sequence pembuka yang menaikkan tensi dan dilanjutkan dengan melodrama yang mengendorkan urat saraf, Joon Woo dan juga penonton berkenalan dengan Yoo Bin. Perempuan muda yang tak begitu jelas asal-usulnya, tapi punya berbagai sifat yang “super”. Tak hanya pemberani dan baik hati, ia juga kuat—setidaknya dalam melawan zombi.

Keduanya kemudian digambarkan melewati momen-momen yang cukup manis—walau tak sepenuhnya romantis. Meski terhalang jarak, keduanya menjalin komunikasi dengan HT, saling mengirim bahan makanan, dan rupanya punya kesamaan soal selera mi instan.

Hanya sayangnya, momen-momen manis ini menjadi awal mandegnya pengembangan karakter-karakter dalam Alive. Eksplorasi terhadap karakter Joon Woo sebagai tokoh utama terasa tak mendalam, dan film garapan sutradara Cho Il ini lantas jatuhnya hanya menekankan aspek survival.

5 dari 6 halaman

Konflik Zombi - Manusia

Film ini makin dibuat sederhana, karena tokoh antagonis dalam film ini praktis hanya zombi belaka, yang konflik kepentingannya dengan tokoh utama hanya satu. Yang satu ingin memakan, yang lain ogah dimakan. Dan mayat hidup ini pun digambarkan tanpa formula baru, tak jauh beda dengan sejumlah sinema dalam genre ini sebelumnya.

Memang ada satu konflik sesama manusia yang dihadapi Joon Woo dalam perjalanannya menyelamatkan diri. Namun ini pun terasa sekadar numpang lewat karena munculnya ujug-ujug di tengah film tanpa dibangun sejak awal.

6 dari 6 halaman

Ketegangan

Meski begitu, Alive tentu masih bisa dinikmati. Terutama bagi penonton yang gemar dibuat deg-degan dengan tema survival.

Suasana tegang saat konfrontasi dengan zombi menjadi lebih terbangun, dengan visual para mayat hidup yang didesain cukup meyakinkan. Hanya satu catatan untuk elemen ini: banyak jalan keluar yang bersifat kebetulan, sehingga mungkin bakal membuat geregetan sebagian penonton yang kritis terhadap hal-hal seperti ini.