Sukses

Terhimpit Perekonomian, Pasutri di Ogan Ilir Tinggal di Kandang Ayam

Liputan6.com, Palembang - Himpitan ekonomi dan pendapatan yang tak menentu, membuat pasangan suami istri (pasutri) Sulaiman-Nuryati tak mampu membangun rumah layak huni, yang bisa menaungi mereka.

Dengan segala keterbatasan, pasutri di Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan (Sumsel) tersebut, akhirnya memilih tinggal di kandang ayam.

Pasutri yang tercatat sebagai warga Dusun I Desa Teluk Kecapi, Kecamatan Pemulutan Ogan Ilir Sumsel tersebut, tinggal di gubuk yang dinding dan atapnya terbuat dari daun nipah.

Aroma yang tak sedap pun, tercium dengan pekat di dalam gubuk seluas sekitar 12 meter persegi tersebut. Ada beberapa karung berisi ayam, yang digantung di dalam rumah di Kabupaten Ogan Ilir.

Sulaiman (65) mengatakan, dia dan istrinya sudah tinggal di rumah panggung tersebut sejak menikah 7 tahun lalu, karena keterbatasan perekonomian. 

“Kami tinggal sama ayam di sini. Tidur, makan dan masak di sini. Saya tak mampu membangun rumah, jadi tinggal di sini,” ucapnya, Senin (14/6/2021).

Bahkan pasutri tersebut harus menumpang di atas lahan milik warga setempat, untuk mendirikan gubuk reotnya. Kondisi hunian ala kadarnya, membuat Sulaiman dan istrinya harus kebasahan ketika hujan turun dengan derasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka bekerja serabutan. Yaitu menjadi buruh tani, merawat kebun dan sawah milik warga setempat.

“Kadang upahnya dapat Rp20.000 hingga Rp40.000, cukup untuk makan. Kadang tidak sampai segitu, tidak bisa makan,” katanya di Ogan Ilir Sumsel.

Pemberitaan yang masif terhadap kondisi pasutri di Ogan Ilir tersebut, akhirnya viral di media sosial (medsos). Sejumlah pihak dan pemerintah pun, menyalurkan bantuan berupa sembako dan uang tunai ke pasutri tersebut.

 

2 dari 4 halaman

Terhambat Dapat Bantuan

Camat Pemulutan Ogan Ilir Muhammad Zen mengatakan, berdasarkan laporan perangkat Desa Teluk Kecapi, upaya penyaluran bantuan terhadap Sulaiman-Nuryati, sudah telah dilakukan sejak 2019 lalu.

Namun, ada dua kendala utama dalam penyaluran bantuan. Yakni data kependudukan Sulaiman yang belum diperbaharui, serta status kepemilikan lahan tempat tinggal.

Bahkan dari data kependudukan, baik Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK), Sulaiman masih terdaftar warga Desa Pelabuhan Dalam Ogan Ilir. Sementara istri Sulaiman, memang warga Desa Teluk Kecapi Ogan Ilir. Tapi di data KK, Nuryati masih ikut data kependudukan orang tuanya.

"Jadi bagaimana kami mau menyalurkan bantuan, jika data kependudukannya belum diperbaharui. Sedangkan penyaluran bantuan ini harus ikut aturan," ungkapnya.

 

3 dari 4 halaman

Urus Data Kependudukan

Untuk status lahan tempat tinggal Sulaiman dan istrinya, lanjut Zen, turut menghambat mereka mendapatkan bantuan bedah rumah.

Karena dari dinas terkait, juga tidak bisa menganggarkan perbaikan rumah. Karena lahan tempat rumah Sulaiman, merupakan lahan milik orang lain.

“Mengenai bantuan dari alokasi dana desa, tahun kemarin dialokasikan untuk penanganan Covid-19," papar Zen.

Zen berjanji, akan berupaya mengurus data kependudukan Sulaiman dan Nuryati yang jelas, sehingga pasutri tersebut bisa dapat menerima bantuan.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: