Sukses

Alice Through the Looking Glass, Petualangan Melawan Sang Waktu

Liputan6.com, Jakarta Sekitar 1,5 abad lampau, seorang pria sakit-sakitan yang bicaranya gagap menuliskan petualangan seorang gadis kecil bernama Alice di negeri ajaib. Hingga kini, cerita fantasi penuh teka-teki ciptaan Charles Lutwidge Dodgson atau yang lebih dikenal dengan nama pena Lewis Carroll tersebut, masih membuat orang bertanya-tanya.

Ada yang berteori bahwa Alice in the Wonderland adalah cerita tripping alias "perjalanan" selama menggunakan halusinogen. Ada pula yang menganggapnya sebagai metafora dari proses pendewasaan diri.

Alice Through the Looking Glass. (Disney)

Cerita penuh keajaiban ini juga memesona Walt Disney sejak muda. Tak heran setelah perusahaannya berdiri, ia beberapa kali mencoba membuat film animasi adaptasi cerita ini. Film animasi Alice in Wonderland versi Disney lantas rilis tahun 1951, yang tentu saja lebih menonjolkan unsur musikal dan fantasi.

Tahun 2010, Disney—lewat Walt Disney Pictures—menghidupkan kembali Alice versi mereka. Kali ini dalam bentuk live action. Alice kini tak hanya menjadi gadis yang penuh rasa ingin tahu, tapi juga "jagoan" yang diramalkan bisa menumpas kelaliman, yang diwakili oleh Jabberwocky milik Red Queen.

Cerita kebaikan melawan kejahatan yang terasa generik ini lantas berlanjut lewat sekuelnya, Alice Through the Looking Glass yang akan diputar di bioskop Indonesia pada 12 Agustus mendatang.

Alice Through the Looking Glass (IMDb)

Mia Wasikowska, kembali memerankan Alice yang kini menjadi seorang kapten kapal. Saat kembali dari perjalanannya, Alice menemukan kenyataan bahwa sang ibu akan menjual kapal kesayangan miliknya, yang merupakan warisan dari sang ayah. Sementara mantan tunangan Alice mendesak agar gadis keras kepala ini meninggalkan laut dan bekerja sebagai pegawainya.

Di tengah kekecewaan ini, Alice bertemu dengan Absolem—si ulat perokok yang kini telah menjadi kupu-kupu—dan kembali ke dunia Underland lewat sebuah cermin di dinding. Sayang, di sini ia malah menemukan Mad Hatter (Johnny Depp) tengah sakit keras. Hatter merasa bahwa keluarganya, yang ia kira telah lama mati, masih hidup.

Demi kawannya ini, Alice kemudian mencuri chronosphere, alat milik sang Waktu (Sascha Baron Cohen). Ia hendak kembali ke masa lalu dan menyelamatkan keluarga Hatter dari Jabberwocky yang membinasakan mereka. Risikonya, ia bisa merusak sejarah dan menghancurkan Underland.

Alice Through the Looking Glass (IMDb)

Seperti film perdananya, Alice Through the Looking Glass, memang cuma mencuil sedikit dari buku karya Lewis Carroll, Through the Looking Glass—sekuel dari buku Alice in the Wonderland. Hanya cara Alice pergi ke Underland saja yang persis dengan di buku.

Selebihnya, film ini mirip dengan film-film soal pendewasaan diri, alias coming of age, begitu topik ini biasa disebut. Alice Through the Looking Glass lebih banyak bercerita tentang bagaimana Alice belajar dari kesalahan dan menerima keadaan, satu tema umum yang diangkat dari film coming of age. Beruntung, setidaknya, plot Alice Through the Looking Glass tak begitu mudah ditebak.

Hanya saja, mungkin penonton akan lebih mudah berempati dengan Sang Waktu dalam film ini dibanding Alice. Pasalnya, keputusan demi keputusan yang diambil Alice sang protagonis, justru terasa begitu egois.

Alice Through the Looking Glass (IMDb)

Selain itu, sang Waktu juga menjadi tokoh yang tampil paling menarik dalam film ini. Sascha Baron Cohen, mampu menghadirkan sisi humor maupun drama dalam film ini. Sementara soal Johnny Depp, tak usah terlalu banyak berharap padanya.

Gaya akting yang serupa dengan sejumlah karakter nyeleneh yang ia mainkan beberapa tahun terakhir, membuat penampilan Depp jadi hambar. Bahkan kesan yang tertinggal di pikiran penonton atas karakter Mad Hatter justru lebih banyak disebabkan oleh penggunaan make up dan efek visual, yang memang jauh lebih ‘menor’ dibanding film pertamanya.

Alice Through the Looking Glass. (nerdist.com)

Meski plot film berjalan relatif datar, setidaknya film ini masih berisi sejumlah hal menarik buat penontonnya, terutama yang benar-benar menyukai film perdananya. Yakni, soal awal mula permusuhan antara Red Queen atau Iracebeth dengan Mirana di masa lalu.

Di luar itu, keajaiban Alice Through the Looking Glass, harus diakui memang tidak terasa begitu menggigit. Atau setidaknya, tak cukup untuk membuat orang-orang membahasnya tanpa henti, seperti buku aslinya yang ditulis oleh Lewis Carroll.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.