Dari Tradisi ke Inovasi: Bangkitnya Wayang Topeng Duwet di Panggung dan Layar

Komunitas seni Gundala di Gunungkidul menghidupkan kembali kesenian tradisional Wayang Topeng Duwet lewat pagelaran budaya dan peluncuran film dokumenter.

OlehHendro
Diterbitkan 13 Juli 2025, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gunungkidul - Di tengah arus globalisasi yang kian deras, masyarakat Kalurahan Duwet, Gunungkidul, berupaya mempertahankan salah satu warisan budaya tak benda “Wayang Topeng Duwet”. Komunitas seni dan budaya Gundala menggelar pertunjukan rakyat di kompleks Sumur Soka, Padukuhan Jogoloyo, sekaligus meluncurkan film dokumenter sebagai bagian dari kampanye pelestarian budaya ini.

Ketua Komunitas Gundala, Albertus Juwang, menuturkan bahwa Wayang Topeng Duwet bukan hanya bentuk seni pertunjukan, tetapi sebuah filosofi hidup yang menyatu dalam keseharian masyarakat. “Pagelaran ini adalah upaya membangkitkan kembali kesadaran kolektif masyarakat untuk merawat dan melestarikan wayang topeng. Ini bukan hanya topeng atau pertunjukan, tetapi nilai-nilai hidup yang diwariskan turun-temurun,” katanya.

Wayang Topeng Duwet diperkirakan muncul sejak era Mataram Islam, berkembang sebagai bagian dari upaya penyebaran ajaran moral, nilai spiritual, serta petuah sosial melalui tokoh-tokoh pewayangan yang ditampilkan dengan topeng kayu berkarakter kuat. “Tak seperti wayang kulit yang lebih dikenal, Wayang Topeng menekankan ekspresi karakter melalui bentuk dan raut topeng, serta gerak tubuh para penari atau dalangnya.” Jelasnya.

Di masa lalu, pertunjukan ini kerap digelar dalam ritual bersih desa, upacara panen, hingga prosesi ruwatan. Dengan mengenakan topeng, sang dalang seolah merasuk dalam karakter tokoh, menyampaikan lakon yang mengandung ajaran moral dan filosofi kehidupan. “Setiap karakter dalam topeng memiliki makna simbolik mulai dari kebijaksanaan, keserakahan, keangkuhan, hingga kesucian batin,” ungkap Juwang.

Namun seiring berjalannya waktu, seni ini nyaris redup, tersisih oleh perkembangan zaman dan minimnya regenerasi dalang muda. Di sinilah Komunitas Gundala tak sekadar menghidupkan kembali pentas tradisional, tetapi juga menyasar generasi muda lewat platform digital. “Film dokumenter yang kami luncurkan ini diharapkan bisa menjadi medium edukasi sekaligus pelestarian budaya,” ujar Juwang.

Revitalisasi Lewat Media Baru

Lurah Duwet, Warsito, menyampaikan apresiasi atas kiprah para dalang muda tersebut. Ia menegaskan bahwa Wayang Topeng Duwet telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda sejak tiga tahun lalu, dan kini masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaganya.

“Ini bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga. Komunitas Gundala berperan besar dalam upaya itu, termasuk melalui film dokumenter yang mereka produksi. Saya mewakili masyarakat mengucapkan terima kasih dan mendukung sepenuhnya pelestarian budaya lokal ini,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, menyebut Wayang topeng bukan sekadar tontonan, tetapi juga tatanan ajaran hidup. Setiap topeng menggambarkan karakter, setiap lakon mencerminkan laku hidup. “Ini adalah warisan budaya adiluhung yang sarat nilai tentang kebaikan, kepribadian, dan perjuangan, mari kita hidupkan kembali seluruh bentuk seni dan budaya, demi mewujudkan Gunungkidul Raya yang adil, makmur, lestari, dan berkeadaban,” pungkasnya.