Sukses

The Post, Potret Ketegangan dalam Dunia Jurnalistik

Liputan6.com, Jakarta Ruang redaksi koran The Washington Post geger. Surat kabar saingan mereka, The New York Times, menurunkan berita spektakuler mengenai kebohongan pemerintah Amerika Serikat mengenai Perang Vietnam.

Dibanding laporan khusus tersebut, judul utama yang dipasang The Washington Post terlihat begitu remeh: soal pernikahan putri Richard Nixon, sang Presiden Amerika Serikat.

Pemimpin redaksi The Washington Post, Ben Bradlee (Tom Hanks), tentu saja kebakaran jenggot karena merasa kebobolan informasi yang begitu dahsyat. Di sisi lain, ia juga sulit menurunkan laporan serupa. Terutama karena laporan ini bersumber dari Pentagon Papers, penelitian rahasia yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya.

1 dari 5 halaman

Situasi Makin Pelik

Di lain pihak, sang pemilik The Washington Post, Kay Graham (Meryl Streep), dikenal bukan sebagai orang yang bermental baja dalam menghadapi tekanan di bisnis media. Apalagi Kay berkawan dekat dengan Robert McNamara (Bruce Greenwood), salah satu tokoh sentral dalam Perang Vietnam.

Situasi makin bertambah pelik setelah The Washington Post mulai mengendus jalan untuk mendapatkan Pentagon Papers, tapi pemerintah mengeluarkan larangan untuk menerbitkan dokumen ini. Alasannya, perbuatan ini membahayakan negara.

 

2 dari 5 halaman

Berawal dengan Lambat

The Post yang diangkat dari kisah nyata ini, bisa diibaratkan sebagai api yang tengah dimasak dengan api kecil. Di sepertiga awal film, alur rasanya berjalan lambat, dan tampaknya tak terlalu banyak hal yang terjadi. Film ini terasa suam-suam kuku saja.

Namun begitu konflik diperkenalkan, suhu film langsung memanas.

 

3 dari 5 halaman

Ketegangan di Ruang Redaksi

The Post, sejatinya adalah film drama, mengenai jurnalis. Namun sang sutradara, Steven Spielberg, mampu merangkum ketegangan yang dialami para jurnalis investigatif dalam pekerjaannya. Mulai dari debat panas di ruang redaksi, perang urat syaraf antara jurnalis dan pemilik modal, hingga pertikaian dengan para pemegang kekuasaan.

Bahkan para penonton awam yang buta terhadap hal-hal yang terjadi di dapur redaksi jurnalisme investigatif, bisa diajak merasakan pompaan adrenalin saat menyaksikan para wartawan berburu informasi. Apalagi mengingat informasi yang dikejar bersifat rahasia dan berhubungan dengan intelejen.

Sementara bagi penonton yang bersinggungan dengan dunia jurnalistik, The Post bisa menjadi satu pengingat tentang segala tarik menarik dari sebuah institusi media. Yakni seidealis apa pun, media besar tetap merupakan sebuah bisnis di mana uang tetap memegang kekuatan besar.

Begitu juga dengan hubungan jurnalis dengan narasumber, yang sejatinya berada di antara dua pilihan: antara hubungan pertemanan dan indepensi.

4 dari 5 halaman

Nominasi Oscar

The Post, memang memajang nama-nama besar, seperti Tom Hanks dan Meryl Streep yang sedikit banyak bisa memberi garansi mengenai jaminan mutu film ini. Tom Hanks, tampil menarik sebagai Ben Bradlee yang keras.

Sementara Meryl Streep, tampil meyakinkan sebagai Kay, seorang wanita peragu yang selama ini berada di balik bayang-bayang suami, namun tiba-tiba harus mengambil keputusan pelik yang berkaitan dengan negara.

Atas performanya ini, Meryl Streep masuk sebagai salah satu kandidat peraih Aktris Terbaik di Piala Oscar 2018. The Post, yang akan mulai tayang di Indonesia pada 21 Februari besok, juga masuk sebagai nominasi Film Terbaik Piala Oscar 2018.

Artikel Selanjutnya
Meryl Streep Daftarkan Namanya Jadi Merek Dagang