Sukses

Apa Kabar Proyek Tol Bandung-Cilacap-Yogyakarta?

Liputan6.com, Cilacap - Mimpi membangun konektivitas pulau Jawa sisi selatan melalui jalur darat semakin dekat dengan kenyataan. Hal ini terkonfirmasi setelah pemerintah kembali memulai tahapan pembangunan jalan tol di selatan Jawa yang akan melintasi Kabupaten Cilacap.

Dari tiga tol yang direncanakan, Tol Bandung-Cilacap lah yang kemajuannya paling signifikan. Pembangunan jalan tol kini sampai pada tahap penentuan trase atau jalur di segmen Pangandaran-Cilacap.

Dari jalur yang rencananya membentang antara Patimuan hingga perbatasan Banyumas-Kebumen, Pemerintah Kabupaten mengusulkan tiga pintu keluar tol di Cilacap.

Pintu keluar pertama di Patimuan yang akan membuka akses ke Cilacap barat. Di tengah, Pemkab Cilacap mengusulkan pintu exit di Sumingkir, Jeruklegi.

Sementara untuk membuka akses di Cilacap timur, diusulkan pintu exit ketiga. Pintu keluar di Patimuan dan Jeruklegi telah disepakati pada rapat koordinasi dengan Kementerian PUPR. Sementara pintu exit tol di timur Cilacap masih dalam tahap usulan.

Dalam rapat koordinasi antara PUPR, Pemda dan pihak ketiga, titik nol jalur tol dimulai setelah Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, yaitu di Patimuan, Kabupaten Cilacap. Dari Patimuan, jalur tol berikutnya menuju Jaruklegi, hingga perbatasan kabupaten.

“Nanti akan ditindaklanjuti dengan yang di lapangan,” kata Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Cilacap, Hamzah Syafrudin.

 

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 5 halaman

Tertunda karena Pandemi Covid-19

Untuk memuluskan rencana ini, pemerintah mengubah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di tingkat provinsi dan kabupaten. RTRW ini yang kemudian menjadi acuan penentuan jalur tol.

"Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) sudah informasinya dimulai. Pembebasan tanah baru akan dilakukan setelah trase sudah dipastikan,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 tak mengubah rencana pembangunan tol selatan Jawa. Pandemi hanya menunda tahapan pembangunan tol dari jadwal yang telah direncanakan.

Hal ini karena proyek pembangunan jalan tol menggunakan dana swasta atau investor. Tentu, akan berbeda jika pembangunan menggunakan dan APBN.

Sebab, banyak proyek dibatalkan karena alokasi anggaran dialihkan untuk penanganan Covid-19.

“Itu kan pembiayaan dunia usaha. Kalau berubah tidak. Mungkin hanya terlambat saja,” kata Hamzah.

Dikabarkan sebelumnya, Cilacap akan dilalui tiga jalan tol, yakni Tol Bandung-Cilacap, Pejagan-Cilacap, dan Yogyakarta-Cilacap. Ketiga tol bertemu di satu titik, yaitu di Kabupaten Cilacap.

3 dari 5 halaman

Kebumen Kepriben?

Sebelumnya Bupati Kebumen, Yazid Mahfudz mengaku sudah mendapatkan informasi mengenai rencana pembangunan tol selatan tersebut. Kebumen adalah daerah di sebelah selatan dan turut dilintasi tol tersebut.

Ia menyambut baik proyek strategis nasional ini. Namun, di sisi lain, ia pun mengkhawatirkan keberlangsungan industri pariwisata dan usaha kecil yang hidup dan banyak ditunjang oleh jalur selatan.

Jalur selatan, bagaimana pun telah memicu tumbuhnya perekonomian Jawa selatan, terutama di Kebumen. Di sepanjang pantainya, berkembang tempat wisata yang tiap tahun dikunjungi ratusan ribu wisatawan.

Keberadaan Tol Jawa Selatan ini, dikhawatirkan akan membuat lunglai wisata selatan Kebumen. Jika tak diantisipasi dengan baik, keberadaan tol justru berpotensi mematikan industri wisata.

Sebab, pengelolaan tol berbeda dengan jalan raya umum. Di jalan umum, pelintas dengan mudah berhenti, atau mampir ke objek wisata. Sedangkan, jalan tol sangat dipengaruhi oleh keberadaan exit tol.

Oleh karena itu, Yazid meminta agar Kementerian PUPR membangun tiga exit tol di wilayah Kebumen, jika tol Yogyakarta-Cilacap terealisasi. Tiga exit tol tersebut untuk menunjang agar Kebumen bisa memperoleh manfaat lebih besar.

"Satu di Ayah, kemudian ada juga di tengah dan timur," katanya.

Menurut dia, keberadaan exit tol itu sangat penting untuk mempermudah akses Kebumen ke wilayah lain. Pasalnya, Kebumen memiliki bentang yang lumayan panjang dan membujur dari barat yang berbatasan dengan Banyumas dan Cilacap hingga ke timur yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

Keberadaan akses akan memicu perkembangan industri. Selain itu, ketersediaan exit tol di titik-titik tersebut juga akan memastikan industri wisata Kebumen tetap berkembang.

Pintu tol memungkinkan pelintas dari luar wilayah bisa mengunjungi tempat wisata dengan mudah. Imbasnya, kunjungan wisata Kebumen berpotensi meningkat. Exit tol dinilai menentukan hidup dan matinya objek wisata.

"Kalau tidak ada exit tolnya wisata kita bisa mati," ucapnya.

 

4 dari 5 halaman

Rest Area di Kebumen

Selain exit tol, bupati meminta ada rest area di Kebumen. Rest area itu untuk memastikan agar masyarakat Kebumen bisa mendapat manfaat langsung dari keberadaan tol ini. Di rest area, Pemkab akan memfasilitasi gerai khusus produk lokal Kebumen. Keberadaan gerai ini setidaknya membuat produk industri lokal Kebumen dikenal semakin luas.

Di lain sisi, keberadaan tol juga akan memicu industri Kebumen. Sebagaimana diketahui, beberapa waktu terakhir, banyak perusahaan manufaktur yang memindahkan pabriknya ke wilayah Jawa Tengah. Alasannya tentu saja biaya operasional yang lebih murah dan ketersediaan tenaga kerja.

Bahkan, Yazid pun mengklaim sejumlah perusahaan yang bergerak dalam berbagai industri menandatangani Letter of Intent (LOI) dengan Pemerintah Kabupaten Kebumen. Mereka hendak berinvestasi di Kebumen mulai 2020 ini.

Salah satunya adalah pabrik garmen. Total proyeksi investasi mencapai triliunan. "Saya sudah menandatangani MoU dengan sejumlah perusahaan manufaktur," dia menjelaskan.

Yazid mengemukakan, Pemkab Kebumen sangat terbuka dengan investasi, baik dalam negeri atau penananam modal asing (PMA). Dia pun berjanji akan mempermudah proses investasi di Kebumen.

Pasalnya, investasi, terutama dalam bidang padat karya seperti garmen, sangat menunjang menurunnya pengangguran. Investasi sangat berpengaruh terhadap pengentasan kemiskinan.

"Bohong kalau angka pengangguran turun tanpa kita berusaha untuk mendatangkan investasi," ucapnya.

5 dari 5 halaman

Menengok Jalan Kuno Lintas Selatan

Cobalah sekali waktu berkendara di Jalur Lintas Selatan-Selatan (JLSS) alias Jalan Daendels saat melintas di Jawa Tengah selatan. Orang bilang, jalan antara Kulonprogo-Kebumen ini bak penggaris, saking lurusnya.

Jika tak ada warung-warung kopi pinggir jalan, atau petani yang tengah menjemur gabah di bahu jalan, barangkali orang akan mengira bahwa jalur ini adalah jalan tol. Namun bukan, ini bukan jalan berbayar. Hanya saja, semenjak masa kolonial, ide besar jalan ini memang dibikin selurus dan selebar mungkin.

Ini adalah jalan legendaris, karena menjadi jalur kuno kerajaan-kerajaan Jawa. Jalan ini menjadi saksi ketika para pedagang, utusan diplomatik, dan pengirim upeti berlalu-lalang, bahkan saat perang Jawa berlangsung pada 1825-1830.

Jalur selatan melipat jarak dan waktu Yogyakarta dengan kota-kota lain di sisi selatan Jawa Tengah. Terkini, jalur ini telah menghubungkan Yogyakarta, Purworejo, Kebumen, dan nyaris menembus Kabupaten Cilacap, wilayah terbarat Jawa Tengah sisi selatan.

Jalan yang bagus tentu saja memicu meningkatnya volume kendaraan yang melintas di jalan ini. Ekonomi pun tumbuh. Kini, kanan dan kiri jalan mulai banyak warung makan hingga oleh-oleh khas Kebumen.

Dalam skala lebih luas, akses jalan selatan bagus juga memicu meningkatnya kunjungan wisata di sejumlah objek wisata. Dahulu, Kebumen mungkin hanya populer oleh Gua Jatijajar, Pantai Ayah, atau Karangbolong.

Namun, kini pantai-pantai lainnya pun memoles diri. Di sisi timur, misalnya, ada Pantai Laguna Lembupurwo. Ada lagi Pantai Suwuk, Menganti, Pecaron, dan sebagainya.

"Berpengaruh. Karena lalu lintas sekarang ramai. Kunjungan ke objek wisata meningkat," ucap Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah (Sekda) Kebumen, Budi Suwanto, Kamis, 5 Desember 2019.

Kondisi ini pantas disyukuri. Musababnya, wilayah selatan Kebumen, sebagaimana kawasan pesisir selatan Jawa lainnya, sebelumnya nyaris tak terjamah pembangunan.