Sukses

Desy Ratnasari Akting Lagi Setelah 12 Tahun Vakum, Lakukan Ini Agar Tidak Kaku

Liputan6.com, Jakarta Nama Desy Ratnasari dibesarkan oleh sejumlah film legendaris seperti Blok M, Olga dan Sepatu Roda, serta Si Kabayan Mencari Jodoh. Lalu ia terjun ke sinetron dan jadi anggota DPR.

Dalam catatan kami, Desy Ratnasari kali terakhir muncul di layar lebar lewat film Kun Fayakuun yang dirilis Putaar Production pada 2008. Setelahnya, Desy Ratnasari absen dari dunia seni.

Tahun 2020, Desy Ratnasari kembali berakting. Comeback-nya ditandai dengan film Buya Hamka yang belum dirilis. Kini, Desy Ratnasari menjadi pemeran utama film Keluarga Slamet.

2 dari 5 halaman

Persiapan Makeup dan Kostum

Kembali ke layar putih setelah belasan tahun membuat Desy Ratnasari sempat khawatir aktingnya tak seluwes dulu. Beruntung, pelantun “Tenda Biru” dan “Sampai Hati” ini dikelilingi tim solid.

“(Saya disiapkan) dari sisi tampilan, tes makeup, kostum, dan sebagainya,” beber Desy Ratnasari dalam konferensi pers virtual film Keluarga Slamet rilisan Falcon Pictures, Selasa (18/8/2020).

3 dari 5 halaman

Yang Penting Ada Reading

“Yang penting selalu ada reading (pendalaman naskah -red) yang membuat saya memahami dan meningkatkan kepercayaan diri saya setelah lama vakum. Kemudian, kembali ke layar lebar,” ia menyambung.

Desy Ratnasari sadar betul film adalah kerja kolektif. Keberhasilan seorang aktor didukung banyak faktor. “Saya punya suami (Indro Warkop) yang mendukung saya, ibu (Widyawati), dan anak-anak (Onadio Leonardo serta Abun Sungkar) juga,” Desy Ratnasari menjelaskan.

4 dari 5 halaman

Marni dan Slamet

Terkait kembalinya Desy Ratnasari ke layar lebar, produser Falcon Pictures, Frederica, percaya Keluarga Slamet yang diadaptasi dari film India Badhaai Ho, cocok untuk Desy Ratnasari.

Dalam film karya Rako prijanto itu, Desy Ratnasari memerankan Marni, istri Slamet (Indro Warkop). Badhaai Ho dibuat versi Indonesia bukan tanpa alasan.

5 dari 5 halaman

Perihal Intellectual Property

“Yang dicari sebenarnya IP atau intellectual property populer baik dari novel, lagu, atau biografi orang-orang yang sudah populer. Sekarang kita bikin film yang populer di negara tersebut, kita ulang buat di Indonesia,” Frederica menerangkan.

Produser film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! ini menyebut, membuat versi lokal dari IP populer sedang tren. “Memang arahnya ke IP populer karena lebih mudah untuk kita sosialisasikan ke khalayak. Itu alasannya,” pungkasnya.