Sukses

Gebrakan Bisnis Ekspedisi untuk Santri di Tengah Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Bangkalan - Banyak bisnis limbung karena corona. Tapi di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, virus flu yang memicu pandemi global ini melahirkan Alba EXpress, sebuah bisnis ekspedisi lokal berbasis di Pulau Madura.

Aturan jaga jarak atau psychal distancing sebagai salah upaya yang efektif mencegah penularan virus yang berasal dari kalelawar dan trenggiling ini, direspon oleh pengurus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan di Kabupaten Sumenep dengan membatasi orangtua menjenguk santri.

Larangan yang diberlakukan tanpa batas waktu ini, menjadi cikal bakal Alba EXpress. Lewat sebuah rapat, majelis kiai Al-Amien memberi tugas kepada seluruh pengurus alumnus yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Al-Amien (IKBAL).

Selama larangan jenguk belum dicabut, para alumnus diminta mengelola pengiriman paket dari wali santri mulai dari Sumenep, Pamekasan, Sampang, hingga Bangkalan.

"Akhirnya kami di Bangkalan rapat dan sepakat membentuk Alba EXpress," kata Ketua Ikbal Bangkalan, Ustaz Fauzi Sakdullah.

Momentum Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriyah pada Jumat, 31 Juli 2020 lalu, disepakati sebagai waktu uji coba perdana Alba EXpress. Ustaz Abdul Somad, alumnus senior yang juga pengurus Ikbal Bangkalan ditunjuk menjadi direktur bersamaan dengan pembentukan Alba EXpress pada 24 Juli 2020.

"Kami berkorban untuk merayakan lebaran di jalan, demi pondok dan wali santri," kenang Somad tentang uji coba perdana pengiriman paket itu.

2 dari 4 halaman

Uji Coba Perdana

Sehari setelah pembentukan, woro-woro digencarkan. Grup-grup WhatsApp dan Facebook menjadi ujung tombak memperkenal Alba EXpress ke Wali Santri.

Untuk mempermudah penyetoran paket, Bangkalan yang terdiri dari 18 kecamatan dibagi menjadi enam zona penjemputan yaitu zona Tanjung Bumi, Klampis, Kota Bangkalan, Burneh, Tanah Merah dan Klampis.

Masing-masing zona menangani penyetoran dari beberapa kecamatan terdekat. Waktu pengiriman disepakati sekali dalam sepekan yaitu setiap Jumat, menyesuaikan hari libur di pesantren. Adapun biayanya ditetapkan antara Rp20 hingga 30 ribu per paket tergantung kecil besarnya ukuran tiap paket.

"Yang paling saya khawatirkan kesiapan armada, kiriman pasti membludak karena pas momen lebaran," tutur Somad.

Kekhawatiran itu benar belaka, kiriman paket memang membludak. Di zona Kota Bangkalan misalnya, antrean paket mengular sejak selesai salat Id. Hingga pukul 10.00 WIB, lebih dari seratus paket terkumpul. Mereka terpaksa memakai truk agar semua paket bisa terbawa hari itu juga.

"Kurang lebih ada 300 paket yang terkumpul di tiap zona," kata Somad.

3 dari 4 halaman

Pengembangan Bisnis

Sebelum dikelola para alumnus, pengiriman paket ke salah satu pesantren terbesar di Pulau Madura itu, umumnya dititipkan lewat bus, sebagian dikelola swadaya oleh wali santri atau dikirim lewat jasa ekspedisi ternama.

Namun banyak masalah muncul. Misalnya, ada kasus paket tak kunjung sampai walau sudah sepekan dikirim. Atau paket terlalu lama di perjalanan hingga saat tiba isinya yang kebanyakan makanan telah basi sehingga tak bisa dikonsumsi.

Ongkos pengiriman yang tak pasti menjadi masalah lain yang dialami para wali santri. Dan semua problem itu teratasi dengan hadirnya Alba EXpress.

"Kami lebih tenang, karena yang ngirim paket alumni, mereka pasti lebih mengerti betapa pentingnya sebuah paket untuk seorang santri," ungkap Fauzi, wali santri asal Desa Jaddih, Kecamatan Socah.

Seperti bisnis baru lainnya, Alba EXpress perlu banyak pembenahan di semua lini, mulai dari manjemen hingga armada agar lebih efektif.

Namun, Ustaz Suwadi, pengelola Alba EXPress lain, melihat selain pembenahan itu, pengembangan bisnis ekspedisi lokal jauh lebih potensial dan terbuka lebar. Karena dalam segala kondisi, usaha yang berhubungan dengan jasa selalu sangat potensial untuk dikembangkan.

"Ke depan kalau pandemi sudah berakhir dan pondok sudah terbuka, Alba express juga bisa mengakomodir wali santri yg mau mengirim anaknya di pondok," kata dia.

4 dari 4 halaman

Simak Video Pilihan Berikut: