Sukses

Tokoh Ludruk Jawa Timur Inspirasi Seniman hingga Sukses di Industri Televisi

Liputan6.com, Jakarta - Ludruk merupakan salah satu warisan kesenian khas Jawa Timur yang hingga saat ini masih lestari. Seni teatrikal ini biasanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Selain itu, cerita dalam seni ludruk bertema kisah perjuangan para pahlawan. Iringan gamelan menjadi pelengkap untuk memeriahkan setiap gelaran ludruk, ditambah materi komedi.

Pada perjalanannya, seni ludruk memiliki beberapa tokoh yang berjasa dalam menyuburkan kesenian tersebut. Lewat Ludruk juga, ada orang mengawali karier di industri siaran televisi.

Penasaran siapa saja tokoh-tokoh tersebut? Mari berkenalan dengan beberapa nama orang yang terkenal dalam kesenian Ludruk dirangkum dari berbagai sumber:

Cak Gondo Durasim

Cak Durasim, lahir di Jombang Jawa Timur, merupakan salah satu tokoh legendaris yang memberikan pengaruh bukan hanya pada seni teater, melainkan juga pada dasar berkesenian untuk para seniman tradisional di Indonesia. Alasan tersebut muncul karena ia melakukan pertunjukan-pertunjukan revolusioner selama masa kolonial.

Ludruk yang dipimpin oleh Cak Durasim menjadi inspirasi media penggugah nasionalisme rakyat pada masa itu untuk melakukan perlawanan pada sistem pemerintahan kala itu. Ludruk Cak Durasim juga pernah mendapatkan sponsor dari Dr Soetomo untuk tampil di Gedung Nasional Indonesia. Namun, Belanda menyadari ancaman dari grup Ludruk Cak Durasim, sehingga mereka melarang grup tersebut untuk tampil mulai tahun 1936.

Cak Bowo

Cak Bowo merupakan penerus dari Cak Durasim. Ia lahir ketika Cak Durasim berada pada masa jayanya ketika memimpin grup ludruk. Cak Bowo pernah bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia dan ikut serta dalam melawan Belanda di Surabaya. Cak Bowo juga bergabung dalam Ludruk Marhaen dan menjadi wajah dari grup ludruk tersebut.

Ludruk Marhaen adalah salah satu grup ludruk yang sering mendapatkan undangan dari Soekarno untuk tampil di Istana Negara. Hal ini dikarenakan grup tersebut kerap mempropagandakan ide politik Soekarno. Perjalanan karier Cak Bowo berakhir pada 4 Mei 1964 karena kecelakaan bus. Bus tersebut dalam perjalanan ke Lumajang untuk pementasan. Cak Bowo meninggal sedangkan empat anggota lainnya luka berat.

 

Saksikan video pilihan berikut ini: 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 2 halaman

Cak Markeso

Pada 1950—1980, nama Cak Markeso cukup terkenal di Surabaya. Nama asli Cak Markeso adalah Nachrowi. Ia lahir di Jombang, tapi kemudian pergi ke Surabaya bersama rombongan ludruk. Uniknya, Cak Markeso dengan Ludruk Garingan-nya memilih tampil sendiri dari rumah ke rumah. Terkadang juga dalam forum-forum khusus.

Kegigihannya dalam membawakan ludruk tunggal ke kampung-kampung mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Pemerintah Surabaya membangun Pendopo Markeso di kampung Ketandan.

Cak Sidik

Cak Sidik (1944—2015) merupakan pemain ludruk senior di Surabaya. Sebelum menjadi pemain ludruk, ia pernah berkarier dalam bidang musik. Kemudian, ia mencoba melakukan saran ayahnya dan melamar di Ludruk Tri Sakti pada tahun 1969. Ludruk tersebut merupakan salah satu grup papan atas dan sering tampil di Taman Hiburan Rakyat, Surabaya.

Pada awal penampilannya di Ludruk Tri Sakti, Cak Sidik berhasil memukau para penonton melalui kidungan-kidungan milik Cak Meler selama hampir satu jam. Setelah itu, Cak Sidik dididik langsung oleh Cak Rukun dan Cak Meler. Setengah tahun kemudian, ia bergabung dengan Ludruk RRI yang menjadi tempatnya mendapatkan puncak popularitas.

Toto Muryadi

Toto Murayadi, atau lebih kita kenal sebagai Tarzan, merupakan salah satu aktor di grup Srimulat. Berdasarkan beberapa sumber, diketahui bahwa sebelum menjadi anggota Srimulat, Toto Muryadi memiliki pengalaman dasar di ludruk ketika menjadi bagian dari grup Lokakarya pada tahun 1967 di Surabaya. Bekal kemampuan yang diasah dalam ludruk itulah yang menjadi modal kesuksesannya di Srimulat.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.