La La Land, Senandung Cinta Dua Pemimpi di Belantara Hollywood

Film La La Land sebenarnya mengangkat tema yang sudah usang, tapi...

Diterbitkan 11 Januari 2017, 20:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Di bawah kerlip lampu Hollywood, pianis kere Sebastian (Ryan Gosling) punya mimpi yang hampir mustahil. Yakni memiliki sebuah klub musik jazz sendiri, tempat ia bisa memainkan musiknya sebebasnya, tanpa harus mendengar protes dari orang lain atau tiba-tiba dipecat.

Jadilah ia menjalani hidup bagai musik jazz yang ia cintai dengan sepenuh hati: mengalir penuh improvisasi, semua tergantung kondisi. Inilah yang mempertemukannya dengan Mia (Emma Stone), seorang gadis muda yang bercita-cita menaklukkan Hollywood. Sayang, belum ada satu pun film yang dibintangi gadis berambut merah ini meski ia telah bolak-balik mengikuti audisi.

Cuplikan La La Land (IMDb)

Mia memang anti dengan jenis musik yang dijunjung Sebastian dengan sepenuh hati. Namun tetap saja hati keduanya bertaut. Sama-sama pemimpi di belantara Hollywood, keduanya lantas saling mendukung cita-cita satu sama lain.

Sampai akhirnya muncul satu pilihan di depan hidung Sebastian. Opsi untuk hidup mapan, sebuah jalan untuk membahagiakan Mia. Di La La Land, kisah Mia dan Sebastian bermula, tapi apakah akan berakhir bahagia?

Apa Hebatnya La La Land?

Bila melihat sinopsisnya, jelas sekali bahwa inti plot La La Land adalah pengulangan sebuah kisah klasik—kalau tak boleh disebut usang. Tentang anak-anak muda penuh mimpi yang mendatangi Hollywood nan gemerlap, namun dunia nyata lantas memberi tamparan keras buat mereka.

Lantas, mengapa La La Land begitu dipuji-puji kritikus? Bahkan film ini meraih tujuh piala Golden Globe 2017—sebuah rekor dalam sejarah ajang penghargaan yang sudah 74 kali digelar tersebut. Yang terakhir, film ini juga memimpin perolehan nominasi di BAFTA tahun ini?

Apa hebatnya La La Land?

>Cuplikan La La Land (YouTube)

Satu hal yang pasti, adalah sang sutradara, Damien Chazelle—yang sebelumnya menangani Whiplash dan 10 Cloverfield Lane—terlihat tahu persis apa yang ia inginkan dalam film ini. Yang pertama, adalah dari segi artistik. Sinematografi, setting tempat, desain kostum, hingga palet warna yang digunakan, mendukung kesan yang ingin ia sampaikan tentang La La Land—atau Hollywood—sebagai sebuah negeri impian yang penuh warna.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Karena ini adalah sebuah film drama musikal, tentu saja departemen audio dan musik juga memiliki peran besar dalam hal storytelling, atau penceritaan dalam film ini. Soal soundtrack, tak perlu diragukan lagi. Lagu seperti “City of Stars” dan “The Fools Who Dream”, memperlihatkan dengan baik emosi yang dipendam para karakternya.

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan