Sukses

Dampak Covid-19, Kepiting Kualitas Ekspor Dijual Eceran

Liputan6.com, Kutai Kartanegara - Dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 mulai terasa kuat. Sejumlah nelayan tambak di Kalimantan Timur (Kaltim) terpaksa harus menjual dengan harga murah.

Dampak paling terasa dialami oleh nelayan tambak kepiting. Di beberapa desa di kawasan Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara para nelayan kesulitan menjual kepiting kualitas ekspor.

Sebab, pasar ekspor mereka selama ini menutup diri dari kiriman kepiting. Salah satu tujuan ekspornya adalah Cina.

Di Delta Mahakam ada tiga desa penghasil udang dan kepiting kualitas ekspor. Ketiganya adalah Desa Sepatin, Desa Tani Baru, dan Desa Muara Pantuan yang berada di Kecamatan Anggana.

Sebenarnya, ketiga desa ini termasuk terisolir karena tidak ada akses darat. Selain itu, untuk menuju ke tiga desa tersebut butuh perjuangan karena tidak ada kapal angkutan umum, sehingga harus sewa kapal dengan harga yang mahal.

Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Anggana Dedy Wahyudiansyah menjelaskan, produksi kepiting merupakan produk paling terpukul saat pandemi Covid-19.

“Terdampak yang besar ini kepiting dan sayur mayur, produksi banyak, namun tidak ada pembeli,” kata Dedy, Sabtu (18/4/2020).

Penyemaian bibit dilakukan sejak awal tahun. Sehingga, panennya bertepatan dengan pandemi Covid-19.

“Kalau mereka tahu bakal ada Covid-19, pasti tidak menyemai bibit di tambak,” ujarnya.

Dedy menjelaskan, kepiting kualitas ekspor ini kini dijual eceran lewat media sosial. Sebagian lagi dititip di lapak-lapak pedagang yang masih diijinkan dengan pembatasan jumlah penjual dan pembeli.

“Sekarang kepiting telur itu harganya hanya Rp40 ribu, sedangkan yang bukan kepiting telur, jauh lagi di bawahnya,” papar Dedy.

Padahal untuk pasar lokal, harga kepiting kualitas ekspor ini paling murah dijual Rp120 ribu per kilogram. Harga itu akan semakin mahal jika ukurannya semakin besar.

“Para petambak kepiting itu produksinya lagi banyak sehingga harganya murah karena yang penting cepat habis,” tambah Dedy.

Dedy menjelaskan, untuk produksi udang saat ini belum terganggu pandemi Covid-19. Sebab negara-negara tujuan ekspor udang masih membuka diri. Berbanding terbalik dengan produksi kepiting.

2 dari 3 halaman

Manfaatkan Pasar Online

Pihak Pemerintah Kecamatan Anggana sudah mengupayakan agar hasil pertanian dan budidaya perikanan masih menemukan pasarnya. Salah satunya adalah pasar online.

Bukan lewat aplikasi jual beli online, namun lewat media sosial. Bersama para pemuda di sana, mereka bikin market place di media sosial dan grup-grup aplikasi pesan instan.

“Pembelinya lumayan banyak dan jualan mereka laku meski harganya jatuh,” kata Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Anggana, Dedy Wahyudiansyah.

Meski demikian, tambahnya, para petani dan nelayan tambak tetap terbantu dengan adanya pasa online ini. Apalagi pemesannya ada yang datang dari luar Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Meski harganya jatuh, setidaknya ada yang beli sehingga tidak dibuang sia-sia,” tambahnya.

Untuk pengantaran, pihak kecamatan sudah bekerjasama dengan kelompok pemuda. Mereka menjadi kurir jika sedang tidak masuk kerja.

“Alhamdulillah pemuda di sini kreatif dan inovatif. Mereka juga yang menginisiasi pembuatan pasar online-nya,” sambung Dedy.

Harga pengantaran relatif terjangkau karena memang targetnya bukan keuntungan, namun membantu pedagang dan pembeli. Pedagang atau nelayan yang kesulitan menjual akan menemukan pembeli, pembeli juga tak perlu keluar rumah untuk mendapatkan kebutuhannya.

Syam Sanubari, seorang pemuda di Kecamatan Anggana, adalah inisiator pasar ini. Mereka membentuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) untuk membantu pedagang dan pembeli dalam bertransaksi.

“Kebanyakan anggota kami yang jadi kurir itu pekerja sehingga untuk pengantaran harus bergantian tergantung siapa yang tidak masuk kerja,” kata Syam.

Kelompok ini juga memantau pergerakan pasar dan stabilitas harga. Masyarakat dihimbau untuk tidak khawatir soal kebutuhan sehari-hari.

3 dari 3 halaman

Simak juga video pilihan berikut: