Sukses

Banjir Lumpur Menutup Jalan Nasional Bandung-Purwokerto di Cilacap

Liputan6.com, Cilacap - Hujan deras yang mengguyur wilayah Cilacap memicu banjir lumpur di Jalan Nasional Lintas Selatan (JLS) jalan penghubung Purwokerto-Bandung, di Cilacap, Minggu (5/1/2020).

Banjir lumpur terjadi di dua titik, yakni di Dusun Ciguling Harjo, Desa Padangjaya, Kecamatan Majenang dan timur pasar Desa Rejodadi (Cimanggu). Akibatnya fatal, kendaraan dari arah Bandung maupun Purwokerto terjebak antrean panjang.

Dan ini bukan kali pertama ruas ini dilanda banjir lumpur. Sebelumnya, pada Desember 2019 dan 1 Januari 2020 lalu, jalan tersebut juga sudah dihantam banjir lumpur.

Seorang warga, Rudianto bilang banjir lumpur kali ini lebih besar dibandingkan pada 1 Januari lalu. Ini terlihat dari ketebalan lumpur yang menutup jalan nasional. Demikian juga dengan limpasan air yang mulai masuk ke halaman rumah warga, tepatnya di selatan pasar.

"Lumpur turun karena hujan deras sekali dari jam dua siang," katanya, kepada wartawan.

Saking besarnya air, selokan alias drainase yang ada di kanan kiri jalan nasional tak mampu menampung air lumpur. Akibatnya, lumpur melimpas ke rumah warga.

Kapolsek Majenang, Kompol Tri Suryo mengatakan kepolisian bersama petugas BPBD, TNI, Damkar, relawan dan warga membersihkan timbunan lumpur yang menutup jalan ini. Ada pula alat berat yang diterjunkan agar jalan cepat bersih dan bisa dilalui.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Penyebab Banjir Lumpur JLS Cilacap

Dia mengungkapkan, banjir lumpur ini disebabkan karena hujan deras yang mengakibatkan lapisan tanah terbawa ke dasar bukit. Kondisi perbukitan yang gundul menyebabkan erosi semakin parah.

“Penebangan secara keseluruhan dan (bukit) gundul. Juga sedang ada tanaman tumpang sari oleh warga. Jika hujan deras akan seperti ini," ucap Tri Sury Irianto.

Menurut dia, pascabanjir lumpur pertama, sebenarnya sudah ada upaya mengurangi risiko banjir longsor. Caranya dengan membuat saluran kecil di bagian atas bukit.

Harapannya air tidak menuju satu titik dan sudah terbagi ke beberapa saluran induk yang ada di sisi timur dan barat. Akan tetapi, sauran itu rupanya tak cukup untuk menampung air dan lumpur yang dimuntahkan perbukitan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPBD Majenang, Edi Sapto Prihono mengatakan banjir lumpur disebabkan kondisi perbukitan yang gundul. Terlebih, tanah gundul ini lantas ditanami palawija sehingga.

Kondisi ini menyebabkan tanah mudah erosi dan longsor. Terlebih, jika kawasan ini diguyur hujan deras.

“Karena tanahnya kan sangat gembur,” kata Edi.

Dia berharap ada penanganan permanen agar banjir lumpur tak terulang. Terlebih, musim penghujan masih panjang.

Loading