Ip Man 3, Antara Nasionalisme Tiongkok dan Drama Keluarga

Telaah mendalam wartawan kami atas muatan propaganda Tiongkok di film-film Ip Man serta film anyarnya, Ip Man 3.

Diterbitkan 29 Desember 2015, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PERINGATAN: SPOILER ALERT! Ulasan ini memuat bocoran cerita film Ip Man 3.

I.

"Guru yang baik melindungi muridnya dari pengaruhnya sendiri."
—Bruce Lee—

>Kenapa ada begitu banyak film Ip Man dibuat sineas Hong Kong?

Syahdan, kita pertama bertemu Ip Man (dibaca “Yip-Man” dalam dialek Kanton) di bioskop tahun 2008 silam. Setelahnya kita menyaksikan Ip Man, sang jago kung fu di lima film yang sudah dibuat: Ip Man 2 (2010), Ip Man: The Legend is Born (2010), Ip Man: The Final Fight (2013) dan The Grandmaster (2013). Saat ini kita di bioskop di suguhi film Ip Man anyar, Ip Man 3.

Pertanyaan di atas saya tanyakan pada Dennis To, mantan atlet wushu yang juga pemeran Ip Man muda di Ip Man: The Legend is Born, ketika ia berada di Indonesia di tengah turnamen wushu dunia November silam.

Baca Juga

l class="baca-juga__list">
  • Film Hong Kong Dulu dan Kini
  • EKSKLUSIF Wawancara Dennis To, Tentang Wushu dan Ip Man
  • Philip Ng dan `Once Upon a Time in Shanghai`
  • "Pertama karena Ip Man adalah guru Bruce Lee," jawab Dennis. Ya, sebelum jadi bintang film kung fu yang mendunia, Bruce Lee berguru pada Ip Man. Makanya, orang penasaran seperti apa orang yang berjasa melatih Bruce Lee kung fu.

    Kedua, katanya, aliran kung fu yang dibawa Ip Man: wing chun. "Orang mungkin sudah bosan dengan gerakan kung fu yang itu-itu melulu. Mereka butuh sesuatu yang baru. Hal itu ada pada aliran kung fu wing chun."

    Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

    Lanjut Baca:

    Jawaban Dennis sungguh jitu. Tapi dari telusuran di dunia maya saya menemukan artikel di laman National Public Radio (NPR) yang memberi tahu kenapa sineas Hong Kong banyak memfilmkan kisah Ip Man. "Ip Man kurang dikenal publik sampai dibuat filmnya," kata Grady Hendrix, pendiri New York Asian Film Festival. "Waktu itu belum ada orang yang bilang, 'Duh, semoga ada yang memfilmkan kisah hidup Ip Man!'" Katanya lagi, sebetulnya sineas Hong kong awalnya ingin memfilmkan kisah hidup sosok yang lain: Bruce Lee. Tapi keluarga Lee sangat mengontrol imej sang aktor kung fu legendaris itu. Aturan ruwet dan ketat mereka terapkan. (keluarga akhirnya merestui sebuah film tentang Bruce Lee muda di Bruce Lee, My Brother, rilis 2010.) Kemudian sineas Hong Kong mengarahkan target pada apa yang disebut "the next big thing" yakni, ya itu tadi: Ip Man, guru Bruce Lee. Pendeka kata, prinsipnya, “Tak dapat muridnya, gurunya pun jadi.” Film Ip Man pertama rupanya sukses besar. Film itu meroketkan kembali nama Donnie Yen sebagai bintang kung fu. Selama ini Donnie berada di bawah bayang-bayang Jet Li atau Jackie Chan. Lewat Ip Man (2008), ia bisa duduk dalam satu barisan bintang kung fu. Bila Anda ingat, jagat sinema Hong Kong selalu mencari tokoh jagoan baru dari dunia nyata untuk difilmkan. Selama bertahun-tahun pada akhir 1980-an dan 1990-an dibuat film-film kung fu yang mengangkat tokoh pahlawan Tiongkok, Wong Fei Hung dan Fong Sai Yuk. Jet Li angkat nama sebagai Wong Fei Hung di Once Upon a Time in Chine (Kung Fu Master, 1989) karya Tsui Hark. Film itu dibuat sampai beberapa jilid di tahun 1990-an. Selain itu ia juga jadi Fong Sai Yuk di The Legend of Fong Sai Yuk (King of Kung Fu, 1993) karya Corey Yuen. Menginjak dekade 2000-an, Jet Li sebetulnya berpotensi mengangkat jagoan kung fu dari tokoh nyata jadi franchise baru. Pada 2006 ia memerankan Huo Yuanjia di Fearless. Namun, penggambaran sang jagoan di film itu malah berujung gugatan dari pihak keluarga. Huo Yuanjia pun tak bernasib seperti Wong Fei Hung. Ip Man lain. Pihak keluarganya sepertinya tak mempermasalahkan kisah hidup sang jago kung fu difilmkan sebegitu rupa. Bila Anda mengikuti semua film tentang Ip Man bakal ketemu kepribadian sang jago kung fu yang kurang mengenakkan bagi pandangan umum. Di beberapa filmnya, Ip Man diceritakan bukan tipe pria setia pada sang istri. Penggambaran macam begini pada sebuah tokoh legendaris yang telah tiada membutuhkan kedewasaan tersendiri dari pihak keluarga sebagai ahli waris. Film-film Ip Man bila dicermati terdiri atas tiga jalur. Tiga film Ip Man yang dibintangi Donnie Yen (termasuk Ip Man 3) berada di jalur cerita yang disutradarai Wilson Yip. Jalur kedua kisah Ip Man yang disutradarai Herman Yau, yakni Ip Man: The Legend is Born dan Ip Man: The Final Fight. Jalur ketiga kisah Ip Man yang dibesut sutradara arthouse Hong Kong, Wong Kar Wai, The Grandmaster. Cerita berbagai versi dari satu tokoh nyata yang pernah hidup bukan kali pertama terjadi di perfilman Hong Kong. Mengecek laman Wikipedia, Anda bakal ketemu Wong Fei Hung berkali-kali diceritakan kisah hidupnya di film dan serial TV sejak 1970-an, bukan hanya lewat Once Upon a Time in China-nya Jet Li saja.

    Halaman
    Show All
    Ade Irwansyah, Ferry NoviandiTim Redaksi
    Share
    Copy Link
    Batalkan