Hustlers: Persahabatan Para Penari Erotis, Akting Jennifer Lopez Fantastis

Hustlers berkilau berkat performa para penampil, khususnya Jennifer Lopez.

Diterbitkan 23 Oktober 2019, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ramona berambisi membesarkan tim untuk mengeruk lebih banyak uang. Akhirnya, terjadi sebuah pengkhianatan yang menguji pertemanan mereka. Kisah ini disampaikan Destiny kepada seorang jurnalis, Elizabeth (Julia).

Terganggu

Terus terang kami terganggu dengan adegan-adegan buram di layar lebar. Serasa menonton televisi yang diawasi sebuah lembaga. Hustlers lulus untuk 21 tahun ke atas. Label ini tak serta merta membuat Hustlers menjadi tontonan yang utuh. Usai menonton, adegan di panggung kelab malam malah tak membekas.

Kesan pertama usai menonton Hustlers, ini kisah persahabatan mengharukan. Perkara yang bersahabat para penari erotis, itu urusan nanti. Pertemanan dibangun lewat adegan di atap kelab, saat Ramona menawari Destiny bernaung di jaket tebalnya.

Ikatan emosi Destiny dan Ramona adalah magnet utama. Kedua tokoh ini berkembang, khususnya saat Destiny punya anak perempuan. Mereka menyimpulkan, naluri keibuan merupakan gangguan mental. Gara-gara naluri itulah seorang ibu rela melakukan apa saja demi buah hatinya.

 

Aura Bertebaran

Destiny dan Ramona menjadi penggerak cerita. Di pundak keduanya lah, Hustlers bertumpu. Menyandingkan Constance dan Jennifer Lopez merupakan pilihan tepat. Performa Constance mencapai klimaks justru di adegan wawancara.

Saat kamera membingkai wajahnya, tergambar jelas air mukanya merefleksikan kekecewaan, penyesalan, dan kehilangan. Puncaknya, saat ia menelepon seseorang dan matanya berkaca. Ini kebalikan dari performa Jennifer Lopez yang mentereng bahkan sejak kali pertama muncul di kelab malam.

Begitu muncul, aura Ramona bertebaran di layar. Jennifer mendefinisikan penari erotis di level veteran. Tiang pole-dance dan puntung rokok bak belahan jiwanya. Gayanya relaks. Kentara sekali menikmati profesi penari sekaligus penipu dan siklus pertemanan yang melingkunginya.

Tak seperti Constance yang lama panasnya, Jennifer sejak awal hangat, memanas, lalu “meledak” persis di klimaks cerita. Tak ada air mata menetes, tapi adegan ia memperlihatkan sebuah foto membuat kita paham betapa dalam dan besar effort Ramona dalam pertemanan.

Oscars untuk Jennifer Lopez

Penuturan Hustlers agak kurang lancar. Ini dipicu kilas balik masa lalu berdasarkan fase pertemanan dan tahun-tahunnya. Kadang kilas balik membawa kita ke adegan biasa saja atau membuat kita waswas karena tiba-tiba kondisi menjadi genting.

Beruntung, Hustlers dibekali departemen musik dan lagu mumpuni. Pilihan lagu mewakili fase serta tahun pertemanan sang tokoh utama. Kadang, lagu membangun suasana. Kadang jadi oposisi bagi sebuah adegan. Menebalkan sebuah ironi. Ini terjadi saat “Royals” dari Lorde mengalun.

Pendek kata, Hustlers berkilau berkat performa para penampil, khususnya Jennifer Lopez. Hingga film berakhir, Ramona dengan jalan pikirnya yang unik membekas di benak kami.

Tak terbayang punya sahabat seeksentrik Ramona. Kami tak keberatan jika Oscars tahun depan menghadiahi Jennifer Lopez nominasi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Jika ini terjadi, maka Jennifer Lopez menebus aibnya sendiri sembilan tahun silam, ketika dinominasikan sebagai Aktris Terburuk Dekade Ini oleh Razzie Awards lewat 9 film termasuk Gigli. 

(Wayan Diananto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan