Sukses

Pemindahan Ibu Kota Negara, Jokowi Minta Restu Tokoh Adat Kaltim

Liputan6.com, Balikpapan - Presiden Joko Widodo meminta izin tokoh adat dan agama soal pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur (Kaltim). Permintaan izin itu ia sampaikan saat bertemu dengan perwakilan tokoh Kaltim, paguyuban dan organisasi kepemudaan lainnya, di Balikpapan.

Jokowi mengatakan, pemindahan ibu kota negara sudah melalui proses perencanaan panjang. Ia memutuskan lokasi ibu kota terletak diantara dua kota, Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

“Saya meminta izin dahulu atau istilahnya kulo nuwun dalam bahasa Jawa,” kata Jokowi di Balikpapan, Rabu (18/12/2019).

Rencana pemindahan ibu kota, bahkan sudah ada sejak zaman Presiden Soekarno. Demikian pun presiden-presiden berikutnya mengkaji lokasi ideal menggantikan posisi Jakarta.

“Artinya memang ini sudah sebuah perjalanan panjang, keinginan kita untuk memindahkan ibu kota,” ucapnya.

Pemindahan ibu kota dianggap penting guna memeratakan pembangunan Indonesia. Selama bertahun-tahun pembangunan Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Kondisi ini membuat 58 persen pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia berasal dari Pulau Jawa. Sisanya tersebar merata dari Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua.

Selain itu, Jokowi berpendapat pemindahan ibu kota mampu memeratakan sebaran penduduk Indonesia ke Kalimantan. Total penduduk Indonesia sebanyak 267 juta jiwa mayoritas berdomisili di Jawa.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Dukungan Tokoh Kaltim

“Sehingga Jakarta semakin hari tidak semakin longgar tetapi semakin padat,” Jokowi mengungkapkan.

Terkait lahan ibu kota baru, Presiden bilang nanti akan mencakup kurang lebih 193 ribu hektare. Meski demikian, Gubernur Kalimantan Timur sendiri telah menyiapkan lahan sekitar 410 ribu hektare untuk kepentingan jangka panjang.

“Itu memang konsesi-konsesi HTI (hutan tanaman industri) yang sudah diberikan kepada perusahaan dan kita minta kembali karena itu adalah hak milik negara,” ucapnya

Presiden berharap pemindahan ibu kota ini tidak sekadar memindahkan fisik kantor atau gedung pemerintahan dari Jakarta. Dengan pindahnya ibu kota, diharapkan ada sebuah transformasi budaya kerja, sistem kerja, dan pola pikir bangsa.

“Sehingga semuanya nanti dengan kepindahan ini, saya sudah sampaikan kepada Menteri, agar kita install sistemnya. Sehingga waktu masuk birokrasi kita, sistem itulah yang nanti akan memberikan panduan sehingga bekerja kita lebih cepat dalam merespon setiap perubahan-perubahan,” ucapnya.

Presiden mengapresiasi seluruh tokoh di Kalimantan Timur yang mendukung penuh rencana pemindahan ibu kota negara.

“Sekali lagi kami sangat menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh tokoh di Kalimantan Timur yang, saya mendapatkan informasi dari Pak Gubernur, dukungan penuh terhadap kepindahan ibu kota ini,” Jokowi mengungkapkan.