Sukses

BEI Buka Gembok, Bagaimana Gerak Saham DCII dan JAST?

Liputan6.com, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka penghentian semetara perdagangan (suspensi) saham PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mulai sesi I, Kamis (28/1/2021).

BEI buka suspensi saham JAST dan DCII di pasar reguler dan pasar tunai.  Sebelumnya BEI suspensi saham DCII pada 22 Januari 2021 seiring terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham DCII.

Sedangkan saham JAST disuspensi oleh BEI sejak perdagangan saham 7 Januari 2021. Suspensi saham JAST juga dilakukan seiring terjadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan.

Lalu bagaimana gerak saham DCII dan JAST setelah dibuka sahamnya oleh BEI?

Mengutip data RTI, saham DCII naik 25 persen ke posisi 5.975 per saham. Saham DCII sempat naik 10 poin ke posisi 4.790 pada pembukaan perdagangan. Saham DCII berada di level tertinggi 5.975 dan terendah 4.780 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 389 kali dengan nilai transaksi Rp 2,1 miliar.

Sementara itu, saham JAST merosot 6,49 persen ke posisi 288 per saham. Saham JAST dibuka turun 20 poin ke posisi 288 per saham. Saham JAST di level tertinggi dan terendah 288 per saham. Total frekuensi perdagangan 100 kali dengan nilai transaksi Rp 176,5 juta.

 

2 dari 3 halaman

Pembukaan IHSG pada 28 Januari 2021

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih lanjutkan koreksi pada perdagangan saham Kamis, (28/1/2021). Laju IHSG mengikuti bursa saham global yang tertekan.

Pada pra pembukaan perdagangan saham, IHSG turun 43,38 poin atau 0,71 persen ke posisi 6.065,71. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG merosot 1,14 persen ke posisi 6.033. Indeks saham LQ45 turun 1,3 persen ke posisi 950,61. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Sebanyak 253 saham melemah sehingga menekan IHSG. 40 saham menguat dan 109 saham diam di tempat. Pada Kamis pagi, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.065,78 dan terendah 6.019,15. Total frekuensi perdagangan saham 57.893 kali. Nilai transaksi harian saham Rp 739,8 miliar.  Investor asing beli saham Rp36,45 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran Rp 14.045.

 10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham kompak tertekan. Sektor saham infrastruktur turun 2,04 persen, dan memimpin penurunan. Diikuti sektor saham konstruksi susut 1,14 persen, dan sektor saham aneka industri tergelincir 1,06 persen.

Sejumlah saham masih ada yang catatkan penguatan di tengah tekanan IHSG. Saham DCII naik 24,48 persen, saham KOIN melonjak 20 persen, saham OKAS mendaki 16,16 persen, saham SMCB naik 10,82 persen dan saham DGNS mendaki 10,83 persen.

Sedangkan saham-saham yang anjlok antara lain saham AGII turun 7 persen ke posisi 1.395 per saham, saham AGRO merosot 6,99 persen ke posisi 865 per saham, saham HKMU turun 6,98 persen ke posisi 80 per saham, dan saham CAMP merosot 6,94 persen ke posisi 268 per saham.

Sementara itu, saham-saham yang dibeli investor asing antara lain saham BBCA sebesar Rp 17,4 miliar, saham BBRI sebesar Rp 12 miliar, saham ASII sebanyak Rp 12,2 miliar, saham INCO sebesar Rp 10,6 miliar dan saham PGAS sebesar Rp 8,5 miliar.

Sedangkan saham-saham yang dilepas investor asing antara lain saham TLKM sebanyak Rp 18,4 miliar, saham PWON sebanyak Rp 639 juta, saham TBIG sebanyak Rp 2,9 miliar.

Bursa saham Asia kompak tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng turun 1,1 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi merosot 1,19 persen, indeks saham Jepang Nikkei tergelincir 1,03 persen, indeks saham Shanghai turun 0,83 persen, indeks saham Singapura turun 1,09, dan indeks saham Taiwan tergelincir 1,44 persen.

Dalam riset PT Mirae Sekuritas memprediksi, IHSG akan tetap diperdagangkan melemah seiring sentimen negatif dari Amerika Serikat.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini