Sukses

Bahasa Ibu, Harta Bangsa Indonesia yang Mengandung Kekayaan Batin

Liputan6.com, Jakarta Bahasa yang pertama kali yang dikuasai seorang anak dimulai saat si anak mulai bisa berbicara hingga fasih berbicara dikenal sebagai bahasa Ibu. Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati setiap tahun pada 21 Februari.

Hari Bahasa Ibu Internasional pertama kali dideklarasikan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 17 November 1999 atas usul seorang seorang Bengali. Majelis Umum PBB resmi mengakui hal ini.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa meyakini bahasa ibu penting dilestarikan agar terhindar dari kepunahan. Sejak Oktober 2019, badan bahasa telah memetakan bahasa-bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu masyarakat Indonesia. Jumlahnya kini ada sebanyak 718 bahasa daerah (belum termasuk dialek dan subdialek) yang tersebar di pelosok Tanah Air.

Keanekaragaman bahasa daerah ini menjadikan bahasa daerah rentan punah. Pasalnya, semakin ke sini penduduk Indonesia semakin kehilangan penutur bahasa ibu itu.

"Misal karena ada perang, bencana, dan perkawinan campur. Ada pasangan beda daerah, akhirnya memutuskan menggunakan bahasa Indonesia di rumahnya. Ini menyebabkan anak-anaknya menggunakan bahasa ibu, yakni bahasa Indonesia, bukan daerah asal orangtuanya," ucap Ganjar Harimansyah, Kepala Bidang Pelindungan Bahasa dan Sastra, Pusat Pengembangan dan Pelindungan (BPBP), Rabu, 12 Februari 2020, kepada Liputan6.com.

Pendorong kepunahan bahasa daerah, Ganjar melanjutkan, terjadi karena banyak orang yang mengganti bahasa ibunya dengan bahasa lain yang dianggap lebih kekinian.

Padahal, Ganjar melanjutkan, di dalam bahasa ibu itu terdapat kekayaan batin. Maksudnya, ketika penutur menggunakan bahasa daerah, tidak hanya bisa menyampaikan maksud dan tujuan dari perkataan itu, tetapi bisa juga menyampaikan perasaan yang lebih mendalam.

"Di dalam bahasa Ibu terdapat kekayaan batin. Misal, ketika menyampaikan rasa cinta kepada orang Jawa, lalu menggunakan bahasa Jawa, aku tresno karo kowe, itu lebih mengena dibandingkan menggunakan bahasa Indonesia. Dari situ adanya perbedaan bukan sekadar kata-kata, tetapi penyampaian dari batin," Ganjar menandaskan.

(Nadiyah Fitriyah/PNJ)

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading