Sukses

Nenek Penjual Kembang Kuburan di Palembang, Jadi Tulang Punggung Keluarga di Usia Senja

Liputan6.com, Palembang - Rintikan hujan mengalir di antara sela-sela kain terpal yang berlubang. Air hujan pun menetes ke pakaian Nuryana (80), ketika berteduh di lapaknya seorang diri. Rasa dingin menusuk hingga ke tulang-tulangnya, namun tidak terlalu ia gubris.

Tatapannya kerap mengarah ke deretan kembang kuburan, yang ia jajakan sejak pagi hari. Hingga siang hari, dia hanya mengantongi Rp15.000 dari hasil jualan kembangnya, yang dibeli oleh pelayat yang mengantarkan jenazah dimakamkan di komplek pemakaman tersebut.

Sebagai pedagang kembang kuburan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kandang Kawat Palembang, pemasukan begitu minim di bulan Ramadan. Apalagi nyaris tidak ada peziarah yang datang ke pemakaman saat bulan Ramadan.

Namun ibu satu anak ini tak patah arang. Setiap hari dia tetap menjajakan kembang kuburan dan berharap ada pelayat yang datang membeli dagangannya.

Sehabis hujan, cuaca di Kota Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) tak terlalu membuat Nuryana kegerahan. Terlebih dirinya tetap menjalankan ibadah puasa, meskipun saat sahur, dia hanya makan seadanya.

“Walau bulan puasa, nenek setiap hari berjualan. Biasanya ada saja rezeki yang datang dan tidak bisa diduga-duga,” ucapnya kepada Liputan6.com, Selasa (20/4/2021).

Karena lapak tempatnya berjualan tidak dipungut biaya, dia pun membalasnya dengan rutin datang berjualan serta menjaga pos TPU Kandang Kawat Palembang.

Tubuh kurus dengan balutan kulit yang sudah berkeriput, tak membuat Nuryana gentar untuk mengais rezeki setiap hari.

Kendati di usia sepuh, ternyata dia juga tetap menjadi tulang punggung keluarganya. Dari hasil jualan kembang kuburan, dia harus mencukupi kebutuhan hidup anak dan 5 orang cucunya.

Sempat tergurat kekecewaan di wajahnya, tatkala cucu-cucunya yang sudah dewasa masih belum mendapatkan pekerjaan di Palembang.

 

2 dari 4 halaman

Perjalanan 1 Jam

“Biarlah nenek terus kerja, kalau di rumah saja, tidak betah. Uang yang didapat bisa untuk mencukupi makan sehari-hari, Alhamdulillah,” katanya.

Sambil membungkus beragam jenis kembang ke plastik transparan, dia bercerita tentang kegundahan hatinya setiap berangkat dan pulang berdagang.

Setiap hari, dia harus menempuh perjalanan menggunakan ojek pangkalan dan angkot hingga satu jam lamanya, begitu juga saat pulang.

Ongkos yang dibutuhkannya pun tak tanggung-tanggung. Dia harus merogoh uang sekitar Rp50.000, hanya untuk biaya transportasinya setiap hari.

 

3 dari 4 halaman

Puluhan Tahun Berjualan

“Kalau tidak ada uang ongkos, saya biasanya menumpang ke tetangga. Sering diantarkan hingga ke Kandang Kawat. Tapi saat pulang, harus bisa dapat uang ongkos. Kalau tidak ada, bingung juga mau pulang pakai apa,” ujarnya.

Puluhan tahun dia jalani sebagai pedagang kembang kuburan. Asam garam pun sudah dia rasakan. Mulai dari hanya mendapatkan uang Rp5.000 dalam sehari, hingga banyak pelayat yang memberikan sumbangan ke dirinya.

Sebelum pandemi Covid-19, setiap Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha, dagangannya laris manis. Bahkan dalam sehari, dia bisa mengantongi uang ratusan ribu.

“Lebaran tahun lalu, di awal wabah Covid-19, dagangan saya sepi yang beli. Tapi harus tetap bersyukur, masih tetap bisa bawa pulang uang dan makan untuk anak cucu saya,” ucapnya.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini :