Produksi Bijih Nikel Melonjak 78%, MBMA Pacu Proyek HPAL dan AIM

MBMA mencatat lonjakan produksi bijih 78% pada paruh pertama 2025, sembari mempercepat pembangunan proyek HPAL dan AIM.

Diterbitkan 28 September 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melaporkan kinerja solid pada paruh pertama 2025 meski menghadapi penurunan pendapatan akibat pemeliharaan smelter. Perusahaan mencatat pertumbuhan besar pada produksi bijih nikel dan kemajuan proyek-proyek strategis yang menjadi fondasi bisnis jangka panjang.

Sepanjang Januari–Juni 2025, MBMA membukukan pendapatan sebesar USD 628 juta, turun 32% secara tahunan (YoY). Meski demikian, EBITDA hanya turun 8% ke USD 77 juta, mencerminkan ketahanan margin perusahaan.

Bahkan pada kuartal II 2025, EBITDA tumbuh 33% YoY setelah disesuaikan dengan dampak pengurangan produksi Nikel Matte Kadar Tinggi (HGNM).

Tambang nikel SCM memproduksi 6,9 juta wmt bijih nikel, melonjak 78% YoY. Produksi limonit naik 45%, sementara saprolit meningkat tajam 189%. Capaian ini diperoleh berkat investasi pada infrastruktur dan kemampuan tambang dalam 12–18 bulan terakhir.

Presiden Direktur MBMA, Teddy Oetomo, menyatakan bahwa pertumbuhan produksi bijih dan kemajuan proyek strategis menjadi bukti ketangguhan operasional perseroan.

“Meskipun pemrosesan sempat terpengaruh pemeliharaan, peningkatan ini akan menurunkan biaya dan memperkuat daya saing jangka panjang kami,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (28/9/2025)

Menurut Teddy, keberlanjutan pertumbuhan bijih nikel dan kemajuan proyek HPAL serta AIM akan menjadi pilar transformasi MBMA di masa depan.

 

 

Proyek Strategis

Di sisi lain, pabrik smelter Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) menghasilkan 33.045 ton NPI, turun 23% YoY karena perawatan terjadwal. Namun, langkah ini diyakini akan meningkatkan efisiensi dan menekan biaya ke depan.

Biaya tunai NPI pada kuartal II 2025 tercatat USD 9.719 per ton, untuk pertama kalinya turun di bawah USD 10.000 per ton.

MBMA juga terus melaju dengan proyek-proyek strategis. Pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) yang dikelola PT ESG New Energy Material berhasil menjual 9.465 ton nikel dalam MHP dari Train A, sementara Train B mulai berproduksi pada akhir kuartal II 2025.

Proyek HPAL lain, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC), berkapasitas 90.000 ton nikel per tahun, kini sudah mencapai 29% dan menargetkan commissioning train pertama pada pertengahan 2026.

Pembangunan fasilitas pendukung berupa dua Feed Preparation Plant (FPP) dan pipa slurry ditargetkan selesai pada akhir 2025 hingga pertengahan 2026.

Pabrik Logam Klorida

Selain itu, proyek Acid, Iron, and Metal (AIM) yang dioperasikan PT Merdeka Tsingshan Indonesia juga menunjukkan progres signifikan.

Pabrik pirit dan asam telah beroperasi penuh, sementara pabrik logam klorida dan katoda tembaga dijadwalkan meningkatkan produksi pada akhir tahun ini.