AI dan Algoritma Medsos Jadi Tantangan Baru Bagi Ketahanan Budaya Lokal

Pentingnya literasi digital sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang kritis, inklusif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

Diterbitkan 07 Juli 2025, 09:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Bakrie mengadakan Webinar Contemporary Digital Culture guna menyusun strategi menghadapi isu perkembangan kecerdasan buatan (AI), algoritma media sosial, serta perubahan pola konsumsi informasi yang dinilai membawa tantangan baru terhadap keberlangsungan budaya lokal di Indonesia.

Kepala Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Dr Prima Mulyasari Agustini mengatakan, di tengah derasnya arus digitalisasi, masyarakat dituntut tidak hanya mampu beradaptasi dengan teknologi, tetapi juga menjaga identitas budaya agar tetap relevan di ruang digital.

"Bahwa transformasi digital tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi budaya lokal, melainkan sebagai momentum untuk memperluas eksistensi dan daya saing budaya Indonesia di tingkat global," kata Prima seperti dilansir Antara.

Oleh karena itu, katanya, forum akademik bertema "Strategi Komunikasi dan Tantangan Ketahanan Budaya Lokal di Ruang Digital" ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi komunikasi, mahasiswa pascasarjana, serta pegiat budaya untuk membahas strategi menghadapi perubahan lanskap komunikasi digital.

Menurutnya, budaya lokal memiliki kemampuan untuk terus hidup apabila mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ruang digital justru membuka peluang bagi masyarakat untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan mengembangkan kekayaan budaya Indonesia kepada audiens yang jauh lebih luas.

"Yang dibutuhkan adalah strategi komunikasi yang tepat agar teknologi dan budaya dapat tumbuh secara berdampingan," ujarnya.

Selain perkembangan AI, webinar juga mengangkat berbagai fenomena yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti disinformasi, cyberbullying, echo chamber akibat algoritma media sosial, hingga menurunnya kualitas ruang publik digital.

Menurut dosen Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie Eli Jamilah Miharja perkembangan teknologi perlu dipahami tidak hanya dari sisi inovasi, tetapi juga melalui perspektif sosial dan budaya, mengingat hal tersebut berdampak pada cara masyarakat membangun relasi sosial, memahami budaya, dan membentuk identitas.

"Karena itu, pendekatan akademik melalui riset menjadi penting agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa mengikis nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa," katanya.

Webinar menghadirkan dua akademisi yang memiliki rekam jejak kuat di bidang komunikasi dan budaya digital, yakni dosen sekaligus Communication Specialist Dr Hany Nurahmawati, yang memiliki pengalaman akademik di Indonesia, Malaysia, dan Prancis, membahas dinamika komunikasi lintas budaya, branding, digital media, serta perubahan perilaku masyarakat dalam ekosistem digital.

Selain itu, Dr Bambang Sukma Wijaya pakar branding dan komunikasi pemasaran yang pernah berkarier lebih dari satu dekade di industri periklanan, mengulas perkembangan (AI), consumer culture, etika komunikasi, serta implikasinya terhadap praktik komunikasi modern.