Resensi The Program: Membongkar Kedok Busuk Lance Armstrong

Film ini merekam momen kejayaan dan kejatuhan Lance Armstrong secara gamblang.

Diterbitkan 29 Januari 2016, 20:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Petikan berita ditempelkan di sejumlah bagian film, memperkuat kesan bahwa film ini diangkat berdasarkan kejadian nyata.

Trailer film biografi The Program yang berkisah tentang pembalap sepeda pengguna doping Lance Armstrong telah muncul.

Sebagai sebuah film olahraga, film yang dirilis pada Jumat (29/1/2016) ini cukup berhasil menjelaskan pada penonton awam cara kerja tim sepeda dalam sebuah kejuaraan. Sejumlah shoot cantik pun dimunculkan. Salah satunya adalah saat mata kamera mengikuti sepeda Lance Armstrong yang melaju di sela-sela pegunungan, melesat dan menyalip lawan-lawannya. Penonton seperti diajak bermanuver bersama sang atlet menyusuri rute kejuaraan.

Salah satu hal yang menarik di film ini, adalah penggambaran teknik doping yang dilakukan Armstrong, berikut strategi tim dalam menutupi aksi ilegal tersebut. Ya, penggunaan doping ini dilakukan secara ‘berjamaah’ di dalam tim, dengan cara yang rasanya akan membuat penonton geleng-geleng kepala.

Trailer film biografi The Program yang berkisah tentang pembalap sepeda pengguna doping Lance Armstrong telah muncul.

Sementara itu, seperti duduk di sadel sepeda Armstrong, film ini melaju dengan kecepatan tinggi. Hal ini, membuat penonton tak sempat merasa bosan mengikuti film yang sebenarnya merupakan rangkuman perjalanan karir Lance Armstrong selama belasan tahun.

>
Sayangnya, setelah berhasil membangun ketegangan dan rasa gemas penonton, akhir film ini terasa kurang ‘menonjok’. Bagian pamungkas terasa begitu tergesa-gesa disampaikan. Tak banyak eksplorasi yang dilakukan sutradara sejak terkuaknya skandal doping hingga keputusan Lance Armstrong untuk mengaku di talkshow Oprah Winfrey.

Poster film The Program (IGN)

Ada pun pemilihan Ben Foster sebagai Lance Armstrong adalah salah satu keputusan tepat di film ini. Tak hanya kemiripan fisik, ia juga memberi penampilan meyakinkan sebagai Lance Armstrong. Foster menampilkan perubahan karakter sosok Lance Armstrong dari seorang protagonis menjadi antagonis secara meyakinkan.

Awalnya ia digambarkan memiliki konflik batin karena kebohongannya, namun belakangan ia berubah sebagai sosok tamak yang tak segan menindas siapa pun yang berniat membuka kedoknya.

>Hidup Lance Armstrong sendiri mengingatkan saya pada sebuah quote dalam film The Dark Knight. You either die a hero, or live long enough to see yourself become the villain. Pilihannya antara kamu mati sebagai pahlawan, atau hidup cukup lama dan melihat dirimu menjadi bajingan. The Program, dengan jelas menegaskan bahwa kini, Lance Armstrong bukanlah seorang pahlawan. (fei)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ferry NoviandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan