Sukses

Saham ENVY Berpotensi Delisting meski Baru IPO 2019, Ini Kata BEI

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan potensi delisting PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY).

Mengutip laman BEI, ditulis Senin (5/12/2022), saham ENVY telah disuspensi atau dihentikan sementara perdagangannya selama 24 bulan pada 1 Desember 2022.

Hal ini merujuk Pengumuman Bursa No.: Peng-SPT-00013/BEI.PP1/12-2020 tanggal 1 Desember 2020 perihal Penghentian Sementara Perdagangan Efek PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) dan Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa, Bursa dapat menghapus saham Perusahaan Tercatat apabila:

a. Ketentuan III.3.1.1, Mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha Perusahaan Tercatat, baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status Perusahaan Tercatat sebagai Perusahaan Terbuka, dan Perusahaan Tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

 b. Ketentuan III.3.1.2, Saham Perusahaan Tercatat yang akibat suspensi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

“Merujuk ketentuan III.3.1.2 peraturan bursa nomor I-I tentang penghapusan pencatatan atau delisting dan pencatatan kembali atau relisting perseroan memenuhi kriteria penghapusan pencatatan di BEI,” demikian mengutip laman BEI.

Perseroan yang dinilai penuhi kriteria delisting padahal baru tercatat di BEI pada 8 Juli 2019.

Adapun susunan pemegang saham berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek perseroan per 31 Januari 2022 yaitu Weiser Global Capital sebesar 6,01 persen, Mohd Sopiyan Bin Mohd Rashdi sebesar 0,21 persen, Hazmi Bin Hussain sebesar 0,41 persen dan masyarakat 93,37 persen.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Imbauan kepada Investor

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menuturkan, saat ini perseroan telah masuk ke dalam daftar efek pemantauan khusus dai dikenakan notasi khusus. Adapun notasi khusus tersebut antara lain:

1.L: Perusahaan Tercatat belum menyampaikan laporan keuangan.

2.S: Laporan keuangan terakhir menunjukkan tidak ada pendapatan usaha.

3.Y: Perusahaan Tercatat yang belum menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sampai dengan 6 (enam) bulan setelah tahun buku berakhir.

4.X: Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus.

“Bursa selanjutnya akan melakukan delisting, mengumumkan informasi jajaran Direksi, Dewan Komisaris dan pemegang saham pengendali yang tercatat pada saat pailit terjadi dan memasukkan ke dalam database Bursa,” ujar Nyoman kepada wartawan, ditulis Senin (5/12/2022).

Ia menambahkan. bursa juga akan melarang pihak-pihak  tersebut untuk menjadi direksi, dewan komisaris atau pengendali perusahaan yang akan tercatat di Bursa (pihak-pihak dalam catatan khusus).

“Sesuai dengan POJK No. 3/POJK.04/2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal Perusahaan, perusahaan yang telah dilakukan delisting oleh Bursa, diwajibkan untuk melakukan pembelian kembali dan go private,” kata dia.

Nyoman menuturkan, hal ini juga merupakan upaya untuk melindungi hak-hak investor di pasar modal. Ia mengatakan, investor wajib mengetahui risiko-risiko dari setiap efek yang dipilih untuk berinvestasi di pasar modal. Untuk itu, investor wajib memperhatikan setiap keterbukaan informasi dari perusahaan terkait sehingga dapat segera mengambil keputusan investasi yang terbaik.

3 dari 4 halaman

Penutupan IHSG pada 2 Desember 2022

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona merah hingga penutupan perdagangan saham Jumat, (2/12/2022). Sektor saham industri dan teknologi menekan laju IHSG.

Mengutip data RTI, IHSG ditutup turun tipis 0,02 persen ke posisi 7.019,63. Indeks LQ45 terpangkas 0,64 persen ke posisi 989,59. Sebagian besar indeks acuan tertekan. Pada Jumat pekan ini, koreksi IHSG menjadi terbatas. IHSG bergerak di posisi tertinggi 7.021,81 dan terendah 6.967,95. Sebanyak 330 saham melemah dan 213 saham menguat. 169 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 1.081.310 kali dengan volume perdagangan saham 49,2 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 15,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 15.441.

Mayoritas indeks sektor saham tertekan yang dipimpin sektor saham industri. Sektor saham industr merosot 1,76 persen, diikuti sektor saham teknologi terpangkas 1,24 persen. Diikuti sektor saham keuangan susut 0,46 persen, sektor saham transportasi melemah 0,18 persen, sektor saham basic turun 0,16 persen dan sektor saham properti melemah 0,04 persen.

Sementara itu, sektor saham energi menguat 1,51 persen, dan pimpin penguatan. Diikuti sektor saham infrastruktur bertambah 0,16 persen, sektor saham siklikal naik 0,11 persen, sektor saham nonsiklikal mendaki 0,09 persen dan sektor saham kesehatan bertambah 0,03 persen. Jelang akhir pekan ini, saham GOTO tertekan lagi dan kembali auto rejection bawah (ARB). Saham GOTO turun 6,38 persen ke posisi Rp 132 per saham. 

"Kami mencermati IDX Techno masih menjadi sektor pemberat laju IHSG dan dipimpin oleh GOTO yang masih ARB. Namun, IDX Energy diakhir sesi menjadi pendorong laju indeks sehingga pelemahan IHSG menjadi tipis,” ujar Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana saat dihubungi Liputan6.com.

4 dari 4 halaman

Penutupan Bursa Saham Asia pada 2 Desember 2022

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik sebagian besar turun pada perdagangan Jumat, 2 Desember 2022. Sementara itu, investor mencari kejelasan setelah China isyaratkan sedikit pelonggaran pembatasan COVID-19 yang ketat.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 merosot 1,59 persen ke posisi 27.777,90. Indeks Topix terpangkas 1,64 persen ke posisi 1.953,98. Indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,84 persen ke posisi 2.434,33.

Hal ini seiring Korea Selatan melaporkan indeks harga konsumen tahunan pada November 2022 lebih rendah dari bulan sebelumnya. Inflasi Korea Selatan mencapai 5 persen, lebih rendah dari estimasi survei Reuters sebesar 5,1 persen. Di Australia, indeks ASX 200 turun 0,72 persen ke posisi 7.301,5.

Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,15 persen. Di bursa saham China, indeks Shanghai melemah 0,29 persen dan indeks Shenzhen terpangkas 0,4 persen. Semalam di Amerika Serikat, indeks Dow Jones ditutup turun hampir 200 poin lebih rendah menjelang laporan pekerjaan utama. Ekonom perkirakan pertumbuhan lebih lambat tetapi bertahan pada November 2022 di tengah pengumuman PHK dan pembekuan perekrutan.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS