Sukses

Sidak KPPU Temukan Kenaikan Harga Masker Capai 1.000 Persen

Liputan6.com, Medan Temuan mengejutkan saat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah (Kanwil) I melakukan inspeksi mendadak (sidak) di salah satu gudang distributor masker di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Dalam sidak yang dilakukan KPPU di gudang distributor masker Jalan Mojopahit, Kecamatan Medan Baru, ditemukan adanya kenaikan harga masker yang signifikan, yaitu mencapai 1.000 persen.

Kenaikan harga masker tersebut terjadi pasca Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumumkan dua Warga Negara Indonesia (WNI) berstatus ibu dan anak positif virus corona COVID-19.

"Kita sidak, cek monitoring ketersediaan pasokan dan harga masker di Sumut. Kita tahu, hari ini harga masker naik sampai 1.000 persen," kata Kepala KPPU Kanwil I, Ramli Simanjuntak, Kamis (5/3/2020).

KPPU dalam dua bulan terakhir melakukan penelitian apakah ada pelanggaran atau tidak. Dalam sidak kali ini KPPU menemukan adanya lonjakan harga. Dalam pengecekan juga diketahui pasokan memang sangat berkurang dari pabrikan yang ada di Surabaya dan Bandung.

"Sementara ini, penelitian kita, pembuatan masker ada beberapa bahan baku yang harus impor, salah satunya dari China. Mungkin itu penyebabnya, sehingga pasokan berkurang sedangkan permintaannya sangat tinggi," sebutnya.

KPPU mengingatkan kepada distributor masker untuk tidak memaafkan harga jual masker terkait virus corona. Pihaknya memastikan saat ini harga masker di tingkat pabrikan ke distributor berada di angka Rp 100 ribu per kotak. Di tingkat distributor ke pengecer dijual di angka tertinggi Rp 150 ribu.

"Distributor jangan sampai bermain harga. Jangan sampai mengambil keuntungan berlebih. KPPU siap mengambil tindakan hukum jika ada pengusaha melakukan pelanggaran, dan diancam denda maksimal Rp 25 miliar, hingga pencabutan izin usaha," tegasnya Ramli.

Penurunan Pasokan dari Pabrik

Direktur PT Dimas Andalas Makmur, Meliana Manurung menjelaskan, selaku distributor, stok masker di gudang mereka masih ada. Mereka juga masih melayani permintaan dari rumah sakit dan masyarakat.

"Memang ada penurunan pasokan dari pabrik. Ada penurunan di banding sebelumnya. Secara kontinu dari pabrik masih pasok ke kita. Semenjak ada corona, penurunannya sekitar 50 persen," jelasnya.

Diungkapkannya, sejauh ini permintaan masker dari rumah sakit masih normal. Sedangkan peningkatan permintaan terjadi pada masyarakat. Ditegaskan, pihaknya tidak pernah menimbun stok.

"Tetap suplai seperti biasa. Kalau dulu paling mahal Rp 35 ribu, sekarang Rp 125 ribu. Kami layani Sumut dan Aceh," Meliana menandaskan.