REVIEW Minions, `Terima Kasih` Stuart, Kevin dan Bob

Di Minions, spanjang satu setengah jam durasi film, para minion yang jadi fokus cerita. Berhasilkah?

Diterbitkan 17 Juni 2015, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ceritanya dimulai saat sang waktu juga baru dimulai. Manusia belum menghuni Bumi. Di awal film kita diajak mengenal proses evolusi makhluk minion dari jentik di dasar samudera sejak zaman pra sejarah.

Minion lahir dengan satu insting: mengabdi pada sang tuan nan perkasa. Perkasa di sini bisa berarti banyak hal. Ia bisa berarti makhluk hidup yang buas seperti dinosaurus T-rex, ataupun manusia gua. Bisa juga penguasa seperti raja zaman Mesir kuno hingga Napoleon.

Pada akhirnya, ada satu masa para minion tak kunjung menemukan sang tuan tempat mereka bergantung sebagai pelayan. Hal itu membuat hidup mereka tak bergairah.

Adegan film Minions. (dok.Universal)

Syahdan, ada seorang minion bernama Kevin punya inisiatif mencarikan tuan baru bagi mereka. Bersama dua minion lain, Stuart dan Bob, mereka mengarungi tanah bersalju dan menyeberangi samudera mencari sang tuan.

Dalam petualangannya, tiga minion itu terdampar ke New York di tahun 1968. Dari New York, mereka ke Orlando, mengunjungi konferensi para penjahat—semacam event ComiCon di San Diego tapi yang ini ditujukan bagi kaum kriminal.

Di konferensi itu mereka bertemu Scarlett Overkill (suaranya diisi Sandra Bullock), ratu penjahat. Kevin, Bob, dan Stuart lalu mengabdi pada Scarlett yang punya misi utama mencuri mahkota Ratu Inggris.

Adegan film Minions. (dok.Universal)

Dengan plot cerita seperti di atas, Pierre Coffin dan Kyle Balda berhasil memenuhi tantangan mengajukan minion sebagai tokoh utama.

Minions sejatinya film yang mengandalkan bahasa gambar seperti defenisi film sebagai gambar bergerak. Kelucuan dibangun bukan atas dialog. Coffin dan Balda menyuguhkan tontonan yang mengandalkan bahasa gambar. Setiap polah minion berhasil mengundang kita tertawa. Hampir setiap momen di filmnya mengocok perut kita.

Nah, lantaran fokus pada polah lucu para makhluk kuning nan mini, di sini kemudian Minions terasa kekurangan pesan moral sebagai film animasi yang disuguhkan bagi bocah. Di franchise Despicable Me pesan moralnya adalah mengubah perilaku jahat menjadi baik. Minions lebih terasa sebagai spin-off atau cerita samping (side-story) biasa dari kisah yang sudah kita akrabi. Ia juga pas bila disebut sebuah prekuel atau cerita sebelum film Despicable Me.

Maka, sineasnya memang tak perlu repot-repot memberi kita pesan moral. Ia sudah menunaikan tugasnya dengan baik. Untuk itu kita patut berterima kasih. Ya, seperti minion yang bilang “terima kasih” di ujung film.** (Ade/Rul)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan