The Finest Hours: Pertarungan Hidup-Mati di Ganasnya Laut

Sebuah bencana terbelahnya kapal tanker diadaptasi dalam film The Finest Hours.

Diterbitkan 01 Februari 2016, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

The Finest Hours (Walt Disney Studios)

Satu hal yang tak bisa dibantah, kekuatan terbesar The Finest Hours adalah segala drama yang terjadi di laut. Mulai dari dahsyatnya special effect yang menggambarkan badai dan saat kecelakaan terjadi, juga kekalutan di atas Pendleton. Apalagi, mudah rasanya bersimpati pada awak kapal Pendleton dan regu penyelamat. Ada Tiny, tukang masak bertubuh raksasa yang berhati lembut, juga Ervin Maske, anak bawang di regu penyelamat yang masih lugu.

Sayang, pacuan adrenalin dan plot yang terjalin cukup rapat di laut tak bisa diimbangi dengan laju cerita di darat. Hampir seluruh bagian yang menampilkan sosok Miriam di daratan, berjalan kendor, bahkan sudah masuk taraf cukup mengganggu. Kala para lelaki di lautan bertarung menghadapi maut, tokoh Miriam—yang ironisnya digambarkan sebagai perempuan kuat—berkubang dalam emosinya sendiri.
Untungnya di bagian akhir ia masih memegang satu peran cukup krusial, sehingga porsi kehadirannya yang cukup banyak tak terlalu mubazir.

>The Finest Hours (Walt Disney Studios)

 

Cukup masuk akal bila sang sutradara Craig Gillespie menginginkan adanya bumbu romansa dalam film ini . Mengingat film ini berdasarkan kisah nyata, dramatisasi kisah cinta ini mungkin dimaksudkan sebagai satu hal baru yang disuntikkan dalam film ini. Hanya saja, ia rupanya gagal merajut agar drama di darat sama menarik, atau setidaknya memperkuat drama yang terjadi di samudera.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan