Review Abdullah v Takeshi: Humor Nakal Soal Putra yang Tertukar

Dalam Abdullah v Takeshi, Kemal Palevi bertugas sebagai aktor, penulis, sekaligus sutradara.

Diterbitkan 26 Maret 2016, 02:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Cuplikan film Abdullah v Takeshi (YouTube)

Humor dalam film ini, banyak mengangkat guyonan tentang pangkal paha pria sebagai humor yang berkelanjutan, alias  running jokes. Humor jenis ini, memang nakal dan mudah memancing tawa. Namun bila digunakan berlebihan, rasanya malah akan menjadi tawar. Untungnya, Kemal tak menjadikan ini sebagai satu-satunya sumber humor dalam filmnya.

Kemal juga banyak mengeksplorasi stereotip kelompok-kelompok tertentu dalam bahan lawakannya. Bahwa orang Arab dan Jepang memiliki gaya bicara dan ukuran ‘anu’ tertentu. Bahwa orang gemuk makannya rakus, atau lelaki—sesoleh apa pun—selalu memikirkan urusan seks.

Yang

menarik justru penggambaran Toni, satu karakter pendukung dengan wajah yang berasal dari wilayah Timur Indonesia. Tokoh yang dimainkan komika Abdur Arsyad ini tidak digambarkan layaknya orang dari daerah tertinggal--stereotip yang sayangnya masih lekat dengan daerah Timur Indonesia. Tokoh ini, diposisikan sederajat dan sama bandelnya dengan karakter lain dalam film ini. 

Abdullah v Takeshi (YouTube)

Mengingat dalam film ini Kemal Palevi memegang tiga tugas sekaligus, yakni sutradara, penulis, dan pemain, sebenarnya mudah saja baginya untuk tampil begitu menonjol dalam film ini. Namun, bukan jalan itu yang ia pilih.

Kemal memilih untuk berbagi kelucuan dengan para pemain lainnya. Tak hanya dengan Dion Wiyoko yang memainkan Abdullah, namun hingga peran pendukung film ini. Seperti Mike Lucock dan Natalie Sarah yang memerankan orangtua Abdullah, misalnya. Hampir semua memiliki momen bersinarnya sendiri.

Kemal Palevi membintangi, menyutradarai sekaligus menulis skenario Abdullah v Takeshi (YouTube)

Sayangnya, justru peran Kemal sebagai Takeshi menjadi kurang bersinar dalam film ini. Justru lawan mainnya, Dion Wiyoko, yang lebih menonjol karena banyak memancing tawa penonton. Selain itu, yang harus diperhatikan dalam film ini, adalah pacing dalam film ini yang terasa tidak konsisten, terutama di bagian akhir film. Konklusi film, terasa begitu mendadak dan terasa instan.

Ada satu hal lain dari film ini yang patut diapresiasi, yakni keberanian Kemal memasukkan adegan emosional yang memiliki atmosfer serius ke dalam film komedi ini. Ini, tak merusak ritme film, justru memperkaya nuansa dalam Abdullah v Takeshi.

Dion Wiyoko dalam Abdullah v Takeshi (YouTube)

Kesimpulannya, Abdullah v Takeshi bisa dipilih bila Anda menginginkan satu tontonan ringan yang menghibur. Yang patut diingat, kentalnya humor dewasa dalam film ini membuat Anda sebaiknya tidak membawa anak-anak untuk ikut menonton film ini bersama Anda. (Rtn/fei)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ferry NoviandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan