Sukses

Mengejar Keberadaan Anggaran Proyek Pipa Avtur Pertamina Senilai Rp155 Miliar

Liputan6.com, Makassar - Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel) terus memperlebar penyelidikan kasus dugaan korupsi proyek jaringan pipa distribusi avtur dari TBBM Makassar ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin milik PT Pertamina yang belakangan dikabarkan mangkrak.

"Tim sedang mendalami keberadaan pagu anggaran proyek Pertamina tersebut sehingga pelaksanaannya menggunakan dana pinjaman dari tiga bank yang dimaksud," kata Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel), Firdaus Dewilmar di Kantor Kejati Sulsel.

Terpisah, lembaga pegiat anti korupsi turut mendukung Kejati Sulsel agar mendalami ke mana rimbanya pagu anggaran proyek pembangunan jaringan pipa avtur yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) senilai Rp155 miliar tersebut.

"Jika melihat dari hasil penyelidikan seperti yang diungkapkan pihak Kejati, proyek itu dikerjakan dari dana pinjaman. Kalau begitu, pagu anggarannya ke mana. Ini harus dibongkar," ucap Mastan, Ketua Aliansi Peduli Anti Korupsi (APAK) dimintai tanggapannya via telepon, Rabu (10/6/2020).

Ia berharap Kejati Sulsel juga segera memeriksa pihak bank pelat merah yang diketahui turut memberikan pinjaman untuk pengerjaan proyek ratusan miliar yang dimaksud.

"Proyek ini kan sudah dianggarkan negara dan notulen kegiatan anggarannya tentu tercatat. Kok justru menggunakan uang pinjaman luar. Dan parahnya lagi gunakan uang negara yang notabene dari kas Bank Mandiri (bank pelat merah)," tutur Mastan.

Jika nantinya betul Bank Mandiri memberikan kredit dengan jaminan kontrak pengerjaan proyek ratusan miliar milik PT Pertamina yang dimasud, maka kata Mastan, itu keliru.

"Masa bisa kontrak proyek negara dijadikan jaminan kredit. Pengerjaan proyek pembangunan jaringan pipa avtur itu kan jelas pagu anggarannya dan telah melalui proses pembahasan banggar di DPR. Kejati harus usut tuntas yang terlibat di dalamnya," tegas Mastan.

 

2 dari 4 halaman

Kredit Macet Proyek Jaringan Pipa Avtur Pertamina Dijual?

Kredit macet proyek pembangunan jaringan pipa distribusi avtur dari TBBM Makassar ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin milik PT Pertamina dikabarkan dijual ke sebuah perusahaan sirup di Makassar.

Kontrak pekerjaan proyek ratusan miliar milik PT Pertamina tersebut awalnya dijaminkan ke tiga bank untuk mendapatkan kredit. Satu di antaranya ke bank pelat merah.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel), Idil mengaku hasil penyelidikan sementara ditemukan adanya pencairan kredit dari tiga bank yakni Bank Mandiri, BCA, dan Permata dengan menjaminkan kontrak pekerjaan proyek jaringan distribusi pipa avtur dari TBBM Makassar ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang bernilai Rp155 miliar tersebut.

"Terkait kredit macet dari kegiatan itu kemudian dikabarkan dijual ke perusahaan sirup, itu sedang dalam proses penyelidikan mendalam hingga saat ini," ujar Idil saat ditemui di ruangan kerjanya.

Selama penyelidikan berlangsung, kata dia, tim telah memeriksa sejumlah pihak PT Pertamina dan rencananya turut mengangendakan pemanggilan kepada pihak bank yang memberikan kredit.

"Jika nantinya ditemukan ada unsur dugaan korupsinya, tentu kita akan proses lebih lanjut," tegas Idil.

Sebelumnya pihak Pertamina menggemborkan jika pekerjaan proyek pembangunan jaringan pipa distribusi avtur yang menelan anggaran Rp155 miliar itu telah rampung sekitar 80 persen. Meski belakangan diketahui pengerjaan proyek tersebut mangkrak dan hingga saat ini belum dapat difungsikan.

