Ki Ageng Giring III: Menguak Jejak Leluhur Mataram Islam di Perbukitan Karst Gunungkidul

Ki Ageng Giring III dikenang sebagai leluhur raja-raja Jawa dan penyebar Islam, jejak spiritualnya masih kuat terasa di tengah masyarakat lokal, dari tradisi Babad Alas Sodo hingga situs sakral seperti Sendang Talang Warih.

OlehHendro
Diterbitkan 15 Juni 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gunungkidul - Di balik perbukitan karst yang menawan dan hamparan pohon jati yang berbaris rapi di Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, tersimpan sebuah petilasan sunyi yang menjadi denyut nadi sejarah Kerajaan Mataram Islam. Di Padukuhan Sidorejo, Kalurahan Sodo, nama Ki Ageng Giring III terus menggema dalam ingatan kolektif masyarakat, dikenang sebagai seorang pertapa sakti yang memainkan peran krusial dalam genealogi raja-raja Jawa dan penyebaran syiar Islam.

Keberadaannya, meski jarang terekspos di kancah nasional, menjadi pilar penting yang menghubungkan masa lalu dengan peradaban Jawa modern. RM. Kukuh Hertriyasning, cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VII, merasakan betul kekuatan warisan leluhur ini. "Sebagai cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VII, saya menyaksikan sendiri betapa masyarakat Sodo memuliakan warisan spiritual ini," ungkapnya.

Beliau menjelaskan bahwa Ki Ageng Giring III bukanlah sekadar tokoh lokal biasa, ia diyakini sebagai keturunan Prabu Brawijaya IV, leluhur agung para raja besar di Nusantara. "Dalam tradisi Mataram, garis keturunan bukan hanya soal darah, tetapi juga soal spiritualitas, visi, dan kesanggupan mengemban amanat besar," tegas Kukuh.

Lebih lanjut Kukuh menyoroti dimensi spiritual yang melekat pada sosok Ki Ageng Giring III. Konon, di tempat inilah, di alas Sodo, Ki Ageng Giring III menjalani laku tapa brata yang panjang, hingga kemudian dipercaya menerima "wahyu kraton," sebuah petunjuk ilahi yang menjadi penanda awal kelahiran Mataram Islam, sebuah kerajaan yang kelak akan mewarnai sejarah Jawa.

Sosok Ki Ageng Giring III tak bisa dilepaskan dari narasi besar penyebaran Islam di Jawa bagian selatan. Namanya kerap disandingkan dengan Ki Ageng Pemanahan, figur penting lain dalam proses Islamisasi wilayah tersebut. Dari bentang alam Pegunungan Sewu yang tandus dan menantang inilah, ajaran Islam berkembang dengan wajah yang sangat lentur, menyatu dengan budaya lokal. "Islam di sini tidak memaksa, tetapi menyemaikan nilai-nilai kebajikan lewat keteladanan," kata RM.

Kukuh, menggambarkan pendekatan dakwah yang arif dan bijaksana dari para leluhur. Pendekatan inilah yang memungkinkan Islam diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat Jawa, membentuk sinkretisme budaya yang kaya dan unik.

Kisah tutur yang diwariskan secara turun-temurun juga mengungkap fase-fase penting dalam kehidupan Ki Ageng Giring III. Nama mudanya adalah Raden Mas Kertonadi, dan ia disebutkan pernah mengalami masa sulit di bawah kekuasaan Kraton Pajang yang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.

Periode penuh gejolak ini, menurut cerita rakyat, justru membentuk karakter spiritual dan kepemimpinan beliau. Konflik dan tantangan hidup inilah yang mendorongnya untuk memilih jalan sunyi, menekuni laku tapa brata di alas Sodo, jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan, demi mencari pencerahan dan petunjuk Ilahi. "Ini adalah bentuk tanggung jawab kita semua untuk menjaga akar spiritual dan budaya yang telah membentuk watak orang Jawa yang sabar, andhap asor (rendah hati), dan tetap tegar dalam menghadapi zaman,” terangnya.

Pelestarian Warisan dan Kearifan Lokal

Hingga hari ini, semangat Ki Ageng Giring III terus hidup dalam tradisi dan praktik masyarakat setempat. Salah satu wujud nyatanya adalah tradisi “Babad Alas Sodo”, sebuah ritual tahunan di mana masyarakat secara bergotong royong membersihkan dan merawat hutan tempat Ki Ageng Giring bertapa.

Susilo, juru kunci makam Ki Ageng Giring III, menjelaskan makna di balik tradisi ini. Hal tersebut bukan sekadar ritual biasa, tetapi juga bentuk ikhtiar menjaga hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sebagaimana diajarkan oleh Ki Ageng Giring. “ini menegaskan bahwa tradisi ini adalah wujud nyata dari kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan ekologis dan spiritual," tegas Susilo.

Lebih dari itu, peninggalan fisik Ki Ageng Giring III juga masih dapat dijumpai dan menjadi saksi bisu perjalanannya. Masjid Al Huda di Sodo, misalnya, bukan hanya sekadar tempat ibadah, melainkan gambaran betapa masjid tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial selama berabad-abad. "Masjid ini adalah saksi bisu perjalanan panjang dakwah Islam di wilayah ini," kata Susilo,

Di samping makam dan masjid, ada pula Sendang Talang Warih, sebuah sumber mata air yang memiliki nilai historis dan spiritual yang mendalam. Susilo menceritakan bahwa kono Eyang Ki Ageng Giring III menancapkan tongkatnya hingga keluar air, sebagai sarana beliau bersuci atau berwudu. “Keajaiban ini menjadikan Sendang Talang Warih sebagai tempat yang disucikan. menunjukkan betapa tradisi dan keyakinan spiritual masih kuat berakar di masyarakat Sodo,” jelasnya.

Susilo menambahkan bahwa hingga sekarang, air sendang ini masih digunakan oleh masyarakat umum dan para peziarah yang datang untuk mandi dan mengambil air minum, sebagai salah satu sarana memohon berkah kepada Ilahi.

Ki Ageng Giring III adalah figur yang dihormati, dipercaya, dan ajarannya terus diwarisi oleh masyarakat Gunungkidul, bahkan hingga ke lingkungan Keraton Mataram. Kehadirannya terasa dalam setiap ziarah yang tak pernah sepi, dan dalam setiap cerita rakyat yang dilestarikan. "Mengingat dan merawat jejak beliau bukan hanya urusan sejarah semata," pungkas Susilo.