Starlink Moncer, Bisnis AI Tekan Laba SpaceX Menjelang IPO

SpaceX merilis kinerja keuangan hingga 31 Maret 2026 menjelang IPO.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 12:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - SpaceX mengungkapkan laporan keuangan kepada investor seiring langkah SpaceX mengajukan prospektus dalam rangka penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) kepada Komisi Sekuritas dan Bursa atau the Securities and Exchange Commission (SEC) menjelang roadshow dengan investor. Rencananya roadshow dilakukan pada 5 Juni 2026. Dari laporan keuangan itu menunjukkan, segmen konektivitas dan ruang angkasa berkontrusi sebagian besar terutama dari Starlink.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Kamis, (21/5/2026), SpaceX mengungkapkan pendapatan konsolidasi sebesar USD 4,69 miliar hingga 31 Maret 2026. Perusahaan roket yang akan memakai kode saham SPCX di Nasdaq ini mengalami kerugian operasional USD 1,94 miliar dan earning before interest, tax, depreciation and amortization (EBITDA) yang disesuaikan sebesar USD 1,12 miliar.

Pada 2025, SpaceX meraup pendapatan konsolidasi USD 18,67 miliar dan kerugian operasional USD 2,58 miliar serta EBITDA yang disesuaikan sebesar USD 6,58 miliar.

SpaceX menyebutkan segmen space and connectivity atau segmen ruang angkasa dan konektivitas memberikan kontribusi sebagian besar pendapatan konsolidasi dalam tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026.

Segmen konektivitas terutama didorong oleh Starlink menghasilkan pendapatan sebesar USD 3,25 miliar hingga 31 Maret 2026. Laba operasi sebesar USD 1,18 miliar dan EBITDA yang disesuaikan sebesar USD 2,08 miliar.

Pada 2025, unit ini melaporkan pendapatan sebesar USD 11,38 miliar, laba operasional sebesar USD 4,42 miliar dan EBITDA yang disesuaikan sebesar USD 7,16 miliar yang mewakili pertumbuhan tahunan masing-masing sebesar 49,8%, 120,4% dan 86,2%/

SpaceX  mengatakan telah mengerahkan lebih dari 9.600 satelit Starlink dan memiliki 10,3 juta pelanggan pada akhir Maret.

Segmen Antariksa SpaceX terdiri dari bisnis peluncuran roketnya menghasilkan pendapatan sebesar USD 619 juta, kerugian operasi sebesar USD 662 juta dan kerugian EBITDA  yang disesuaikan sebesar USD 351 juta hingga 31 Maret 2926.

Pada 2025, segmen Antariksa menghasilkan pendapatan sebesar USD 4,086 miliar, kerugian operasional sebesar USD 657 juta dan EBITDA yang disesuaikan sebesar USD 653 juta.

 

Segmen AI SpaceX

SpaceX mengungkapkan telah menghabiskan lebih dari USD 15 miliar untuk mengembangkan roket generasi berikutnya, Starship, yang akan mengangkut sejumlah besar kargo dan berpotensi bertindak sebagai wahana pendarat bulan. USD 15 miliar ini lebih banyak dari anggaran awal SpaceX untuk proyek tersebut; Starship akan melakukan misi uji coba ke-12 pada akhir pekan ini.

Segmen AI SpaceX, yang mencakup bisnis xAI dan sekarang disebut "SpaceXAI," mencatatkan pendapatan sebesar USD 818 juta, kerugian operasional sebesar USD 2,469 miliar, dan kerugian EBITDA yang disesuaikan sebesar USD 609 juta hanya pada kuartal Maret 2026. SpaceX mengatakan segmen AI mengalami kerugian sebesar USD 6,355 miliar pada 2025.

Kerugian operasional SpaceX sebagian besar disebabkan oleh segmen AI; segmen SpaceX yang lama (Space dan Connectivity) menguntungkan baik secara operasional maupun EBITDA. Kuartal I 2026 menunjukkan kerugian operasional yang semakin dalam secara berurutan seiring dengan dimulainya konsolidasi xAI selama satu kuartal penuh.

 

IPO SpaceX

SpaceX diharuskan untuk mengajukan prospektusnya secara publik 15 hari sebelum roadshow IPO dimulai. Roadshow memulai proses di mana SpaceX dan penjamin emisi menawarkan penawaran kepada investor besar dan perusahaan pialang, menyelesaikan harga IPO sebelum debut publik saham yang sebenarnya.

SpaceX secara rahasia mengajukan dokumen S-1 ke SEC pada April untuk mendapatkan umpan balik mengenai IPO yang akan datang. Pada saat itu, SpaceX dilaporkan menargetkan untuk mengumpulkan dana hingga USD 75 miliar atau Rp 1.322 triliun dalam penawaran sahamnya dan valuasi mendekati USD 1,8 triliun. Hal itu menjadikan perseroan mudah melampaui perusahaan seperti Tesla (TSLA) milik CEO Elon Musk, yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 1,4 triliun.

Setelah saham dialokasikan kepada investor institusional dan lainnya, prospektus final dirilis, dan saham mulai diperdagangkan pada hari berikutnya setelah penetapan harga penawaran.

Bagi Musk, IPO SpaceX adalah puncak dari mimpinya untuk membangun roket yang dapat digunakan kembali dan mengkolonisasi Mars. Ia mendirikan perusahaan tersebut pada 2002, dan pada 2012, SpaceX mulai mengirimkan kargo dengan roket ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Salah satu faktor utama yang mendorong valuasi SpaceX adalah Starlink, layanan internet berbasis satelit yang mulai beroperasi pada 2019. Starlink menghasilkan sebagian besar keuntungan SpaceX, dan pertumbuhannya mungkin menjadi alasan mengapa IPO SpaceX akan menguntungkan saat ini.