Toko Barang Mantan: Bekas Pacarku Mau Menikah, Aku Harus Bagaimana?

Judul yang eksentrik, membuat kami tertarik menonton Toko Barang Mantan. Premis film ini pun orisinal.

Diterbitkan 14 Februari 2020, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Judul yang eksentrik, membuat kami tertarik menonton Toko Barang Mantan. Premis film ini pun orisinal, tentang orang yang membuka usaha berjualan barang-barang milik mantan.

Setiap barang yang dijual di Toko Barang Mantan tak sekadar untuk mencari untung. Ada kisah nyata di balik barang-barang yang nangkring di etalase toko. Toko Barang Mantan tampak kerepotan memulai kisah di menit-menit awal.

Kisah Toko Barang Mantan sebenarnya simpel dengan tema ringan. Memasuki pertengahan, energi besar ditransfer oleh para pemain dengan rekam jejak yang tak perlu disangsikan. Haruskah kita ragu pada kapasitas Reza Rahadian dan Marsha Timothy? Tentu tidak.

 

Kedatangan Mantan

Tristan (Reza) mahasiswa pemegang dua rekor. Pertama, gemar gonta-ganti pacar. Kedua, skripsi yang tak kunjung beres. Bersama Rio (Iedil) dan Amel (Dea), Tristan membuka Toko Barang Mantan. Konsepnya unik. Namun menjual barang mantan tak semudah yang dibayangkan. Suatu siang, toko ini kedatangan Laras (Marsha), mantan terindah Tristan.

Sebenarnya tak bisa dibilang mantan karena konon, dalam sebuah pertengkaran, Laras pergi begitu saja. Tak terucap kata putus. Laras datang untuk memberikan undangan pernikahannya. Mendapat undangan Laras, Tristan mati-matian menyembunyikan syok dan kecewanya. Laras sering datang ke Toko Barang Mantan dari minta tolong Tristan memilihkan souvenir pernikahan hingga menjual cincin pemberian calon suami.

Tristan sendiri nyaris tak percaya cinta. Pasalnya, ayah Tristan (Roy) menikah dengan Meti (Widi Mulia) setahun setelah ibu Tristan meninggal. Makin intens berinteraksi dengan Laras, Tristan sadar ia masih cinta. Namun baginya, cinta tak penting untuk diungkapkan. Cinta bisa dirasakan dari perbuatan.

 

Reza Rahadian Hidupkan Karakter

Kisahnya sederhana, bahkan bisa untuk dieksekusi di level film televisi. Yang membuat Toko Barang Mantan layak ditembakkan ke layar putih, cara para pemain menghidupkan karakter dan upaya Viva Westi menjadikan film ini komedi romantis.

Pertama, kami ajak Anda menilik performa para pemain. Reza menghidupkan Tristan dengan mengubah penampilan. Ia tampil dengan rambut gondrong. Kita tahu itu wig. Wig dari rambut asli ini terasa menyatu dan tampak masuk akal saat dipadukan dengan penampilan Tristan yang kasual. Kita melihatnya menggunakan kaus dan celana pendek. Sesekali celana jin belel, kaus tanpa lengan, dan kemeja kebesaran.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Di sisi lain, Marsha dengan rambut pendek berombak tampak effortless. Ia relaks dalam setiap adegan, tampak nyaman, dan menikmati peran bahkan di adegan terpahit sekalipun. Toko Barang Mantan dipersenjatai sejumlah konflik genting, berlokasi di toko Tristan, dengan eskalasi energi beragam. Padahal sumber konfliknya sama, cinta yang tak terucap atau dengan kata lain, kepastian. Beberapa konflik ini menampilkan subtema dari pamit yang diterjemahkan sebagai kebiasaan salah satu tokoh pergi begitu saja kalau ada masalah. Subtema lain, perbedaan sudut pandang terhadap hal penting dan tidak penting. Dan setumpuk subtema lainnya. Di sinilah, Toko Barang Mantan tampak pantas diangkat ke layar lebar. Tanpa Reza Rahadian dan Marsha Timothy, serius, bisa jadi film ini terasa FTV banget. Cara Marsha mengucapkan, “Oke kali ini aku benaran pamit,” sambil mengibaskan tangan dan pergi membelakangi Tristan saja terasa berkelas.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan