Sukses

Siapa Mukesh Ambani, Orang Terkaya Asia yang Berminat Beli Liverpool?

Liputan6.com, Bandung - Pemilik perusahaan swasta terbesar di India, India Reliance Industries (IRL), Mukesh Ambani, disebut-sebut bakal jadi pemilik baru klub elite Liga Inggris, Liverpool.

Ambani dilaporkan mendekati klub berjuluk The Reds setelah pemilik asli Liverpool, Fenway Sports Group (FSG) memutuskan untuk menjual sahamnya seperti dikabarkan tabloid Inggris, Mirror pada Minggu kemarin.

Uang senilai 94 miliar dolar harus disiapkan Mukesh Ambani untuk membeli klub yang bermarkas di Merseyside itu.

Namun, taipan berusia 65 tahun harus bersaing dengan tawaran dari AS dan UEA, karena FSG dilaporkan dibanjiri dengan banyak tawaran. Sementara, label harga untuk klub telah ditetapkan pada 4 miliar Euro menurut laporan Mirror.

“FSG sering menerima ungkapan minat dari pihak ketiga yang ingin menjadi pemegang saham di Liverpool. FSG telah mengatakan sebelumnya bahwa di bawah syarat dan ketentuan yang tepat, kami akan mempertimbangkan pemegang saham baru jika itu demi kepentingan terbaik Liverpool sebagai klub,” bunyi pernyataan FSG dikutip Liputan6.com.

Ini bukan pertama kalinya Ambani menunjukkan minat pada The Reds. Pada 2010, dia bersama dengan sesama industrialis India Subrata Roy, mencoba membeli Liverpool dari mantan pemiliknya Tom Hicks dan George Gillett.

Namun, FSG mengalahkan mereka saat itu dengan mahar 300 juta Euro atau setara dengan 478 juta dolar pada penawaran saat itu.

Jika Ambani memenangkan saham klub sepakbola paling berharga keempat kali ini, itu akan menjadi permata baru yang sangat besar dalam portofolio olahraganya.

Miliarder tersebut sudah memiliki tim kriket Liga Premier India dan juga telah membantu mendirikan liga sepak bola papan atas di negara tersebut. Selain itu, dia menjadi mitra komersial Federasi Sepak Bola Seluruh India.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Angkat Level India

Ambani merupakan miliarder tersohor. Relliance Industries, perusahaan yang ia pimpin telah dikenal di berbagai penjuru dunia.

IRL merupakan perusahaan yang bergerak di bidang energi, petrokimia, tekstil, hingga telekomunikasi. Alhasil, menjadi sesuatu yang wajar bila Ambani memiliki uang yang berlimpah.

Berdasarkan data yang dihimpun hingga November 2022, Ambani diketahui menjadi orang terkaya kedelapan di dunia. Kekayaan bersihnya mencapai US$ 94,7 miliar.

Minatnya pada klub Merseyside tampaknya masih belum hilang. Penggemar sepak bola India juga mendukung sepenuhnya mengikuti pengambilalihan ini.

Mereka percaya Ambani membeli Liverpool akan mengembangkan sepakbola di India sendiri ke level yang belum pernah terlihat sebelumnya.

3 dari 3 halaman

Bangun Kantor Baru di Singapura

Dilansir dari The Straits Times, Senin (10/10/2022), miliarder asal Mumbai ini telah memilih seorang manajer untuk kemudian bisa mempekerjakan para staf. Nantinya pegawai itu akan mengelola entitas baru dan menjalankan bisnis. Selain itu, keluarga Ambani juga memilih real estat.

Namun, seorang juru bicara Reliance, yang juga mewakili Ambani, enggan berkomentar.

Seperti yang diketahui, Ambani menjadi orang terkaya di Asia yang memilih Singapura untuk mendirikan kantor keluarga.

Perusahaan itu dibentuk untuk mengelola urusan klan kaya dan akan bergabung dengan orang-orang seperti miliarder hedge fund Ray Dalio dan salah satu pendiri Google Sergey Brin.

Singapura telah menjadi pusat yang menarik untuk kantor keluarga berkat pajaknya yang rendah dan keamanannya yang relatif.

Otoritas Moneter Singapura memperkirakan bahwa sekitar 700 sudah ada pada akhir tahun 2021, naik dari 400 tahun sebelumnya.

Akan tetapi, meningkatnya jumlah orang kaya global yang memadati Singapura juga mengakibatkan harga yang lebih tinggi untuk pembelian mobil, perumahan, dan barang-barang lainnya.

Wakil Perdana Menteri Lawrence Wong mengungkapkan dalam sebuah wawancara di Agustus lalu bahwa orang kaya mungkin membayar lebih banyak pajak untuk mendorong pertumbuhan inklusif.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS