Anak Muda Diajak Sadari Krisis Perubahan Iklim di Manado

Percepatan krisis iklim saat ini utamanya dipicu oleh aktivitas manusia seperti emisi gas rumah kaca, deforestasi, dan industrialisasi.

Diperbarui 08 September 2025, 19:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Pusat Studi Kepemiluan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) bekerja sama dengan Yayasan Partisipasi Muda (YPM) menyelenggarakan program “Academia Politica” di Kota Manado.

Melalui program ini, YPM mendorong lahirnya generasi muda Manado yang lebih sadar akan pentingnya menjadi generasi melek politik dan melakukan partisipasi bermakna, khususnya dalam menjaga kelestarian laut Manado dan mengatasi dampak perubahan iklim.

"Perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi krisis lingkungan," kata Co-chairperson Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) No-Trash Triangle Initiative, Amelia Tungka, dalam acara "Academia Politica' dengan tema "Krisis Iklim & Wisata Laut Manado: Ko Pikir Cuma Ko Yang Stress? Terumbu Karang Juga Jo! Laut So Nda Enak Lagi For Healing!" di Kota Manado.

Ia mencontohkan, salah satu kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan publik adalah dengan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, misalnya plastik, kertas, dan kaleng.

"Pemilahan sampah plastik sangat krusial karena memungkinkan proses daur ulang di pabrik, sehingga dapat mengurangi penumpukan limbah plastik dan mencegah semakin banyaknya sampah yang berakhir di laut," saran dia.

"Kalau bukan kita, siapa? Kalau bukan sekarang, kapan? Cintai alam kita demi anak cucu kita," dorong Amelia.

Senada dengan itu, Executive Director Yayasan Partisipasi Muda (YPM), Neildeva Despendya menekankan isu iklim adalah isu politik yang erat kaitannya dengan dinamika kekuasaan dan partisipasi warga.

"Apa yang penguasa dan pemerintah buat akan berpengaruh ke kehidupan pribadi anak muda juga," ungkap Neildeva dalam kesempatan yang sama.

Dia mencontohkan, salah satu kebijakan yang merusak ekosistem laut Manado adalah reklamasi dan tambang. Hal itu diyakini akan membuat orang muda bisa mengalami eco-depression hingga climate anxiety.

"Untuk itu, penting sekali agar orang muda peduli dan menyuarakan "demand" ke pemerintah untuk menjaga laut Manado, agar dampak perubahan iklim tidak semakin parah," harap Neildeva.

Menjawab suara kelompok masyarakat, Audy Dien selaku perwakilan pemerintah daerah setempat yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pemanfaatan Ruang Laut dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Sulut, menyorot pentingnya kawasan konservasi perairan sebagai solusi berbasis alam yang tidak hanya melindungi ekosistem laut, tetapi juga menjadi benteng alami untuk mitigasi bencana pesisir.

"Saya mendorong generasi muda mengadopsi gaya hidup ramah laut melalui kolaborasi lintas pihak," ajak dia.

 

Apa Kata Akademisi?

Dekan FISIP UNSRAT, Dr. Ferry Daud mewanti, untuk mengubah suatu kondisi, maka public policy adalah jalan. Menurut dia, pesan itu mengingatkan kita bahwa keterlibatan anak muda dalam proses perumusan kebijakan publik adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Menambahkan hal itu, Prof. Zetly Estefanus Tamod sebagai Guru Besar Konservasi Tanah dan Air Universitas Sam Ratulangi, menegaskan percepatan krisis iklim saat ini utamanya dipicu oleh aktivitas manusia seperti emisi gas rumah kaca, deforestasi, dan industrialisasi.

Dia pun menyoroti target pemerintah untuk menurunkan emisi hingga 50% secara nasional dan 54% khusus Sulawesi Utara, dengan dukungan regulasi seperti UU No. 32/2009 serta Peraturan Presiden terkait SDGS.

"Reklamasi pantai membawa dampak serius terhadap ekosistem pesisir dan laut, termasuk terumbu karang," tutup Prof Tamod.