Sukses

Heboh Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo

Liputan6.com, Purworejo - "Pidato sedunia....Amerika dan Iran sebaiknya ke Purworejo," demikian budayawan dari studio Mendut, Sutanto, menulis di dinding media sosial, Facebook. Tulisan ini menjadi pengantar sebuah video pidato sebuah deklarasi Kerajaan Agung Sejagat.

Deklarasi dilakukan oleh sepasang suami istri di sebuah bangunan "keraton" yang memiliki sebutan Sinuhun dan Kanjeng Ratu. Deklarasi dilakukan di Desa Pogung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Dalam pidatonya, sang raja bercerita mengenai runtuhnya kerajaan Majapahit. Banyak pengawal berpakaian seperti perwira militer atau polisi. Seperti kerajaan pada umumnya, bangunan keraton itu memiliki singgasana yang ditempati pemimpin mereka dalam nuansa emas, merah, dan putih.

Sinuhun yang menjadi raja itu adalah Totok Santoso Hadiningrat serta Kanjeng Ratu, alias Dyan Gitarja. Berbagai foto dan video yang tersebar di media sosial, sepasang raja dan ratu ini menaiki kuda sambil diiringi para pengikutnya.

"Tugas kami adalah meneruskan Kerajaan Majapahit yang runtuh pada 1518, sekitar 500 tahun yang lalu," kata Totok dalam pidatonya.

Sebelum berpidato, Totok dan Gita dikawal pasukan menggelar pawai atau kirab di Desa Pogung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, sambil membawa bendera. Lalu pada Minggu (12/1/2020) malam, Kerajaan Agung Sejagad ini dan membacakan silsilah kerajaan, dihadiri sekitar 200 orang. Sidang dipimpin oleh Sinuhun Totok, alias Rakai Mataram Agung Jaya Kusuma Wangsa Sanjaya.

Simak kirab dan pidato Raja Kerajaan Agung Sejagad di Purworejo dalam tautan ini.

 

2 dari 3 halaman

Sikap Polisi

Sementara itu, Polres Purworejo bersama TNI dan Pemkab setempat langsung berencana mengklarifikasi munculnya Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan ini.

"Kami mengetahui informasi tersebut, tapi tindak lanjut belum bisa sampai langkah hukum dan kami akan bersama-sama klarifikasi," kata Wakapolres Purworejo Komisaris Andis Arfan Tofani, Senin (13/1/2020).

Konfirmasi itu perlu dilakukan karena belum ada konfirmasi langsung dari pimpinan keraton tersebut. Selain itu, informasi juga masih simpang siur.

 "Kami memang sudah komunikasi dengan camat dan kades setempat tentang hal tersebut dan mereka akan lapor bupati lebih dulu," katanya.

Andis menyampaikan, sementara ini pihaknya memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar agar tidak resah. Keberadaan keraton tersebut, ditandai dengan bangunan semacam pendopo yang belum selesai pembangunannya. Di sebelah utara pendopo, ada sebuah sendang (kolam) yang keberadaannya sangat disakralkan.

Pada lokasi tersebut, juga ada sebuah batu prasasti bertuliskan huruf Jawa, di mana pada bagian kiri prasasti ada tanda dua telapak kaki, dan di bagian kanan ada semacam simbol. Prasasti ini disebut dengan Prasasti I Bumi Mataram.

Kirab dan Wilujengan Keraton Agung Sejagat ini sendiri sudah berlangsung sejak Jumat (10/1/2019) hingga Minggu (12/1/2019).

Data sementara yang masuk ke Liputan6.com, prosesi ini melibatkan 450 orang.

 

3 dari 3 halaman

Siapa Sinuhun?

Sementara itu, hasil penelusuran Liputan6.com menunjukkan bahwa Totok Santosa Hadiningrat pada tahun 2016 pernah menghebohkan publik. Saat itu Totok berani menjanjikan uang ratusan dolar AS tiap bulan.

Uang itu diberikan melalui organisasi bernama Jogjakarta Development Committe (JOGJA-DEC). Bulan Maret 2016, Totok menjabat sebagai Ketua Dewan Wali Amanat Panitia Pembangunan Dunia Untuk Wilayah Nusantara JOGJA-DEC. Totok Santoso Hadiningrat menyebut adanya dana untuk kemanusiaan yang tak ternilai dalam bentuk USD.

Dolar AS itu diklaimnya masih tersimpan di salah satu bank negara Swiss yang disebutnya Esa Monetary Fund alias EMF. Uang itu siap dikucurkan untuk membantu bangsa Indonesia masing-masing USD 50 juta sampai USD 200 juta per bulan, ditambah asuransi USD 100 ribu.

“Uang ini merupakan hak bagi bangsa Indonesia. Namun untuk memperoleh uang tersebut harus memiliki register dan nomor keanggotaan di JOGJA-DEC. Nanti bisa dikirim tiap bulan lewat ATM atau lewat koperasi," kata Totok.

Dalam penjelasannya saat deklarasi Kerajaan Agung Sejagat, Totok menyebut dirinya sebagai Rakai Mataram Agung.

"Kami muncul menunaikan janji 500 tahun runtuhnya kerjaan Majapahit pada tahun 1518," kata Totok di ruang sidang "keraton", Minggu (12/1/2020).

Loading
Artikel Selanjutnya
BPIP: Banyak Pengikut Kerajaan Fiktif karena Terhimpit Ekonomi
Artikel Selanjutnya
Kemendikud: Tak Ada yang Aneh dengan Kemunculan Kerajaan Baru