Kepala Regional CEO Sulawesi dan Maluku Bank Mandiri (Persero Tbk), Angga Erlangga Hanafie saat dikonfirmasi mengatakan dirinya belum mengetahui masalah yang dimaksud.

"Sorry banget aku belum ada info tentang hal tersebut," singkat Angga via pesan singkat.

Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel), Firdaus Dewilmar mengatakan pihaknya hingga saat ini masih terus mendalami adanya aroma korupsi pada proyek pembangunan jaringan pipa distrubusi avtur milik PT Pertamina yang telah menelan anggaran ratusan miliar tersebut.

"Semuanya kita akan telusuri. Penyelidikan masih berjalan," ucap Firdaus saat ditemui di Kantor Kejati Sulsel.

Mengenai kabar penjualan kredit macet proyek jaringan pipa distribusi avtur yang dimaksud oleh tiga Bank diantaranya Bank Mandiri, mantan Kajati Gorontalo itu tak mengatakan pihaknya sementara pendalaman.

"Pokoknya semua akan didalami mau kabar kredit macetnya yang dijual hingga keberadaan pagu anggarannya kemana. Tim dalami semuanya," ucap Firdaus.

Manager Comunication PT Pertamina, Hatim Ilwan sempat membantah bila proyek tersebut dikabarkan mangkrak. Menurutnya, pengerjaan proyek yang dimaksud sudah terlaksana 80%.

Adapun kegiatan pembongkaran pipa jaringan yang ditanam di bawah tanah area Bandara, kata dia, itu dilakukan mengondisikan adanya pembangunan perluasan Bandara oleh PT Angkasa Pura.

"Jadi dibongkarnya bukan karena kesalahan spek," singkat Hatim.

 

3 dari 4 halaman

Proyek Diprediksi Difungsikan September 2018

Pihak PT Pertamina sempat menyampaikan jika jaringan pipa distribusi avtur dari TBBM Makassar ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin diproyeksikan mulai dipergunakan pada September 2018.

Roby Hervindo, Area Manager Communication dan Relation Pertamina MOR VII Sulawesi saat itu mengatakan pengerjaan fisik dari jaringan pipa (pipeline) itu sudah mencapai 70% dari total panjang jaringan yang direncanakan sepanjang 22 kilometer.

Jaringan pipa khusus avtur tersebut, kata dia, menghubungkan tangki penyimpanan milik perseroan yang berada di Pelabuhan Makassar dengan Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina yang berada di kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

"Konstruksi fisiknya (pipeline) sudah 70%. Jika tidak ada kendala, diperkirakan September 2018 nanti sudah bisa digunakan untuk distrubusi avtur ke bandara," kata Roby, Kamis 22 Februari 2018.

Ia berharap seluruhnya berjalan sesuai dengan perencanaan tanpa kendala berarti sehingga optimalisasi penyaluran avtur bisa lebih ditingkatkan.

Adapun infrastruktur pipeline itu dipersiapkan, kata dia, tujuannya untuk memangkas durasi distribusi avtur yang selama ini masih menggunakan angkutan truk tangki.

"Sebagai perbandingan, kapasitas distribusi pipeline itu mampu mencapai 200 kilo liter (KL) per jam sedangkan melalui truk tangki dengan kapasitas 245 kiloliter (KL) per empat jam," terang Roby saat itu.

Pembangunan jaringan pipa pun, lanjut dia, sejalan dengan permintaan avtur oleh Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang terus meningkat ekuivalen dengan penerbangan yang semakin aktif.

Kecepatan dalam suplai avtur menjadi hal yang mutlak dilakukan Pertamina agar menekan potensi terjadinya gangguan jadwal penerbangan lantaran keterlambatan pengisian bahan bakar.

"Konsumsi avtur dalam kondisi normal di Bandara Hasanuddin itu secara retara mencapai 600 KL hingga 700 KL per hari," ucap Roby.

Dengan begitu, kata dia, konsumsi avtur mencatatkan grafik peningkatan setiap tahun mengikuti pergerakan pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanudin yang merupakan hub untuk Wilayah Timur Indonesia.

"Kapasitas tangki di Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Sultan Hasanuddin mencapai 8.000 KL sedangkan kapasitas penyimpanan avtur di TBBM Makassar 6.400 KL," Roby menandaskan.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: