Guru Besar UGM Sebut Masuk Angin Merupakan Fenomena Budaya

Masuk angin merupakan sebuah fenomena budaya. Hal ini disampaikan oleh Dosen Antropologi FIB UGM Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A. dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Antropologi Kesehatan.

Diterbitkan 15 Juni 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Masyarakat Indonesia sering menyebut merupakan gangguan kesehatan yang dalam dunia medis tidak mengenalnya. Dosen Antropologi FIB UGM Atik Triratnawati masuk angin merupakan fenomena budaya atau fenomena antara bidang medis dan budaya.

Menurut Atik masuk angin disebut sebagai gangguan kesehatan dan dimaklumi oleh masyarakat Jawa dan selanjutnya masyarakat Indonesia secara luas. Dalam ranah budaya, masuk angin jatuh pada ranah magik atau sihir, dimana gejalanya tidak jauh berbeda dengan penyakit lain sehingga penderitanya tidak dapat melakukan kegiatan seperti biasanya.

Atik meengatakan kalangan masyarakat Jawa mengenali masuk angin ke dalam tiga kategori berbeda yakni masuk angin, biasa, masuk angin berat, dan masuk angin kasep atau angin duduk. Masuk angin biasa ini dianggap ringan dan penderitanya masih mampu melakukan kegiatan sehari-hari dengan lancar. “Gejalanya sendiri berupa kembung, panas, dan pegal-pegal,” kata Kepala Program Studi Antropologi ini dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Antropologi Kesehatan di Balai Senat UGM, Selasa 10 Juni 2025. 

Atik mengatakan masyarakat mempercayai masuk angin jenis ringan ini karena kelelahan setelah bekerja. Sementara kategori masuk angin berat terjadi ketika gejala yang tidak terlalu dirasakan oleh penderitanya. “Umumnya penderitanya sering sekali menunda makan, minum, dan istirahat karena berharap pekerjaannya akan diselesaikan dulu. Akibatnya muncul gejala-gejala tambahan seperti muntah dan mencret. Kedua gejala ini sebagai pembeda antara masuk angin biasa dan berat,” tambahnya.

Sementara jenis masuk angin kasep ini muncul karena masuk angin yang ada dibiarkan dan terlambat diatasi. Gejala awalnya tidak diperhatikan sehingga sifatnya tampak mendadak dan membuat penderitanya dapat jatuh tersungkur dan merasa nyeri dada. “Gejala yang tidak teratasi pada masyarakat awam dapat menyebabkan kematian,” katanya.

Atik menjelaskan adanya fenomena masuk angin ini diikuti dengan ragam pengobatan yang beragam pula, contohnyabeberapa pengobatan yang dilakukan perorangan bisa berbeda seperti salah satu kasus keluarga yang mengobati balitanya yang masuk angin dengan menggosokkan kotoran sapi di perut anak tersebut. Contoh lainnya ada pada salah satu petani pemilik sapi yang meminum minuman ringan (soft drink) untuk mengobati masuk angin. Dan ada pengobatan bagi orang Jawa merupakan pengobatan utama saat masuk angin yaitu kerokan. “Menggurat bagian-bagian tubuh dengan koin dan minyak gosok atau sejenisnya mampu menimbulkan rasa hangat,” terangnya.

Sementara soal kerokan di dunia medis memiliki makna yang berbeda. Anggapan pertama kerokan bisa merusak kulit dan pembuluh darah sementara di sisi lain kerokan sangat efektif mengatasi masuk angin, utamanya bila dilakukan dengan tepat.

Cara-cara kerokan pun beragam seperti dengan dimulai dari punggung bagian atas hingga pinggang atau posisi koin yang dimiringkan. Menurut Atik kerokan yang dilakukan dengan rasa sakit justru tidak efektif, sebab kerokan akan membantu pembuluh darah lancar sekaligus meningkatkan suhu tubuh. “Dengan demikian, prinsip pengobatan ini sesuai dengan prinsip pemikiran sehat-sakit dalam budaya Jawa,” ujarnya.