Dana Asing Keluar Usai Rebalancing FTSE Russell, Saham Big Caps Berpotensi Bangkit

Meski dibayangi aksi jual akibat rebalancing FTSE Russell, IHSG yang sudah jenuh jual (oversold) berpeluang technical rebound dalam jangka pendek.

Diterbitkan 25 Mei 2026, 16:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan pasca rebalancing indeks global FTSE Russell yang memicu arus keluar dana asing dari pasar saham domestik. Meski demikian, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai peluang technical rebound mulai terbuka seiring kondisi pasar yang sudah sangat jenuh jual.

Berdasarkan catatannya, IHSG mencatat net foreign sell harian sebesar Rp 1,07 triliun, sementara secara year-to-date dana asing yang keluar mencapai Rp 51,42 triliun. Adapun kinerja IHSG sejak awal tahun tercatat turun 28,74%.

“Secara teknikal, IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI,” ujar Nafan kepada Liputan6.com, Senin (25/5/2026).

Ia menambahkan, seiring IHSG yang telah berhasil menguji target “wave 5 / A alt.” dan membentuk pola bullish pin bar, fase pelemahan indeks diperkirakan mulai terbatas dalam jangka pendek. Menurut dia, peluang technical rebound terutama dapat terjadi pada saham-saham kapitalisasi besar yang sebelumnya terkoreksi cukup dalam.

“Adapun peluang technical rebound dapat terjadi terutama pada saham-saham big caps yang sudah terkoreksi dalam,” katanya.

Nafan menjelaskan, keluarnya saham seperti DSSA dari indeks memang berdampak terhadap sentimen pasar. Namun, bobot saham tersebut terhadap pergerakan harian IHSG dinilai tidak sebesar saham-saham super big caps seperti BBRI, BBCA, BMRI, maupun TLKM.

Dari sisi sektoral, ia menilai saham energi dan komoditas masih relatif kuat karena ditopang tingginya harga energi global.

Sementara itu, sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan global, termasuk respons positif investor terhadap pernyataan Donald Trump mengenai potensi kesepakatan perdamaian dengan Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.

Di dalam negeri, pelemahan rupiah ke level Rp 17.717 per dolar AS juga masih menjadi perhatian pasar, meski Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. Investor kini cenderung bersikap wait and see terhadap efektivitas kebijakan tersebut dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

FTSE Keluarkan Empat Saham Indonesia dari Indeks Global Equity

Sebelumnya, penyedia indeks global FTSE Russell mengeluarkan empat saham emiten Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series pada June 2026 Quaterly Review.  Perubahan tinjauan triwulanan oleh FTSE ini akan berlaku efektif pada Senin, 22 Juni 2026 (setelah penutupan perdagangan pada Jumat, 19 Juni 2026).

Empat saham yang dikeluarkan itu antara lain saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dalam kategori large cap atau kapitalisasi besar. FTSE juga mengeluarkan tiga saham dalam perhitungan kategori micro cap antara lain PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA).

Adapun FTSE mengeluarkan saham DSSA seiring masuk dalam saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Sebelumnya FTSE mengumumkan dalam Index Treatment for the June 2026 Index Review yang dirilis Rabu 13 Mei 2026 yang memberikan sinyal peluang penghapusan saham HSC. FTSE Russell menyebutkan, jika sebuah perusahaan menjadi subjek peringatan konsentrasi kepemilikan saham dari otoritas bursa, dengan saham konsentrasi kepemilikan tinggi, saham itu akan dikeluarkan dari indeks pada tinjauan berikutnya.

Sementara itu, FTSE mengeluarkan saham DAAZ dari kategori micro karena gagal memenuhi syarat minimal free float atau saham beredar di publik. Sedangkan saham HILL dan MLIA dikeluarkan oleh FTSE karena gagal lolos proses pemantauan yang dilakukan FTSE terhadap kualitas perdagangan dan struktur kepemilikan saham di pasar.